Sutil dan Luka Milik Amea

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Leanmaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanganku terluka lagi. Setiap habis memasak, tanganku pasti terluka. Terkena minyak panas, tidak sengaja menyentuh lapisan panas panci atau wajan, atau tergores pisau saat memotong bawang. Selalu saja ada luka setiap memasak. Tetapi jika tidak memasak, aku tidak akan bisa makan. Bukankah membeli terlalu mahal? Aku harus bersyukur karena dapurku memiliki peralatan masak yang cukup lengkap. Bahan makanan di kulkas pun secara ajaib selalu tersedia. Bukankah lebih boros jika membeli lagi setelah semuanya tersedia?
Aku pernah membeli makanan siap saji dari luar. Dari warteg atau mini market, real food atau makanan instan, aku pernah membelinya. Aku juga pernah memesan makanan online. Tapi aku mendengar, katanya aku terlalu boros dan tidak tahu cara bersyukur. Aku mendengar, teman-teman iri padaku karena aku memiliki alat masak dan kulkas serta bahan yang selalu tersedia.
"Enak sekali, Amea. Kamu punya dapur dan bahan makanan. Kamu juga bisa memasak makanan enak walau selalu terluka. Setidaknya lukamu tidak separah itu, kan?" Kata Mambi, salah satu teman akrabku. Dia selalu memuji hasil masakanku. "Kamu coba saja belajar cara masak yang aman. Di Youtube, mungkin? Atau ... aku curiga saat memasak, jangan-jangan kamu sembari melamun, makanya tidak waspada dan selalu terluka. Tolong jangan memikirkan apa pun saat memasak, perhatikan apa yang sedang kamu kerjakan!" lanjutnya. Aku mengangguk saja mendengarkan nasihatnya.
Aku punya peralatan masak yang bagus. Berbagai macam sutil atau spatula berwarna biru, warna kesukaanku. Itu dari mamaku. Aku sempat berpikir apakah sutilnya kurang panjang, makanya aku selalu terkena udara panas dan percikan minyak dari wajan? Tetapi sutilnya cukup panjang setelah kubandingkan dengan sutil orang lain. Apakah pisauku bengkok, makanya aku jadi tidak melihat dengan benar kemudian jariku teriris? Tidak, pisaunya lurus dan baik-baik saja. Apakah aku tidak mengikuti instruksi memasak dengan benar? Tidak, aku melihat instruksi koki terkenal dan menerapkan semua ajarannya, kok. Aku yakin sudah benar. Tapi kenapa aku masih selalu terluka? Kenapa minyak-minyak panas itu senang sekali melompat ke arahku? Atau, apakah aku yang memang teramat bodoh sehingga selalu terluka saat memasak? Apakah bahkan aku pantas untuk mendapatkan makanan?
Banyak sekali pertanyaan dalam kepalaku. Aku mengikuti kelas memasak supaya bisa lebih mengetahui cara memasak yang benar dan aman. Anehnya, saat mengikuti kelas, aku baik-baik saja. Tanganku aman dan tidak terluka. Tetapi setelah kembali ke rumah dan memasak di dapurku, aku terluka. Saat aku memasak di rumah temanku pun, aku tidak terluka. Kenapa hanya di dapurku sendiri aku terluka? Apakah di dapurku dulunya bekas kuburan atau apa, seperti, ada makhluk halus yang berusaha menggangguku dan ingin mencelakaiku selalu? Apa yang sebenarnya terjadi?
Malam minggu ini Mambi bilang ingin menginap di rumahku. Kita harus mengerjakan tugas kuliah bersama-sama. Dia juga bilang, sekalian dia ingin melihatku memasak. Jadi, di sinilah kita berdua, di rumahku.
Sesampainya di rumah, aku dan Mambi langsung mengerjakan tugas karena waktunya sempit, jam 9 malam harus dikumpulkan. Dosennya memang ketat sekali, baru memberi tugas jam 3 sore, tapi mahasiswa harus sudah mengumpulkannya jam 6 sore hari itu juga. Apakah beliau pikir mahasiswa tidak ada kuliah lain atau kegiatan selain mengerjakan tugas darinya? Beruntung ketua kelas bisa merayu dosen tersebut sehingga memberi kelonggaran waktu meskipun masih tetap mencekik.
Aku selesai duluan dalam mengerjakan tugas. Karena sudah pukul 8 malam, aku pikir harus langsung memasak agak tidak terlalu malam untuk makan malamnya. Mambi mengiyakan saja saat aku bilang akan memasak sesederhana telur ceplok untuk makan kita malam ini. Sepertinya dia sedang sibuk ribut dengan tugasnya sendiri. Aku tertawa miris kecil saja melihatnya.
