Konten dari Pengguna

Mirage of Bliss

Leanmaa

Leanmaa

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia

·waktu baca 10 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Leanmaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang gadis terdiam sendirian di tengah malam. Gambar Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Seorang gadis terdiam sendirian di tengah malam. Gambar Pribadi.

Di salah satu kamar sebuah rumah, terdapat kamar yang ditempati seorang nona yang tidak diketahui namanya. Entah di siang hari atau malam, kamarnya selalu gelap. Mungkin karena lampunya yang sudah meredup, atau warna temboknya yang gelap sehingga suasananya terasa gelap. Atau mungkin, kamarnya gelap karena hatinya yang tidak hidup? Saat ini, dia sedang memojok ke sudut kamarnya dengan memeluk lututnya.

"Dia mulai beraksi lagi. Tidak bisakah seseorang menghentikannya?" Nona Tak Bernama itu menangis tersedu sambil menceritakan kecemasan yang dialaminya—berbicara sendiri. Dia menyebutnya Tuan Mimpi, sesuatu yang selalu mengganggunya selama bertahun-tahun. "Tidak, sepertinya ada sesuatu yang baru. Yang lebih gelap dan berkuasa, lebih memegang kuasa dibanding Tuan Mimpi. Aku harus menemuinya! Aku sudah tidak sanggup lagi! huhuhu"

Tidak seorang pun yang mengerti apa yang dia alami. Orang-orang mengetahui dia mengalami kesulitaan, tetapi cerita sedihnya sangat tidak biasa dan terasa ganjil. Katanya dia memiliki kutukan yang sulit dipatahkan. Katanya, sesuatu yang hidup dalam kegelapan selalu menariknya jatuh, ke dalam dunia yang disebut Malam. Penguasa tempat itu bernama Tuan Mimpi. Ia memiliki kekuatan penghibur yang luar biasa menenangkan. Terkadang, Ia seperti memberi petunjuk agar Sang Nona bisa hidup bersama Nona Nyata, bermain seperti ia adalah pemeran pendukung yang baik hati.

Bersama Nona Nyata, kata Nona Itu, hidup terasa sulit. Awalnya mudah dan menyenangkan, sebelum orang-orang di sekitar Nona Nyata berubah dan berusaha menyingkirkan Sang Nona dari sisi Nona Nyata. Di saat Nona Tak Bernama terpuruk, Tuan Mimpi selalu ada dan menghiburnya.

"Kamu bisa membalaskan dendammu jika bersamaku. Aku mengetahuinya, bahwa kamu sebenarnya begitu istimewa. Kamu hanya tidak mendapat kesempatan. Dengan bersamaku dan hidup di duniaku, kamu bisa hidup dengan bahagia dan merasa lega. Kemarin saat kencan kita berdua, bukankah kamu bisa melihat indahnya dunia ini? Aku akan selalu bisa memberikan seluruh dunia ini untukmu, Nona. Tetaplah di sini, bersamaku selamanya." Tuan Mimpi memperlakukan Nona Tak Bernama begitu lembut, penuh penghiburan dan menyenangkan. Ia memberikan Nona Tak Bernama emosi dan hal-hal yang diperlukan oleh Nona Tak Bernama: marah, kehancuran musuh, perasaan berdebar, kepuasan, bahagia, penghiburan, teka-teki dengan imbalan yang besar, kesempatan, dan segalanya yang tidak bisa diberikan Nona Nyata. Tidak ada penghakiman dari Tuan Mimpi. Jika terluka, maka artinya terluka. Tidak akan dijadikan permasalahan bagaimana cara Nona Tak Bernama terluka, Tuan Mimpi akan merawat dan membantu Nona Tak Bernama untuk sembuh dan menjadi lebih kuat. Jika itu luka karena seseorang, Tuan Mimpi akan menyediakan ruang untuk Nona Tak Bernama membalas orang tersebut. Tuan Mimpi memperlakukan Nona Tak Bernama selayaknya benda berharga yang wajib dijaga.

