Lelaki Bersandal Jepit Menatap Pensiun

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di sebuah siang, seorang lelaki bersandal jepit sedang terduduk menata jalan yang luas. Tanpa ditemani secangkir kopi hangat, pikirannya melayang jauh ke masa depan. Ia bukan orang kaya, bukan pula pemilik jabatan tinggi. Hanya seorang karyawan biasa. Namun di usianya yang mulai menua, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, "Bagaimana hidupku saat pensiun nanti?" Pertanyaan itu terus berputar di benaknya, mengiringi setiap langkah kaki dan pikiran yang menghantuinya.
Selama puluhan tahun ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Gaji yang diterimanya sering kali habis untuk biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, dan berbagai keperluan mendadak. Ia sadar bahwa selama ini hampir seluruh energinya digunakan untuk bertahan hari ini, sementara hari tua sering kali hanya menjadi rencana yang ditunda. Kini, ketika rambutnya mulai memutih, ia menyadari bahwa pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, melainkan fase kehidupan yang juga membutuhkan persiapan. Entah bagaimana dirinya di masa pensiun?
Sambil terus menatap jalanan, lelaki bersandal jepit itu mulai menghitung-hitung kemungkinan. Ia membayangkan biaya hidup yang tetap harus berjalan meski gaji bulanan sudah tidak ada. Ia pun bertekad mulai menyisihkan sebagian penghasilannya, sekecil apa pun nilainya. Baginya, dana pensiun bukan hanya soal angka, tetapi tentang menjaga martabat agar tetap mandiri secara finansial dan tidak menjadi beban bagi anak-anaknya kelak.
Hingga sore hari, akhirnya ia pulang dengan langkah yang lebih ringan. Sandal jepit yang dipakainya mungkin tampak biasa, tetapi pikirannya telah melangkah jauh ke depan. Ia memahami bahwa masa pensiun yang nyaman tidak ditentukan oleh seberapa mahal sepatu yang dikenakan hari ini, melainkan oleh keputusan-keputusan bijak yang dibuat sejak sekarang. Dan sejak hari itu, lelaki bersandal jepit tersebut percaya bahwa setiap orang, sesederhana apa pun kehidupannya, berhak memiliki hari tua yang tenang dan sejahtera.
Setibanya di rumah, lekaki bersandal jepit pun mencari cara untuk bisa punya dana pensiun atau DPLK. Ingin mendaftar dan menjadi peserta DPLK secara online. agar lebih transparan dan layanannya cepat hingga bisa memantau dananya sendiri secara riil time. Dan lelaki bersandal jepit pun mendapati aplikasi “SimPensiun”, sebuah platform digital untuk DPLK dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM). Dengan iuran Rp 50.000 per bulan, kini lelaki bersandal jepit sudah menjadi peserta DPLK. Untuk hari tua yang lebih baik, lebih mandiri secara finansial.
Dan kini lelaki bersandal jepit sudah punya dana pensiun. Tidak besar iurannya tapi sudah memulainya untuk mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Agar kerja yes pensiun oke...
