Konten dari Pengguna

The Price of Broken Trust

Lazuardi Imam Pratama

Lazuardi Imam Pratama

Economic Enthusiasts

·waktu baca 12 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lazuardi Imam Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi

“It was the best of times, it was the worst of times.”

Charles Dickens membuka A Tale of Two Cities dengan kalimat yang menggambarkan sebuah zaman ketika harapan dan kecemasan hidup berdampingan. Sebuah masa yang menjanjikan perubahan, tetapi sekaligus menyimpan tanda-tanda keruntuhan.

Kita hidup di sebuah negeri yang diberkahi kekayaan alam, pasar domestik yang besar, dan posisi strategis dalam perekonomian global. Dari nikel di Sulawesi hingga batu bara di Kalimantan, dari perkebunan di Sumatra hingga potensi energi terbarukan yang tersebar di sepanjang archipelago nusantara, Indonesia memiliki modal besar untuk membangun kemakmuran. Populasi yang melampaui 280 juta jiwa juga menawarkan pasar yang sulit diabaikan oleh entitas mana pun yang ingin tumbuh di Asia Tenggara.

Namun, kekayaan memiliki paradoksnya sendiri. Sebuah bangsa bisa memiliki begitu banyak hal untuk ditawarkan, tetapi tetap kesulitan meyakinkan dunia bahwa masa depannya layak diperhitungkan.

Di sinilah persoalan Indonesia menjadi menarik sekaligus mengkhawatirkan. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih berada di atas lima persen, tekanan terhadap rupiah, kegelisahan pasar keuangan, dan ketidakpastian arah kebijakan mulai mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar. Seberapa besar kepercayaan yang masih dimiliki dunia investasi terhadap outlook ekonomi Indonesia?

Pertanyaan ini penting karena kepercayaan memiliki konsekuensi nyata. Ia memengaruhi keputusan investor untuk membangun pabrik, perusahaan untuk merekrut tenaga kerja, dan pemilik modal untuk mempertahankan asetnya di suatu negara.

Dalam ekonomi, kepercayaan memang tidak memiliki kolom tersendiri dalam laporan produk domestik bruto. Namun, ketika ia mulai terkikis, dampaknya dapat menjalar ke mana-mana.

Angka dan kegelisahan tumbuh paralel

Di atas kertas, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan sebesar 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Sepanjang semester pertama, ekonomi tumbuh 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut tentu patut diapresiasi. Di tengah ketidakpastian global, mempertahankan pertumbuhan di atas lima persen bukan perkara sederhana. Konsumsi rumah tangga masih bergerak, investasi tetap berlangsung, dan aktivitas produksi belum kehilangan momentumnya.

Namun, ada pertanyaan yang perlu diajukan lebih jauh. Seberapa sustain pertumbuhan tersebut, dan seberapa besar manfaatnya dirasakan oleh masyarakat?

Pada triwulan II 2026, konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen secara tahunan. Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen dan pembentukan modal tetap bruto, yang menggambarkan investasi dalam aset produktif, meningkat 6,87 persen.

Perbedaan laju tersebut memberi gambaran mengenai peran belanja pemerintah dalam menopang aktivitas ekonomi. Stimulus fiskal dapat membantu menjaga permintaan, terutama ketika dunia usaha dan rumah tangga menghadapi ketidakpastian. Namun, dalam jangka panjang, pertumbuhan memerlukan investasi produktif yang berkelanjutan, peningkatan produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja dengan upah yang layak.

Sebab, pertumbuhan ekonomi pada akhirnya harus terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ia seharusnya tercermin pada daya beli yang lebih baik, peluang kerja yang lebih luas, dan dunia usaha yang semakin percaya diri melakukan ekspansi.

Ketika angka makroekonomi terlihat sehat, tetapi pelaku usaha semakin berhati-hati dan rumah tangga semakin selektif membelanjakan uangnya, kita perlu memeriksa ulang apa yang sedang terjadi di balik catatan statistik.

Pertumbuhan adalah kabar tentang apa yang telah dihasilkan. Kepercayaan memberi petunjuk mengenai apa yang mungkin terjadi berikutnya.

Dalam lanskap investasi, uang bergerak dengan jujur mengikuti perhitungan. Ia mencari tempat dengan prospek keuntungan yang menarik, risiko yang dapat dikelola, dan aturan main yang cukup jelas untuk dijadikan dasar mengambil keputusan.

Ujian Kepercayaan untuk Indonesia

Dalam dunia investasi, uang bergerak dengan jujur mengikuti perhitungan. Ia mencari tempat dengan prospek keuntungan yang menarik, risiko yang dapat dikelola, dan aturan main yang cukup jelas untuk dijadikan dasar mengambil keputusan.