"Nona sayang, karena kamu begitu spesial, aku akan memberikan hadiah padamu. Sesuatu yang orang biasa tidak akan bisa mendapatkannya. Penglihatan akan masa depan. Aku akan selalu menunjukkan masa depan untukmu. Dengan otak cerdasmu, kamu hanya butuh memecahkan kode tentang masa depan dariku. Kamu senang dengan teka-teki misterius, kan? Sebagai gantinya, kamu harus selalu kembali padaku." Tuan Mimpi paling mengenal Nona Tak Bernama. Dan dengan hadiah tersebut, Nona Tak Bernama selalu bisa melihat masa depan. Nona Tak Bernama selalu mencari berbagai cara agar bisa memasuki Malam. Sebisa mungkin, meskipun sedang bersama Nona Nyata, Nona Tak Bernama akan pergi ke kamarnya dan membuka portal untuk pergi ke dunia gelap tersebut.

Tapi itu satu tahun yang lalu. Atau dua tahun yang lalu, saat terakhir Nona Tak Bernama memutuskan hubungan dengan Tuan Mimpi? Saat itu, Nona Tak Bernama sudah jatuh cinta lagi dengan Nona Nyata. Apa pun kesulitan yang terjadi saat mencintai Nona Nyata, Nona Tak Bernama yakin akan mampu menikmatinya.

Namun, Tuan Mimpi datang lagi. Nona Tak Bernama terantuk lagi oleh kantuk. Sepanjang sulitnya dulu, Tuan Mimpi memang temannya. Hangat dan bahagia adalah bunga dari Tuan Mimpi. Sebenarnya itu bunga yang buruk. Tapi tak seburuk taman dunia nyata Nona Tak Bernama kala itu.

Tuan Mimpi menyapanya lagi. Kali ini ia datang bersama bunga yang pernah nyata. Kejamnya dia melintasi batas dunia, menampilkan adegan terburuk yang pernah terjadi di antara Nona Tak Bernama dan Nona Nyata, mengadu domba mereka berdua. Tuan Itu mengaburkan kesadaran Nona Tak Bernama antara nyata dan tidak. Tuan Mimpi berubah setelah Nona Tak Bernama hanya hidup selayaknya manusia. Ia tak ingin Sang Nona meninggalkannya.

Tuan Mimpi datang lagi. Ia memaksa Nona Tak Bernama untuk bermain bersamanya lagi. Tetapi seindah apapun rayuan Tuan Mimpi, Nona Tak Bernama tidak ingin meninggalkan Nona Nyata lagi.

Semalam tuan mimpi membawakan cerita berlatar rumah itu lagi. Rumah yang biasanya memiliki kisah gelap tak tertahankan. Namun tadi malam, berisi kisah ajaib penuh kehangatan. Impian dan rasa yang indah yang kudambakan selama ini. Udaranya memiliki suhu yang sama dengan yang waktu itu. Keramaian, kekacauan namun bagian dari kisah menyenangkan yang sangat jarang kurasakan. Lalu aku kembali mencium aroma itu. Aroma putus asa dan jengah, perasaan sakit karena tidak terima keadaan.

Seindah apapun Tuan Mimpi menceritakan dunianya, aku tidak ingin pergi meninggalkan Nona Nyata. Meskipun yang menghiburku adalah Tuan Mimpi, aku tidak ingin membenci Nona Nyata lagi. Aku tidak ingin jatuh lagi.

Dalam sebuah tempat bernama Malam, terdapat layar tancap yang tak pernah berhenti memutar sebuah film. Film dalam layar tancap itu mengisahkan seribu kisah namun dengan satu tema yang sama. Di dalamnya terdapat satu tokoh yang berkarakter misterius. Tokoh dalam film itu bernama Tuan Mimpi, dia sangat bijak.

Ia berkata, "kadar keberuntungan dalam setiap kesempatan tak pernah sama. Siapa yang tau jika keberuntunganmu sepenuhnya berada pada kesempatan kali ini?"

Layar tancap itu hanya memiliki satu film dan satu penonton yang sama. Nona penonton yang tak bernama itu tak memiliki kuasa untuk berpaling dari film itu. Seakan menjadi kutukan, ia terus berada di depan layar yang memutarkan film yang sama. Seakan menjadi peringatan, bahwa film tak akan berhenti sampai Nona Tak Bernama berhasil melewati rintangan dengan sukses. Saat pertama kali film terputar, itu menjadi motivasi bagi Nona Tak Bernama. Namun pada putaran kesepuluh, itu menjadi ancaman baginya.

"Jika kamu melakukan kesalahan walau sekali, kamu akan menyesal"

"Jika kamu melepaskan kesempatan ini hanya karena sulit, lelah dan sakit, kamu akan gagal selamanya"

Film indah dan Tuan Mimpi yang bijak tak lagi menyenangkan.

