Resensi Poetry in Our Heads: Bagaimana Jika Duka Punya Ritmenya Sendiri?

Communication Student at Sebelas Maret University. I am currently in my third semester and am interested in public speaking, creative industry, and public relations.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Lena Dewi A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul Buku: Poetry in Our Heads
Penulis: Kith
Penerbit: Bukune
Tahun Terbit: September 2024
Tempat Terbit: Jakarta
ISBN: 978-602-220-749-8
Tebal halaman: 368 halaman
Jika duka adalah bahasa, lalu mengapa setiap orang yang pernah kehilangan justru mengaku tak pernah benar-benar fasih mengucapkannya?
“Grief is confusing”
Novel Poetry in Our Heads karangan Kith sebagai hasil adaptasi dari alternative universe pada platform X yang lebih awal ditulisnya. Buku ini berhasil membuat pembaca tersentuh oleh setiap kepingan kata di dalamnya. Poetry in Our Heads mengisahkan dua tokoh yang sedang bermuara dan berproses dari duka yang dialaminya. Greta Tsahara dan Malik Wartana, dua insan yang memiliki duka mendalam bersama-sama beranjak dan berusaha keluar dari rasa sakit yang mereka alami. Pertemuan keduanya menjadi titik balik langkah yang sebelumnya hanya menjadi angan-angan Greta Tsahara.
Kehidupan Greta Tsahara dan Malik Wartana yang diselimuti oleh duka membuat keduanya dipertemukan oleh semesta. Duka Tsahara dan Malik memiliki kemiripan tetapi keduanya tidak sama sekali mirip dalam menggunakan bahasa duka di hidupnya. Tsahara yang tertutup, rumit, sulit memahami situasi, dan sulit untuk merelakan apa yang terjadi. Berbeda halnya dengan Malik yang sangat terbuka, berpikir sederhana, dan selalu berusaha merelakan apa yang telah ditakdirkan untuk dirinya. Perbedaan dan kesamaan yang ada pada keduanya membuat mereka berusaha memahami dan memeluk duka yang dimiliki.
Penulis berhasil menghidupkan suasana melalui setiap kata yang disusun dalam buku ini. Setiap kata disusun dengan bahasa yang filosofis, penuh makna, dan menyentuh pembaca. Gaya bahasa yang digunakan penulis berhasil menggambarkan suasana sehingga pembaca turut merenungi, memahami, dan merasakan apa yang dirasakan setiap tokoh dalam buku ini. Selain itu, jalan cerita yang diungkapkan dalam buku ini sangat menarik dan fresh untuk dipahami dengan tokoh-tokoh yang ada. Tokoh-tokoh di dalam buku ini digambarkan secara realistis dan tidak berlebihan sehingga porsi peran yang diberikan pada setiap tokoh sesuai dengan posisinya di dalam cerita. Kelebihan buku ini juga terletak pada pemilihan konflik yang realistis dan resolusi atau ending yang mampu menjawab pertanyaan pembaca.
Buku ini juga turut memiliki kekurangan, terletak pada alur cerita yang cenderung lambat sehingga membuat pembaca merasa sedikit jenuh. Alur yang cenderung lambat membuat cerita terkesan bertele-tele. Selain itu, beberapa bagian cerita sangat terfokus pada apa yang dirasakan oleh satu tokoh yang diungkapkan dengan kesamaan pola. Kesamaan pola tersebut terletak pada rutinitas tokoh yang seringkali diulang tanpa adanya aksi lainnya. Namun, kekurangan ini tidak mengurangi pesan yang ingin penulis sampaikan melalui kisah Tsahara dan Malik.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi orang-orang yang belum selesai dan belum berdamai dengan duka masa lalu. Buku Poetry in Our Heads membungkus perjalanan berdamai melalui kisah Tsahara dan Malik, menggambarkan dua orang yang sedang berproses dan bertumbuh bersama. Dalam prosesnya, buku ini tidak hanya menggambarkan kisah asmara tetapi juga bagaimana seseorang berdamai dengan luka dan dukanya. Melalui kepingan kata, buku ini berhasil memberikan pesan kepada pembaca bahwa luka dan duka akan sembuh sembari semesta mengirimkan cara-caranya kepada kita.
