Konten dari Pengguna

Jangan Tertipu Kemasan, Kenali Arti Golongan Obat

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Leli Rohmatus Syahada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Obat merupakan salah satu kebutuhan yang hampir selalu tersedia di setiap rumah. Ketika anggota keluarga mengalami demam, batuk, nyeri, atau keluhan kesehatan ringan lainnya, obat sering kali menjadi pilihan pertama sebelum memutuskan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Namun, di balik kemudahan memperoleh obat, masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa setiap obat memiliki aturan penggunaan yang berbeda sesuai dengan golongannya.

Salah satu informasi penting yang kerap luput dari perhatian adalah simbol yang tertera pada kemasan obat. Banyak orang mengenali obat berdasarkan nama, warna kemasan, atau manfaatnya, tetapi belum memahami arti lingkaran hijau, biru, maupun merah yang tercetak pada kemasan. Padahal, simbol-simbol tersebut bukan sekedar penanda visual, melainkan informasi penting yang berkaitan dengan keamanan penggunaan obat.

Mahasiswa D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga menjelaskan arti simbol dan penggolongan obat kepada ibu-ibu PKK di Kabupaten Gresik. (Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga menjelaskan arti simbol dan penggolongan obat kepada ibu-ibu PKK di Kabupaten Gresik. (Dok. Pribadi)

Dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, obat dibedakan menjadi beberapa golongan, antara lain obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek (OWA), obat keras, serta narkotika dan psikotropika. Masing-masing golongan memiliki aturan perolehan dan penggunaan yang berbeda. Perbedaan ini dibuat untuk memastikan bahwa obat digunakan secara aman, tepat, dan sesuai dengan kebutuhan kesehatan seseorang.

Obat bebas yang bertanda lingkaran hijau dapat diperoleh tanpa resep dokter dan umumnya digunakan untuk mengatasi keluhan ringan. Sementara itu, obat bebas terbatas yang ditandai lingkaran biru masih dapat dibeli tanpa resep, tetapi penggunaannya memerlukan perhatian terhadap peringatan yang tercantum pada kemasan. Berbeda dengan keduanya, obat keras yang ditandai lingkaran merah dengan huruf K hanya boleh digunakan berdasarkan resep dan pengawasan tenaga kesehatan karena memiliki risiko yang lebih besar bila digunakan secara tidak tepat.

Sayangnya, pemahaman mengenai penggolongan obat masih menjadi tantangan di masyarakat. Tidak sedikit orang yang menggunakan obat berdasarkan pengalaman sebelumnya, rekomendasi kerabat, atau informasi yang diperoleh dari lingkungan sekitar tanpa memahami aturan penggunaan yang sebenarnya. Akibatnya, penggunaan obat sering kali dilakukan tanpa mempertimbangkan keamanan maupun kesesuaian indikasinya.

Fenomena tersebut masih banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan edukasi kesehatan yang dilakukan mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga kepada ibu-ibu PKK di Kabupaten Gresik, misalnya masih ditemukan peserta yang belum memahami arti simbol pada kemasan obat. Sebagian peserta mengaku lebih sering memperhatikan nama obat dibandingkan informasi yang menyertai kemasannya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa literasi obat di masyarakat masih perlu terus diperkuat. Padahal, kemampuan memahami informasi dasar mengenai obat merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan keluarga. Kealahan dalam memahami golongan obat dapat berakhir pada penggunaan yang tidak tepat dan berpotensi meningkatkan risiko efek samping maupun kegagalan terapi.

Dalam banyak keluarga, ibu sering kali menjadi pihak pertama yang mengambil keputusan ketika anggota keluarga mengalami keluhan kesehatan ringan. Mulai dari menyediakan obat di rumah, memberikan obat kepada anggota keluarga, hingga menentukan langkah-langkah penanganan awal, semuanya memerlukan pengetahuan yang memadai mengenai penggunaan obat yang aman. Oleh karena itu, peningkatan literasi obat pada tingkat keluarga menjadi langkah penting dalam menciptakan perilaku penggunaan obat yang lebih rasional.

Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai golongan obat sebenarnya tidak selalu memerlukan pendekatan yang rumit. Edukasi sederhana mengenai arti simbol pada kemasan, cara memperoleh obat yang benar, serta pentingnya membaca informasi pada label obat dapat menjadi langkah awal yang efektif. Semakin baik pemahaman masyarakat terhadap informasi tersebut, semakin besar pula peluang untuk mencegah kesalahan penggunaan obat dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, penggunaan obat yang aman tidak hanya bergantung pada ketersediaan obat itu sendiri, tetapi juga pada kemampuan dalam memahami informasi masyarakat yang menyertainya. Mengenali arti simbol pada kemasan obat mungkin tampak sebagai hal sederhana, tetapi dari pemahaman sederhana itulah penggunaan obat yang lebih aman, tepat, dan bertanggung jawab dapat dimulai.

Dosen Pengampu: Dr. Susilo Harianto, S.Kep., Ns., M.Kep.

Penulis: Leli Rohmatus Syahada

Mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga