Konten dari Pengguna

NKRI di Ujung Jempol: Ketika Persatuan Ditentukan oleh Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lauren Patricia Sagala tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekuatan diujung jempol kita. Sumber: Ilustrasi bantuan AI
zoom-in-whitePerbesar
Kekuatan diujung jempol kita. Sumber: Ilustrasi bantuan AI

Di era digital ini, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak lagi hanya bergantung pada pidato kebangsaan, upacara bendera, atau pelajaran PPKn. Hari ini, masa depan NKRI juga ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana yakni jempol kita saat menggulirkan layar ponsel.

Media sosial telah menjadi panggung utama kehidupan bermasyarakat. Dari isu politik hingga perbedaan keyakinan, dari kritik terhadap pemerintah hingga konflik horizontal, semuanya tumpah ruah di dunia maya. Ironisnya, ruang yang awalnya dimaksudkan untuk menyatukan justru sering kali menjadi sumber perpecahan. Ujaran kebencian, berita palsu, dan provokasi identitas kini lebih cepat menyebar dibanding semangat persatuan itu sendiri.

Yang lebih mengkhawatirkan, banyak dari kita tak lagi sadar betapa besar dampak satu klik share atau satu komentar penuh emosi. Perpecahan kini tak selalu berwujud perang atau pemberontakan. Ia bisa hadir dalam bentuk saling hujat di kolom komentar, diskriminasi berbasis opini, atau penghakiman publik lewat viral culture.

Namun, media sosial juga bukan musuh. Ia adalah cermin masyarakat kita. Dan justru di sanalah letak harapan: jika media sosial bisa memecah belah, ia juga bisa menyatukan. Gerakan solidaritas, edukasi digital, dan konten positif dari anak muda adalah bukti bahwa jempol bisa menjadi alat pemersatu bangsa.

Kita semua punya peran. Generasi muda, sebagai pengguna media sosial terbesar, punya tanggung jawab moral untuk menjadikan dunia digital sebagai ruang yang memperkuat persatuan. NKRI bukan sekadar simbol atau slogan. Ia adalah hasil perjuangan yang harus dijaga bahkan ketika perjuangannya hanya lewat cara sederhana: berpikir sebelum mengetik.

Di ujung jempol kita, ada kekuatan untuk membangun atau meruntuhkan. Pertanyaannya: kita mau jadi bagian yang mana?

"Jempol kita mungkin kecil, tapi dampaknya bisa sebesar masa depan bangsa."

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, Prodi Teknik Informatika, Universitas Katolik Santo Thomas, Medan.