KKN UNS 307 Memperkenalkan Bagaimana Mengolah Limbah Jagung menjadi Pakan Ternak

Kelompok KKN 307 dari Universitas Sebelas Maret (UNS) yang sedang melaksanakan program pengabdian di Desa Bagor, Sragen.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari KKN 307 UNS Desa Bagor tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sragen – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 307 membawa inovasi baru bagi warga Desa Bagor, Kabupaten Sragen. Melalui kegiatan sosialisasi yang dihadiri oleh 35 warga dari berbagai Rukun Tetangga (RT), tim KKN UNS 307 memperkenalkan metode pengolahan limbah jagung yang melimpah di wilayah tersebut untuk diubah menjadi pakan ternak bernutrisi tinggi.
"Melihat melimpahnya hasil panen jagung di Desa Bagor, kami menyadari ada potensi besar pada limbahnya yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal," ujar Ma'ruf Faadhilah Mufid, Ketua KKN UNS Kelompok 307. "Karena banyak warga di sini yang juga memiliki ternak, kami ingin berbagi solusi praktis agar limbah ini bisa diubah menjadi pakan bernutrisi yang ekonomis dan berkelanjutan. Harapannya, ini bisa menjadi nilai tambah bagi masyarakat desa."
Program ini berfokus pada pemanfaatan bonggol, klobot (kulit jagung), daun, dan batang jagung. Dalam presentasi dari tim KKN, dijelaskan bahwa limbah jagung kering sebenarnya memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik. Bonggol jagung, misalnya, mengandung 32-40% serat kasar dan 2-3% protein kasar. Sementara itu, daun dan klobotnya memiliki protein kasar lebih tinggi, sekitar 7-8%. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengolah limbah ini agar nutrisinya lebih mudah dicerna, meningkat, dan bisa disimpan dalam waktu lama.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim KKN UNS 307 memperkenalkan dua metode utama pengolahan. Metode pertama adalah silase, yaitu sebuah proses pengawetan pakan melalui teknik fermentasi anaerob atau tanpa udara. Keuntungan utama dari metode ini adalah kemampuannya untuk meningkatkan kadar protein kasar pada bonggol jagung dari semula hanya 2% menjadi hingga 5%. Selain itu, pakan hasil silase dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama, mencapai 6 bulan, sehingga menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun.
Proses pembuatan silase pun cukup sederhana. Limbah jagung seperti bonggol, klobot, dan batang dicacah, kemudian disiram dengan larutan aktivasi EM4 Peternakan dan molases (tetes tebu). Setelah dicampur rata, adonan dimasukkan ke dalam wadah kedap udara seperti tong, dipadatkan , dan ditutup rapat selama minimal 7 hari untuk proses fermentasi.
Selain silase, metode kedua yang diperkenalkan adalah pembuatan pelet, yang mengubah limbah jagung menjadi pakan kering berbentuk butiran padat. Prosesnya meliputi pencacahan limbah jagung, lalu dicampur dengan bahan lain seperti dedak atau konsentrat untuk memperkaya nutrisi, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam mesin pelet. Keunggulan pakan berbentuk pelet adalah nutrisinya yang lebih padat, sangat awet, dan mudah untuk disimpan maupun didistribusikan. Tim KKN juga menambahkan bahwa bentuk pelet yang seragam dapat mengurangi perilaku ternak yang suka memilih-milih pakan.
Kegiatan sosialisasi ini disambut dengan antusias oleh warga yang hadir. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan warga Desa Bagor dapat secara mandiri mengolah limbah panen jagung, mengurangi biaya pembelian pakan, sekaligus mengatasi masalah limbah pertanian secara efektif.
