Konten dari Pengguna

Manusia Adalah Turritopsis dohrnii

Leanmaa

Leanmaa

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Leanmaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Turritopsis dohrnii. Sumber: iStock.
zoom-in-whitePerbesar
Turritopsis dohrnii. Sumber: iStock.

Sudah berapa lama aku berada di fase polip ini? Oh? Aku baru menyadari... selama ini aku benar-benar tidak berfungsi seperti seharusnya makhluk hidup lainnya. Setelah aku mengalami proses transdiferensiasi, aku mulai tenggelam dan berdiam diri di dasar terbawah lautan. Selama itu, aku banyak menyadari tentang apa yang aku alami, ancaman yang memaksaku untuk menghapus diriku yang sudah dewasa.

Sudah berapa lama aku berada di fase polip ini? Aku tidak menyadarinya sampai aku mencoba mengikuti pergerakan cacing laut yang merayap di depanku. Di saat itu, aku merasa segalanya sangat asing. Dan saat itu pula aku menyadari bahwa selama ini aku hanya memiliki satu pandangan gelap yang tidak bergerak meski sebanyak apapun isi pikiranku. Aku terlalu banyak melamun dan mengembangkan hidup hanya dalam pikiranku. Aku merasa tidak nyaman melihat cacing yang hanya hidup normal itu.

"Apa yang ada di pikirannya saat dia melewatiku? Apakah dia melihatku dari jauh? Apakah dia berpikir bahwa aku hanya batu yang mati sehingga dia berani untuk melewatiku, atau dia sengaja lewat agar aku juga berani untuk hidup kembali?"

"Apakah dia juga memikirkan hidupnya seperti aku memikirkan hidupku? Apakah dia juga kesulitan untuk hidup sebagai makhluk lemah yang mungil seperti kita ini? Apakah dia pernah mengalami luka yang parah sampai membuat koma seperti aku? Apakah dia juga bisa mengalami transdiferensiasi dan kembali ke polip saat hidup terlalu kejam padanya, sama seperti aku?"

"Apa yang dia pikirkan untuk hidup? Apakah dia makan dengan benar? Dia merayap seperti dia tidak memiliki beban pikiran apapun. Kelihatannya dia juga sama sepertiku, hanya hidup tanpa hidup sebenarnya, dan hanya berjalan. Apa dia menyadari apa yang baru saja dia lewati? Apakah aku bisa terus hidup seperti dia meskipun aku kecil dan lemah?"

Suhu pada lingkungan fase polipku tidak begitu bagus meskipun tidak terlalu buruk. Teman-temanku yang lain mengalami siklus hidup normal seperti pada umumnya. Mereka hidup, berenang, kawin, memiliki keturunan dan mati setelah puas hidup di waktu yang sesuai takarannya. Saat mereka terluka pun, mereka masih bisa bertahan dengan gagahnya dan hidup dengan membanggakan. Sementara aku, begitu terluka, aku mengharapkan kematian tetapi malah kembali ke polip karena takdir. Meski begitu, aku selalu tertinggal. Temanku yang lain telah berenang menjelajah dunia dan melihat banyak hal. Berbeda dariku yang saat pertama menjadi medusa, aku harus kembali menjadi polip. Aku tertinggal terlalu jauh dan sangat kepayahan. Bukankah lebih baik jika terluka lalu mati saja? Untuk apa mengulang kehidupan di tempat yang tidak mendukung?

Aku tau pasti. Kemampuanku ini ada karena aku terlahir di lingkungan yang tidak pasti aman. Aku berevolusi untuk menghadapi lingkungan yang keras. Tapi memangnya tidak bisa, jika aku hanya terlahir di lingkungan yang aman meskipun tidak memiliki hidup yang panjang?