Perusahaan multinasional dapat membangun fasilitas produksi di Indonesia selama peluangnya menjanjikan. Dana global dapat membeli saham dan obligasi domestik selama imbal hasilnya sepadan dengan risiko yang ditanggung. Namun, ketika pertimbangan tersebut berubah, modal memiliki banyak pilihan untuk berpindah.

Pada 16 Oktober 2026, MSCI mengumumkan kemungkinan mengklasifikasikan ulang pasar saham Indonesia menjadi standalone market, sebuah kategori di luar kelompok pasar berkembang yang selama ini menjadi acuan banyak investor global. Persoalan yang disorot berkaitan dengan aksesibilitas pasar, transparansi kepemilikan saham, dan kepercayaan terhadap struktur pasar.

Pengumuman tersebut memicu kegelisahan karena indeks MSCI digunakan oleh banyak pengelola dana internasional dalam menentukan alokasi investasinya. Perubahan klasifikasi berpotensi mendorong dana yang mengikuti indeks untuk menyesuaikan portofolio, sementara investor aktif dapat mengurangi eksposur mereka terhadap saham Indonesia.

Risikonya cukup jelas. Tekanan jual dapat meningkat, likuiditas pasar menurun, dan perusahaan menghadapi biaya pendanaan yang lebih mahal. Ketika pasar modal kehilangan kedalaman, kemampuan perusahaan memperoleh pembiayaan untuk ekspansi juga dapat ikut terpengaruh.

Dalam keterangannya pada Oktober, Bank Indonesia mengungkapkan bahwa pengumuman MSCI turut memicu arus keluar dari pasar obligasi. Arus keluar gabungan dari saham dan obligasi pada hari pengumuman diperkirakan mencapai sekitar Rp5 triliun.

Bank Indonesia menyebut dampaknya masih dapat dikelola. Penilaian ini penting untuk menjaga perspektif agar tekanan pasar tidak langsung ditafsirkan sebagai keruntuhan ekonomi. Meski demikian, peristiwa tersebut memperlihatkan betapa cepatnya perubahan persepsi dapat memengaruhi pergerakan modal.

Kita juga perlu membedakan investasi portofolio dari investasi langsung asing. Keduanya memiliki karakter berbeda. Dana portofolio dapat berpindah dalam waktu singkat, sedangkan pembangunan pabrik, fasilitas pengolahan, dan infrastruktur membutuhkan komitmen jangka panjang.

Data Kementerian Investasi menunjukkan realisasi investasi nasional pada triwulan III 2026 mencapai sekitar Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6 persen secara tahunan. Investasi langsung asing bahkan meningkat sekitar 27,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun investasi domestik mengalami penurunan 7,5 persen.

Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menarik bagi investor yang mencari peluang produktif. Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa modal asing sedang meninggalkan Indonesia secara menyeluruh.

Akan tetapi, kenaikan investasi langsung tidak menghapus kebutuhan untuk memperbaiki kepercayaan pasar keuangan. Keduanya mengukur hal yang berbeda.

Bahaya terbesar mungkin muncul ketika proyek yang sedang berjalan tetap diselesaikan, tetapi rencana ekspansi berikutnya mulai dialihkan ke negara lain. Dampaknya tidak langsung terlihat dalam satu laporan statistik. Ia baru terasa beberapa tahun kemudian, ketika negara pesaing memiliki pabrik baru, teknologi baru, dan lapangan kerja yang seharusnya bisa tercipta di sini.

Rupiah dan harga dari sebuah ketidakpastian

Pada 27 Oktober 2026, nilai tukar rupiah tercatat Rp18.169 per dolar AS, melemah 0,61 persen dibandingkan posisi akhir September.

Tekanan tersebut berlangsung di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat, dan perubahan sentimen investor terhadap aset Indonesia.

Pelemahan rupiah bukan fenomena yang dapat dijelaskan hanya melalui kondisi domestik. Ketika suku bunga dan imbal hasil aset Amerika Serikat menarik bagi investor, arus modal global dapat bergeser ke dolar. Ketegangan geopolitik juga mendorong sebagian pelaku pasar mencari aset yang dianggap lebih aman.

Namun, kondisi global hanya satu bagian dari keseluruhan cerita. Ketahanan sebuah mata uang juga dipengaruhi oleh kredibilitas kebijakan, kondisi neraca eksternal, dan keyakinan investor terhadap prospek ekonomi negara yang menerbitkannya.

Indonesia masih membutuhkan impor untuk memenuhi berbagai kebutuhan industri, mulai dari bahan baku dan mesin hingga minyak mentah serta produk BBM. Ketika rupiah melemah, biaya pembelian barang-barang tersebut dalam mata uang domestik cenderung meningkat.

