Konten dari Pengguna

Inner Child, Konsep Psikologi yang Masih Sering Disalahartikan

Laurentia Trisna Mawarni

Laurentia Trisna Mawarni

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Airlangga

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Laurentia Trisna Mawarni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi inner child. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi inner child. Foto: Shutterstock

Inner child-ku tersenyum menonton videonya,” “Inner child-ku menangis melihatnya,” familiar bukan dengan kata “Inner child”? Apa arti kata itu sebenarnya?

Selama ini, masih banyak orang yang salah konsep mengenai inner child. Pengertian dari inner child sendiri adalah sifat kekanak-kanakan yang dimiliki seseorang dalam dirinya dan terbawa hingga mereka dewasa.

Dapat digambarkan bahwa inner child adalah sisi kekanak-kanakan dari seseorang yang tinggal dan sembunyi pada tubuh seseorang hingga dewasa.

Inner child juga merupakan buah hasil dari pengalaman, baik positif maupun negatif, yang dialami oleh seseorang di masa kecilnya. Pengalaman-pengalaman tersebut seperti ditinggalkan orang tua, mendapat kekerasan baik verbal maupun fisik saat kecil, pernah melihat orang tua bertengkar, dan sebagainya.

Ilustrasi Perfeksionis. Foto: Shutterstock

Inner child dapat mendorong ataupun menghambat seseorang untuk berkembang tergantung pada cara seorang tersebut menyikapinya. Sayangnya, tidak semua orang sadar bahwa terdapat inner child dalam dirinya.

Apa saja sih tanda inner child di dalam diri seseorang sedang bergejolak? Hal-hal berikut ini harus kita perhatikan karena bisa saja hal-hal berikut menjadi tanda bahwa inner child kita sedang bergejolak:

  • Berusaha menyenangkan semua orang

  • Perfeksionis

  • Selalu merasa rendah diri

  • Kurang percaya diri

  • Merasa sangat bergantung pada orang lain

  • Takut ditinggalkan

Lalu, bagaimana cara menyikapi inner child dengan benar? Jawabannya adalah menyadarinya dan merawatnya hingga sembuh. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari dan menerimanya dalam diri kita.

Kita harus sadar bahwa inner child perlu dicintai. Selanjutnya, kita harus merawat inner child dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan.

Kemudian, kita harus memaafkan apa pun yang telah terjadi dalam hidup kita. Penerimaan terhadap masa lalu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan karena kita tidak dapat mengubah apa pun dari masa lalu, baik itu pengalaman yang menyenangkan maupun menyedihkan.

Oleh karena itu, penerimaan ini pasti perlu waktu yang cukup lama untuk bisa benar-benar selesai dari perasaan mengganjal. Waktu yang lama bukan berarti tidak bisa. Semua hal pasti bisa dilakukan jika ada kemauan dari dalam individu untuk melakukannya.

Mengerti, memahami, mendengarkan, dan menyembuhkan inner child yang terluka memang perlu melalui beberapa proses yang panjang, juga melelahkan.

Mengenal diri sendiri butuh waktu seumur hidup. Itulah mengapa terkadang kita sulit memahami diri kita sendiri. Namun, dengan pengetahuan dan kesadaran yang cukup mengenai betapa pentingnya kita mengenal diri kita sendiri akan sangat membantu kita untuk mengetahui hal apa yang ada dalam diri yang harus kita perbaiki atau rawat, salah satunya adalah menyadari keberadaan inner child.

Komunikasi adalah cara lain yang paling efektif dalam proses penyembuhan inner child. Berkomunikasi dengan inner child dapat sangat membantu kita untuk memahami apa yang dibutuhkan oleh inner child sehingga kita bisa memberi perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkannya selama ini serta menyembuhkan luka yang selama ini terpendam.

Keberadaan inner child tak selalu menjadi penghalang bagi seseorang karena pengalaman masa lalu juga dapat dijadikan pembelajaran agar kita tidak terjatuh dalam lubang yang sama.

Untuk itu, mencoba berdamai dan hidup berdampingan bersama inner child dengan merawatnya merupakan pilihan baik untuk mencapai hidup yang lebih tenang, nyaman, dan sejahtera. Sekarang, sudah lebih paham kan mengenai apa itu inner child? Jangan salah konsep lagi ya!