Setiap Nona Tak Bernama terbangun di tempat bernama Nyata, ia menjadi ketakutan. Nona Tak Bernama berharap, mimpinya segera berganti.

***

Pada malam hari, Nona “itu” datang padaku sendirian. Dia membawakan aku laptop yang memutar sebuah film yang mengisahkan tentang asumsi manusia.

Terdapat tokoh bernama Assyifa di sana. Di semesta lain, ia masih hidup dan menjalani kehidupan yang sama namun berbeda. Sumber kehidupannya masih hidup meskipun ekspresinya selalu datar. Meskipun datar, ia masih merawat buah hidupnya dengan sempurna. Seperti yang diharapkan Assyifa selama ini. "Seperti ini saja sudah cukup untukku. Mulai sekarang, dengan nasib baru di tempat lama, aku akan membuat cerita yang berbeda. Aku sudah mengerti semuanya sekarang,"

Ini hari pertama Assyifa sekolah. Sekolahnya masih sama, dengan aturan berbeda. Lebih modern meskipun pemimpinnya lebih aneh dari yang sebelumnya. "Setidaknya, bapak itu benar-benar terjun dan menghargai semuanya dengan adil." Katanya tentang petinggi di sekolah tersebut.

Assyifa merapikan hijabnya sekali lagi. Ia juga memakai gaun peninggalan ibunya yang kini sudah menjadi rok cantik. Peraturan berubah, para siswa dibebaskan untuk berpakaian seperti apapun yang mereka inginkan asal tetap memakai sesuatu yang sangat mencirikan bahwa mereka memang siswa dari sekolah tersebut. Tokoh utama kita memutuskan menggunakan gaya hijab baru yang tidak pernah berani ia pakai di kehidupan lamanya. Ia merasa ia cantik berdandan seperti itu. Dia segera mengambil parfum dan menyemprotkannya di beberapa titik. "Itu parfum punya Kakak? Mau parfum baru tidak? Ayah bisa belikan yang baru. Liptint juga, kalau Kakak mau," sang ayah menawarkan segalanya dengan ramah. Sangat berbeda dari yang sebelumnya, kali ini sorotan matanya sangat lembut dan lugu menunjukkan rasa khawatir, "apakah anakku cukup bahagia dengan yang dimilikinya sekarang? Apakah aku harus memberikannya lebih banyak lagi?" Assyifa tersenyum menatap ayahnya agak lama. Ia merasa damai. Setelah menjawab ia tidak butuh apapun lagi, terdengar suara gemuruh dari luar rumah. Rupanya, ia terlambat masuk sekolah.

Dahulu ia diwajibkan sempurna dan tidak bercela. Daripada bercela, hancur saja sekalian. Kemudian dari sana, ia memilih tidak memulai apapun dan semakin terpuruk. Assyifa tertawa dengan hatinya, dengan lega dan haru. "Sekarang sudah berbeda. Aku akan tetap maju meski diteriaki mati."

Assyifa meniru gaya hijab dari selebriti terkenal, Sasya, yang tak pernah diduga ternyata cocok dengannya. Dengan penuh percaya diri, meskipun terlambat di sekolah baru tapi lama-nya, ia tetap masuk kelas. Dia sudah membayangkan, karena saat berangkat tadi semua orang menatapnya kagum, pasti teman sekelasnya sekarang juga akan begitu. Mereka akan memperlakukannya dengan baik, tidak seperti dulu, mereka selalu mengabaikan Assyifa bagaimanapun sikap dan situasi Assyifa. Assyifa pun sudah berjanji akan menjadi seru, tidak penakut lagi. Tidak akan kalah karena mengalah kepada orang-orang yang merundungnya. Tapi ternyata kenyataan tak seindah harapannya.

Semua temannya memang tidak memandangnya remeh seperti dulu lagi. Mereka tidak mengganggu atau membunyikan mulut tanda mengejek lagi. Tapi mereka memandang Assyifa datar dan kosong, lalu kembali mengibrol dengan sesama mereka. Assyifa diabaikan lagi.