Perusahaan kemudian menghadapi pilihan yang sulit. Mereka dapat menyerap kenaikan biaya dan menerima margin keuntungan yang lebih tipis, atau menaikkan harga jual untuk mempertahankan profitabilitas.

Bagi rumah tangga, tekanan itu dapat muncul dalam bentuk kenaikan harga barang, biaya transportasi, dan berkurangnya daya beli.

Memang, sebagian eksportir memperoleh keuntungan dari rupiah yang lebih lemah karena pendapatan mereka dalam dolar AS menjadi lebih besar ketika dikonversi ke mata uang domestik. Namun, manfaat tersebut tidak dirasakan secara merata, terutama oleh industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Bank Indonesia masih memiliki sejumlah penyangga penting. Cadangan devisa Indonesia mencapai US$146,3 miliar pada akhir September 2026, setara dengan pembiayaan sekitar 5,3 bulan impor. Neraca perdagangan Agustus juga mencatat surplus US$3,55 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki kapasitas untuk menghadapi tekanan eksternal. Pelemahan rupiah belum cukup untuk menyimpulkan bahwa krisis mata uang sedang berlangsung.

Meski begitu, stabilitas ekonomi tidak bisa diperoleh dengan hanya mengandalkan intervensi bank sentral. Kebijakan moneter dapat membantu mengendalikan volatilitas, tetapi daya tahan jangka panjang membutuhkan struktur ekonomi yang lebih kokoh, produktif, arus devisa yang sehat, dan iklim investasi yang mampu menarik modal secara berkelanjutan.

Rupiah pada akhirnya mencerminkan banyak hal sekaligus. Ia dipengaruhi oleh kondisi dunia, tetapi juga menjadi cermin bagaimana pasar menilai masa depan Indonesia.

Negeri kaya energi yang masih rentan

Indonesia memiliki batu bara, gas alam, dan potensi energi terbarukan yang besar. Namun, kebutuhan minyak domestik serta ketergantungan pada impor produk BBM membuat perekonomian tetap terpapar gejolak harga energi internasional.

Ketika harga minyak meningkat, biaya pengadaan energi dapat ikut naik. Jika rupiah pada saat yang sama melemah, beban tersebut semakin besar dalam mata uang domestik.

Pemerintah kemudian menghadapi dilema yang tidak sederhana. Mempertahankan harga BBM bersubsidi membantu melindungi daya beli masyarakat, tetapi dapat meningkatkan kebutuhan ongkos subsidi dan kompensasi ketika biaya pengadaan melonjak. Sebaliknya, penyesuaian harga dapat menambah beban rumah tangga dan dunia usaha.

Tekanan energi juga dapat mempersempit ruang fiskal. Anggaran yang semakin banyak digunakan untuk meredam kenaikan biaya energi berpotensi mengurangi fleksibilitas pemerintah dalam membiayai infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan program produktif lainnya.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa ketahanan energi jauh lebih luas daripada ketersediaan sumber daya alam.

Sebuah negara dapat menjadi produsen batu bara besar, tetapi tetap rentan terhadap harga minyak dunia. Negara dapat memiliki cadangan mineral yang melimpah, tetapi kesulitan membangun industri bernilai tambah tinggi apabila pasokan energi, infrastruktur, dan pembiayaan tidak memadai.

Hilirisasi mineral memang membuka peluang besar bagi Indonesia. Namun, keberhasilan strategi tersebut bergantung pada kepastian investasi, ketersediaan teknologi, efisiensi produksi, dan kemampuan menciptakan nilai tambah yang bertahan dalam jangka panjang.

Kekayaan alam seharusnya menjadi fondasi bagi kemandirian ekonomi. Jika pengelolaannya justru membuat negara terus terpapar gejolak harga komoditas, itu berarti potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

Harga yang dibayar ketika kepercayaan rusak

John Maynard Keynes, melalui pemikirannya mengenai ekspektasi dan animal spirits, mengingatkan bahwa keputusan investasi tidak selalu lahir dari perhitungan matematis yang sempurna. Ada unsur keyakinan mengenai masa depan yang ikut menentukan apakah seseorang berani menanamkan modalnya.

Seorang investor yang sedang mempertimbangkan pembangunan pabrik di Indonesia akan menghitung banyak hal. Selain melihat ukuran pasar, biaya tenaga kerja, ketersediaan bahan baku, dan peluang keuntungan. Ia juga mempertimbangkan kepastian hukum, konsistensi regulasi, kualitas birokrasi, serta risiko perubahan kebijakan.

Jika semua faktor tersebut menghasilkan prospek yang menarik, modal akan masuk. Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat dan negara pesaing menawarkan kondisi yang lebih meyakinkan, keputusan untuk menunda atau memindahkan investasi menjadi masuk akal. Inilah alasan mengapa tata kelola memiliki konsekuensi ekonomi yang sangat nyata.

Investor tidak menuntut sebuah negara bebas dari risiko. Mereka membutuhkan aturan yang jelas, proses yang transparan, dan kepastian bahwa keputusan bisnis tidak akan diperlakukan secara sewenang-wenang.

Perubahan kebijakan tetap diperlukan ketika keadaan berubah. Namun, perubahan yang mendadak, tidak konsisten, atau sulit dijelaskan secara empiris dapat meningkatkan biaya yang harus ditanggung dunia usaha.

Ketika kepercayaan terkikis, kerugiannya sering kali tidak terlihat secara langsung. Tidak ada statistik yang secara sempurna mencatat berapa banyak perusahaan yang membatalkan ekspansi karena meragukan arah kebijakan. Tidak ada laporan bulanan yang mampu menghitung seluruh lapangan kerja yang gagal tercipta akibat sebuah investasi dialihkan ke negara lain. Padahal, di situlah biaya terbesarnya.

Sebuah pabrik yang tidak pernah dibangun tidak akan muncul sebagai penurunan produksi. Lapangan kerja yang gagal tercipta tidak akan tercatat sebagai pemutusan hubungan kerja. Teknologi yang tidak pernah masuk tidak akan terlihat dalam statistik ekspor. Namun, semua peluang tersebut tetap hilang.

Indonesia memiliki pasar yang besar, sumber daya yang melimpah, dan posisi strategis dalam rantai pasok global. Modal-modal tersebut memberikan keuntungan yang tidak mudah ditiru oleh negara lain.

Tantangannya adalah memastikan bahwa keunggulan itu tidak dikalahkan oleh persoalan yang sebenarnya dapat diperbaiki melalui kebijakan dan tata kelola.

Transparansi pasar modal perlu diperkuat. Kepastian hukum harus dijaga. Belanja negara perlu diarahkan pada kegiatan produktif. Kebijakan energi harus mengurangi kerentanan jangka panjang, sementara investasi perlu menghasilkan peningkatan produktivitas, penciptaan pekerjaan berkualitas, dan nilai tambah yang benar-benar tinggal di dalam negeri.

Kepercayaan tidak dapat dibangun hanya melalui pernyataan optimistis atau dengan igauan pejabat negara bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar. Ia tumbuh ketika kebijakan yang diumumkan benar-benar dijalankan dan hasilnya dapat dirasakan.

Republik dengan masa depan yang belum selesai

Pesimisme yang berlebihan tidak akan membantu Indonesia keluar dari persoalannya. Begitu pula optimisme yang menolak melihat risiko.

Ekonomi Indonesia masih tumbuh. Investasi langsung tetap masuk. Cadangan devisa masih memadai. Pasar domestik menawarkan peluang besar bagi perusahaan yang ingin berkembang.

Semua itu merupakan modal penting. Namun, modal tersebut harus dikelola dengan kesadaran bahwa keunggulan ekonomi tidak akan bertahan selamanya apabila kepercayaan terus melemah.

Indonesia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki arah. Pemerintah dapat memperkuat institusi, meningkatkan transparansi, menjaga disiplin fiskal, dan menciptakan lingkungan usaha yang lebih konsisten. Dunia usaha dapat memperoleh ruang lebih besar untuk berinovasi dan berinvestasi tanpa harus menghadapi ketidakpastian yang tidak perlu.

Perubahan semacam ini mungkin tidak menghasilkan sensasi sebesar pengumuman proyek ambisius atau peresmian fasilitas industri baru. Namun, dalam jangka panjang, kualitas institusi sering kali menjadi pembeda antara negara yang mampu mempertahankan pertumbuhan dan negara yang terus kehilangan momentum.

Pada akhirnya, kekayaan alam tidak menjamin kemakmuran. Pasar yang besar tidak menjamin investasi akan terus berdatangan. Pertumbuhan ekonomi pun tidak otomatis membuat masa depan menjadi lebih baik.

Semuanya membutuhkan kepercayaan bahwa potensi yang dimiliki hari ini akan dikelola dengan baik esok hari.

Masa depan tidak akan datang dengan sendirinya. Ia bergantung pada keputusan yang diambil hari ini, pada keberanian untuk memperbaiki apa yang keliru, dan pada kesediaan untuk menempatkan kepentingan jangka panjang di atas populisme yang mengundang sensasi.

Sebab, ketika modal mulai mencari pintu keluar, yang dipertaruhkan sesungguhnya jauh lebih besar daripada pergerakan uang di pasar keuangan.

Yang ikut dipertaruhkan adalah pabrik yang mungkin tidak pernah dibangun, pekerjaan yang mungkin tidak pernah tercipta, dan kesempatan yang mungkin tidak akan datang kembali.

The price of broken trust is paid in the futures we fail to build.