Konten dari Pengguna

Senin-Jumat telur Medan masuk ke Aceh, Sabtu-Minggu telur Aceh masuk ke Medan

Lazuardi Imam Pratama

Lazuardi Imam Pratama

Keluarga Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK, Banda Aceh.

·waktu baca 7 menit

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lazuardi Imam Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Kumparan

“Masyarakat mana pun tidak akan makmur dan bahagia jika mayoritas anggotanya miskin dan menyedihkan.” – Adam Smith

Di meja warung kopi di sudut Kota Banda Aceh, obrolan tentang telur bisa jadi lebih filosofis dari pada diskusi panel yang diselenggarakan di ballroom hotel mewah. “Senin sampai Jumat Telur Medan masuk Aceh, Sabtu sampai Minggu telur Aceh masuk Medan,” kata seorang abang-abang sambil menyeruput kopi sanger, separuh serius, separuh satire.

Ironisnya, kalimat ini bukan sekadar lucu-lucuan setengah vulgar; ia menggambarkan realitas ekonomi daerah kita yang sedang mengambang setengah matang.

Anekdot ini menggambarkan dua hal penting yang selama ini menjadi lanskap masalah ekonomi di Aceh. Pertama, ketergantungan ekonomi Aceh terhadap Provinsi Sumatera Utara untuk kebutuhan pokok dan logistik. Kedua, kebiasaan warga Aceh khususnya dari kota-kota besar seperti Banda Aceh, Lhokseumawe dan Meulaboh yang kerap mencari hiburan, belanja, atau bahkan sekedar menghabiskan waktu akhir pekan ke Medan, karena dianggap lebih lengkap, variatif, dan modern.

Jadi, selain telur dan logistik yang masuk dari Medan ke Aceh, di akhir pekan kita akan disuguhi dengan fenomena arus balik: orang Aceh berbondong-bondong ke Medan, memindahkan uang dari rekening pribadi ke rekening penampungan milik mall, restoran, dan tempat hiburan. Dalam perspektif siklus ekonomi, ini artinya kita boros keluar, namun minim pemasukan ke dalam.

Ketergantungan Ekonomi: Telur Sebagai Simbol

Aceh, dengan segala kekayaan alam, sejarah perjuangan, dan semangat keislamannya, ternyata belum sepenuhnya mampu berdikari secara ekonomi. Menurut data Dinas Peternakan Aceh, dari kebutuhan harian sekitar 1,3–1,5 juta butir telur ayam ras, produksi lokal hanya mampu memenuhi sekitar 100.000 butir per hari, atau sekitar 7,7% dari total kebutuhan. Artinya, lebih dari 90% telur yang beredar di Aceh berasal dari luar provinsi, terutama Sumatera Utara.

Hal yang sama terjadi pada produk pangan lainnya seperti daging ayam, sayur-mayur, hingga buah-buahan. Bahkan untuk ketersediaan air galon dan gas elpiji pun, ketergantungan dengan provinsi tetangga masih cukup tinggi. Hal ini menunjukkan lemahnya infrastruktur produksi dan distribusi bahan pokok antar kota dalam provinsi. Belanja masyarakat Aceh untuk kebutuhan telur dan ayam potong dari Sumatera Utara diperkirakan mencapai Rp2,6 triliun per tahun. Sebuah angka yang besar, tapi semuanya menghambur ke luar Aceh.

Kebiasaan ‘Rekreasi ke Medan’ dan Kebocoran Ekonomi

Selain barang, banyak juga uang orang Aceh yang “mengalir” ke Medan dalam bentuk gaya hidup. Di akhir pekan, masyarakat Aceh berplesir ke Medan untuk menonton bioskop, makan di restoran franchise, belanja di pusat perbelanjaan, bahkan untuk memeriksakan kesehatan ke rumah sakit swasta.

