Tanda Tanya Besar pada Pendidikan

Blogger II Pelayan Teras di Neras Suara Institute II Suka Kopi dan Naik Gunung
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ahmad Dahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah sore, ketika saya bertandang menemui salah satu Gus di daerah Sukolilo Jabung, Kabupaten Malang, kopi belum sempat saya sruput, beliau mengutarakan keresahannya tentang pendidikan saat ini. Beliau resah dengan konsep pendidikan yang semakin tidak karuan jelas. Menurut beliau konsep pendidikan hari ini tidak menunjukkan karakter yang dibangun, terutama dalam konteks kesiapan diri ketika lulus atau menghadapi kehidupan pasca pendidikannya.
Pendek kata, belum ditemukan dalam pendidikan hari ini yang fokus pada menitikberatkan kepada kesiapan diri. Tentu hal ini berkaitan dengan mental dan hati.
Hal ini mengingatkan saya pada satu konsep pendidikan yang ditawarkan di dalam al-Quran. Pertama kali yang haru disentuh adalah aspek mental dan hatinya. Artinya, konsep penguatan mental dan pembersihan hati menjadi pijakan penting dalam pendidikan.
Dalam Qs: Asy-Syams ayat 9-10
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Qad aflaha man zakkaha, wa qad khoba man dassaha
Artinya:
“Sungguh beruntung orang yang mensyucikan diri (jiwa), dan sungguh merugi siapa pun yang mengotorinya.”
Kaca Benggala Pendidikan
Makna Tazkiyatun Nafs sendiri adalah penyucian hati, penyucian jiwa. Setiap proses dalam kehidupan ini membutuhkan pola sikap dan pola pikir untuk menjalaninya. Hal ini bertujuan untuk menyikapi ragam persoalan di dalam hidup. Serta menjadikan diri lebih siap. Artinya, Penyucian diri memiliki orientasi pada kesiapan mental dan keteguhan hati.
Menurut Ibnu Katsir, qad aflaha man tazakka, sejalan dengan ayat 14-15 Qs: Al-Ala, qad aflaha man tazakka, wa dzakarasmarabbihi fashalla. Bawa sangat beruntung mereka yang menyucikan diri (dengan beriman kepadaNya) serta mengingat nama-Nya.
Dalam konteks pendidikan, perlu ditekankan bahwa penguatan mental dan peneguhan hati adalah sebuah proses awal sebelum para siswa menerima ragam pengetahuan. Imam Malik Rahimahullah menegaskan bahwa pelajarilah dengan ada (yang muaranya adalah jiwa) baru pelajarilah tentang pengetahuan. Hal ini juga diperkuat oleh Hadits Nabi dalam Tirmidzi no. 1162, bahwa Rasulullah bersabda;
أكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا
“Mukmin yang sempurna imannya adalah ia yang bagus ahlaknya (beradab).”
Sehingga, pendidikan bukan hanya melulu pada orientasi yang bersifat profit di kemudian hari, melainkan ada satu pondasi yang menjadi tugas penting bagi pendidikan, yaitu mental dan moral. Keduanya bermuara pada hati dan jiwa.
Dalam hal ini, al-Quran menegaskan kepada kita, siapa pun saja. Bahwa pendidikan dasar seseorang adalah pembersihan hati dan penyucian jiwa. Efek sosialnya adalah penguatan mental dan peneguhan hati. Setiap orang akan memiliki prinsip namun bijak.
Dari sini ayat 9-10 Qs: Asy-Syams mengingatkan kepada kita akan pentingnya menata hati dan pikiran. Karena pada dasarnya, cara berpikir akan menentukan sikap dan kesadaran seseorang. Manusia sebagai subjek dan objek pendidikan, akan senantiasa bahkan sedinamis mungkin dalam menentukan pendidikan yang ia butuhkan sebagai modal menjalani kehidupannya.
Lantas, seberapa pentingkah pendidikan sebagai konsep memandang mental dan modal cara berpikir?