“Tidak apa-apa. Mungkin karena aku masih baru, jadi mereka diam begitu. Mungkin saat sudah ada guru, dan tugas diberikan, mereka akan mengajakku mengobrol. Tidak apa-apa,” Assyifa menguatkan dirinya sendiri. Tapi tetap saja, yang lebih buruk terjadi. Guru di kelas itu pun ikut mengabaikan kehadiran Assyifa. Sekedar mengabsen, lalu hanya mengajak berbicara murid selain Assyifa. Tokoh utama di film ini sudah mencoba meraih perhatian dan berinteraksi, tetapi yang didapatkannya hanya tatapan kosong sebentar, lalu mengabaikannya lagi.

Aku sudah berpindah dunia dan dimensi, ke tempat baru dan cerita baru. Aku sudah mengambil tempat Assyifa yang lain. Tapi kenapa masih tetap menyedihkan? Kenapa hidupku selalu menyedihkan? Aku sudah berusaha berubah dan menyamai mereka, tetapi aku tetap diabaikan? Salahku di mana? Dadaku sesak sekali. Aku ingin beristirahat tapi harus pergi ke mana lagi? Apa aku harus menyeberangi dimensi lagi mencari dunia yang baru lagi?

Tokoh utama yang kulihat terlihat sesak napas. Ia memegangi dadanya yang terasa nyeri. Air matanya berlinang, dan aku merasa tanganku basah. Aku ikut menangis dan merasakan sakit yang dialaminya.

“Dia adalah kamu, Sayang,” kata Nona “itu” menarik perhatianku. Dengan sesak, aku bertanya apa maksudnya dan kenapa aku harus seperti itu?

“Karena seperti itulah takdirmu. Selamanya, kamu akan tetap diabaikan pfftt,” Nona “itu” tertawa sinis. “aku selalu tak setuju dengannya, si Tuan Mimpi itu. Dia terlalu memanjakanmu. Jika bersama Nona Nyata di dunia kalian kamu tak bahagia, mengapa di duniaku kamu harus bahagia? Kamu tidak pantas!” kini yang sinis adalah tatapannya.

Aku mengerti maksudnya. Aku dilarang berbahagia, di dunia nyata maupun mimpi. Kemudian, aku terbagun dari tidurku.

***

Nona “itu” adalah Nona Mimpi. Ia masih berkerabat dengan Tuan Mimpi. Dan dia lebih jujur dibanding Tuan Mimpi. Dan lebih kejam. Ia selalu berusaha merebut kuasa Tuan Mimpi atas Nona Tak Bernama. Ia tak senang jika Tuan Mimpi mengajarkan Nona Tak Bernama apa yang tidak didapatkan Nona Tak Bernama saat bersama Nona Nyata. Ia berpikir, semua harus sama rasa dan bentuknya. Jadi, ia mengajar lebih keras. Kamu lemah. Berhenti lari. Kalau mau bahagia, berjuanglah di dunia nyata. Tapi kamu tidak akan pernah bisa karena kamu lemah.

Sesungguhnya Nona Tak Bernama pun tahu bahwa ia tak bisa selalu lari dari kenyataan. Terbangun dari dunia bernama Malam kali ini, dia sangat terpukul. Dia mengerti, selama dia belum benar-benar berusaha, kebahagiaan adalah sesuatu yang tak akan pernah dia dapatkan. Masalahnya adalah dia masih belum mengerti caranya bahagia. Dia terlalu banyak bertanya, kenapa aku harus mengalami ini, kenapa harus aku tanpa mencoba menerima dirinya terlebih dahulu, menerima yang telah terjadi terlebih dahulu. Untuk menerima pun, dia tidak tahu bagaimana caranya.

Katanya untuk bahagia, harus menerima diri sendiri. Tapi bagaimana caranya?

Nona Tak Bernama merasa kakinya mati rasa karena tertidur sembari memeluk lutut di pojok kamar. Ia meluruskan kakinya. Diam-diam, ia berharap pikirannya juga bisa ikut lurus.

Pukul 1.47. Ia berharap perkelahiannya dengan Nona Mimpi hari itu sudah selesai. Ia tidak ingin tidur lagi meskipun merasa belum sanggup bertemu dengan Nona Nyata. Ponselnya berbunyi, ia memilih mengambilnya setelah kesemutan di kakinya mereda. Entah bagaimana, pikiran kacaunya menuntunnya secara acak membuka aplikasi peramban. Di sana, ia menemukan sebuah artikel berjudul Malam Pribadi. Ia membacanya dan setelahnya, ia memutuskan membuat nasi goreng. Berharap ia juga bisa memakan Tuan dan Nona Mimpi, agar Nona Nyata bisa ikut berubah.