Fenomena ini menandakan dua hal: daya beli masyarakat Aceh sebenarnya potensial tapi tidak tertampung secara lokal, dan lingkungan usaha belum cukup ideal untuk menarik investor membuka bisnis ritel, hiburan, atau layanan modern di Aceh.

Aceh sebenarnya memiliki kekayaan alam yang tidak bisa dianggap sepele. Dari sektor kelautan, pertanian, hingga pariwisata, semua punya peluang tumbuh jika dikelola dengan baik. Luas wilayah laut Aceh mencapai 295.370 km². Komoditas unggulan seperti kopi Gayo, nilam Aceh Besar, pala Aceh Selatan, ikan tuna dan udang vaname punya nilai ekonomis yang sangat tinggi.

Menurut BPS, pertumbuhan ekonomi Aceh tahun 2024 mencapai 4,66%, meski tercatat naik dari tahun sebelumnya. Tapi dibandingkan provinsi lain, Aceh masih tertinggal. Fakta ini tersaji bukan karena kurangnya sumber daya, tapi karena kesalahan dalam mengelola.

Peran UMKM dan Gairah Kaum Muda

UMKM telah menjadi motor penggerak utama ekonomi lokal. Lebih dari 90% pelaku usaha di Aceh masuk dalam kategori mikro dan kecil. Kaum muda, yang dulunya berharap pada sektor ekonomi formal, kini mulai merambah ke dunia usaha kreatif dan digital.

Di Banda Aceh, kita sudah bisa melihat geliat kopi lokal yang naik kelas, kuliner Aceh dengan branding modern, hingga marketplace digital untuk kerajinan khas daerah. Semua gejala positif tersebut membutuhkan dukungan berupa pelatihan, akses modal, dan regulasi yang memudahkan.

Banda Aceh: Ibu Kota, Barometer, dan Simbol Harapan

Sebagai ibu kota provinsi, Banda Aceh memiliki peran yang sangat vital. Ia bukan hanya menjadi pusat administrasi pemerintahan, tetapi juga etalase yang mencerminkan wajah Aceh secara keseluruhan.

Apa yang terjadi di Banda Aceh akan menjadi parameter bagaimana orang luar melihat potensi di Provinsi Aceh. Jika Banda Aceh maju, modern, ramah investasi, dan nyaman untuk hidup serta berusaha, maka citra seluruh provinsi ikut terangkat. Sebaliknya, jika pertumbuhan ekonomi Banda Aceh stagnan, melekat dengan citra rumit urus izin usaha, jalan yang rusak, dan tidak ramah terhadap investasi, maka investor akan mundur sebelum sempat bertamu.

Dinas Penanaman Modal dan PTSP Banda Aceh mencatat sekitar Rp193 miliar investasi masuk ke kota ini pada triwulan I 2024. Angka ini bisa naik tajam bila sektor usaha digarap serius dan birokrasi bisa dipangkas.

Tidak berlebihan jika harapan masyarakat Banda Aceh dititipkan kepada kepala daerah yang baru yang mengusung konsep pemerintahan kolaboratif: agar mampu menjadikan Banda Aceh sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi, usaha lokal, dan ramah investor.

Menjaga Citra Banda Aceh dan Aceh sebagai Daerah Ramah Investasi

Bicara soal pertumbuhan ekonomi, tentu tak bisa lepas dari satu kata kunci: kepercayaan. Dan di balik kepercayaan, ada dua unsur utama yang harus dijaga: stabilitas dan citra.

Banda Aceh, sebagai ibu kota provinsi, punya tanggung jawab yang lebih luas dari pada sekadar mengatur lalu lintas dan menata trotoar. Ia adalah cermin dari keseluruhan Provinsi Aceh. Wajah yang dilihat pertama kali oleh investor, diplomat, pelancong, dan siapa pun yang ingin mengenal daerah ini lebih dekat.