Aku memanaskan wajan sebelum menuangkan minyak. Setelah menunggu beberapa detik, aku menuangkan minyak secukupnya. Sembari menunggu minyak panas, aku menyiapkan 2 piring di atas meja makan. Nasi sudah tersedia di rice cooker di meja makan. Aku hanya perlu menggoreng dua telur saja.
Aku tahu ini pasti akan terjadi lagi. Tanganku terasa panas terkena percikan minyak dari wajan. Telur yang meletup-letup juga membuat minyak terbang ke mana-mana. Tapi harus aku tahan. Ini hanya telur goreng yang tidak perlu dimasak lama-lama. Tapi telur yang kedua ini, kenapa dia sulit sekali dibalikkan? Dia menempel di sutil dan tidak bisa dibalikkan. Setiap diarahkan agar terbalik, ia malah kembali ke posisi awal. Kesal sekali rasanya—
"HEI!!!!!! KAMU INI KENAPA??????" tiba-tiba Mambi muncul dan teriak dengan kencangnya. Ekspresinya memperlihatkan keterkejutan bercampur amarah. Dia menyambar lenganku, mematikan kompor, dan menarikku ke keran di wastafel terdekat. Ia menaruh tanganku di bawah aliran air yang mengalir. Aku masih terkejut setengah mati. Kenapa dia tiba-tiba melakukan ini? Dia bahkan menamparku. Kejadiannya begitu cepat hingga aku tidak bisa memikirkan alasan Mambi melakukannya.
"Apa? Kenapa?" Aku bertanya dengan nada kesal.
"Kamu selalu masak dengan cara seperti itu???" tanyanya dengan tatapan nanar.
Aku bingung. "Iya, lah? Kenapa?"
"Hah?! Kenapa kamu menggoreng tanganmu sendiri? Kamu gila? Kenapa tidak pakai sutil??" Suara Mambi masih tinggi.
Aku yakin Mambi yang gila. Aku selalu memakai sutilku. Aku tidak menggoreng tanganku sendiri. Buat apa? Itu kan sakit!
Aku marah padanya dan mengatakan dia yang gila. Aku mengatakan aku memakai sutilku. Tapi dia bertanya, "mana sutilnya? MANA????" suara Mambi semakin tinggi, sangat menunjukkan perasaan jengkelnya. Karena tersentak, aku refleks menunjuk ke tempat yang seharusnya sutilku berada. Tapi... mana sutilku? Aku tidak melihat sutilku!
"Tadi di situ, kok! Ohhh sepertinya aku lupa, sutilku belum kuambil dari rak kitchen set." Aku berjalan menuju rak tempat peralatan masak disimpan. Tetapi, sutilku tidak ada. Tidak ada apa pun selain wajan, panci, dan pisau daging. Aneh sekali. Aku punya berbagai jenis sutil, sangat lengkap. Tapi kenapa semua menghilang? Apakah benar-benar ada makhluk halus di sini, dan mereka menyembunyikan alat masakku? Atau ada maling? Tapi kenapa hanya sutil yang hilang? Aku gelagapan karena bingung. Aku yakin tadi pagi masih ada.
Hiks... hiks... aku mendengar suara orang menangis. Apakah itu makhluk halus yang hendak menampakkan dirinya? Aku berbalik ke arah Mambi, berencana memberi kode untuk berlari karena aku takut sekali pada makhluk tak kasat mata. Tapi ... Mambi yang menangis?
"Aku selalu penasaran kenapa kamu selalu terluka, Amea. Dan belakangan lukamu semakin parah! Ternyata ... hiks! Aku pikir traumamu karena sutil sudah hilang, makanya mulai memasak lagi. Kamu juga selalu membicarakan sutil pemberian mamamu. Aku pikir sudah sembuh! Tapi selama ini ... kamu selalu memakai tanganmu sendiri menggantikan sutil untuk memasak?" Air mata Mambi semakin deras. Aku diam cukup lama saat mencerna perkataannya. Pikiranku seperti tersetrum, menyadari ingatan tentang aku yang memegang sutil untuk memasak adalah ingatanku setahun yang lalu. Sesaat sebelum aku membuang sutil-sutil terkutuk itu. Mungkin memang sejak lama, aku tidak pernah memasak dengan sutil. Hanya dengan luka.