Jika wajah tersebut dirasa hangat, bersahabat, bersih, dan progresif, maka Aceh akan dinilai sebagai tempat yang layak untuk ditanami harapan. Namun jika yang tampak justru benang kusut, konflik yang tak kunjung selesai, atau kesan terlalu tertutup, maka Aceh akan dicap sebagai daerah yang sulit diakses, tidak terbuka, dan berisiko tinggi bagi penanaman modal.

Itulah mengapa, menjaga citra kota dan daerah sebagai wilayah yang ramah investasi bukan sekadar kerja humas pemerintah, tapi kerja kolektif dari pejabat daerah, pelaku usaha, hingga warganya sendiri. Ekonomi yang kuat tidak dapat dibangun dari balik tembok tertutup. Ia tumbuh dari kepercayaan, kolaborasi, dan semangat keterbukaan yang akan mengantarkan Aceh keluar dari jurang kemiskinan.

Membangun citra sebagai daerah “open for business” tidak harus mengorbankan nilai-nilai Syariat Islam atau norma budaya Aceh. Yang dibutuhkan oleh Aceh adalah cara pandang yang inklusif, komunikatif, dan solutif. Pesan tersirat bahwa Aceh adalah rumah yang aman bagi siapa pun yang ingin tumbuh bersama—bukan hanya dalam doa, tapi juga dalam pengembangan dunia usaha.

Realita ekonomi modern sangat ditentukan oleh tolak ukur persepsi. Banyak kota dan negara berkembang tidak hanya karena sumber daya alamnya, tapi karena mereka berhasil membangun kepercayaan.

Banda Aceh bisa belajar dari kota seperti Mataram, Makassar atau Yogyakarta, yang dengan keterbukaan, keramahan budaya, dan pelayanan publik yang efisien, berhasil menjadi magnet investasi dan wisatawan.

Dalam cakupan provinsi, Aceh memiliki semua bahan bakunya: lokasi strategis di jalur pelayaran internasional, kekayaan budaya yang khas, SDM muda dan religius, serta sumber daya alam yang melimpah. Namun jika tidak dikemas dan dikomunikasikan dengan baik, potensi ini hanya akan menguap bersama asap dari gelas sanger yang diseruput anak muda Aceh.

Kita semua tahu, lapangan kerja tidak bisa terus bergantung pada sektor formal seperti pemerintahan. Pemerintah hanya mampu menyerap sebagian kecil dari angkatan kerja. Solusinya? Mendorong sektor swasta dan investasi produktif. Untuk itu, Aceh harus mampu membangun citra sebagai daerah yang menggoda, bukan wilayah miskin yang temaram dan gelap gulita. Semakin banyak investor yang percaya pada Aceh, semakin banyak industri yang bisa tumbuh, semakin hidup ekonomi lokal, semakin kuat pula ketahanan sosial kita.

Bayangkan jika dalam 5 tahun kedepan, kita tidak lagi mengeluh tentang ketergantungan pasokan kebutuhan pokok dari Medan, atau gerah karena mendengar cerita orang Aceh yang ramai-ramai belanja ke mall di kawasan Delitua. Tapi yang kita dengar dan ceritakan adalah tentang kejayaan Aceh yang mampu memenuhi kebutuhan perut masyarakatnya sendiri, menciptakan peluang sendiri, dan menjadi magnet ekonomi bagi provinsi sekitarnya.

Anekdot telur bisa tetap ada, otapi dengan narasi berbeda: bahwa telur lokal Aceh sudah ada di rak supermarket Medan, Jakarta, bahkan Singapura. Bahwa Banda Aceh bukan hanya kota sejarah, tapi juga pusat inovasi, bisnis, dan hiburan.

Saya jadi teringat dengan ungkapan ekolog sosial Peter Drucker, “Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakan perubahan.” Karena perubahan itu mirip seperti telur: kalau dibiarkan terlalu lama akan busuk. Tapi kalau dirawat dan ditetaskan, akan jadi awal kehidupan baru yang penuh harapan.