Konten dari Pengguna

Seharian Tak Ada yang Beli, Pak Tri Tetap Buka Lapak Buku Bekas Pukul 08.00

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lena Dewi A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Senin pukul 08.00, saya mengira jam segitu sudah cukup pagi untuk menemukan pedagang yang bersiap membuka lapak. Ternyata saya keliru sebab Senin dan Kamis adalah hari pasar. Kawasan Alun-Alun Utara sampai Pasar Klewer dipenuhi truk dan orang-orang yang sibuk menurunkan baju dan kain. Di tengah hiruk-pikuk itu, saya menyusuri deretan lapak Pasar Buku Bekas yang masih tertutup terpal. Tak ada tanda-tanda kehidupan, Saya pikir belum ada yang buka, tetapi lagi-lagi saya keliru.

Langkah kaki saya tiba di ujung pasar, terdengar lagu-lagu jadul dari kaset pita. Seorang bapak paruh baya duduk menikmati musik itu sambil menyapa, "Monggo, Mbak, cari buku apa." Itulah lapak milik Pak Tri Harjanto, 71 tahun. Ia membuka lapak pukul 08.00 setiap hari, sementara lapak-lapak lain jam bukanya tak menentu. Setiap ada orang melintas, ia menyapa, meski kalimatnya tak selalu terdengar jelas. Tragedi kecelakaan mengenai saraf kepalanya dan memaksanya menjalani beberapa kali operasi. Sapaan itu tetap keluar, dan lapaknya tetap buka.

Pertanyaannya sederhana muncul di kepala saya, untuk apa? orang makin jarang membaca, pembeli makin sedikit, dan sehari tanpa satu pun pembeli sudah menjadi hal biasa bagi Pak Tri, lalu kenapa Pak Tri tidak menutup lapaknya.

Lapak Buku Bekas Pak Tri (Sumber: foto pribadi)

Katanya Hanya Karena Suka

"Saya nikmati saja seadanya di masa tua dan sisa hidup saya," ujarnya. Jawaban itu terdengar terlalu sederhana, tetapi memang begitu adanya. Pak Tri suka dan nyaman dengan pekerjaannya. Ia paling senang saat menemukan buku langka atau antik. Ia sendiri juga sering membaca, terutama buku agama. Hal itu tercermin dari lapaknya yang banyak diisi buku bertema agama. Namun orang tidak membuka lapak setiap pagi hanya karena suka. Untuk memahami alasan Pak Tri, kita perlu melihat ke belakang.

Pedagang Pasar Klewer yang Pernah Jaya

Dulu, Pak Tri berjualan pakaian di Pasar Klewer sambil menjadi pengrajin gamelan. Usahanya tersebut jaya sampai ia punya enam pegawai. Pembeli datang membawa pulang dagangannya berpak-pak. Namun, krisis moneter terjadi, pada tahun 1997 usahanya harus gulung tikar. Namun, Pak Tri tak berlama-lama meratapi nasibnya. Di sekitar Pasar Klewer, ia melihat pasar buku bekas. Modal yang dibutuhkan untuk membuka lapak buku bekas tidak terlalu besar, dan ia masih menyimpan sisa untung dari berjualan baju. Pada 1999, lapak buku bekas Pak Tri berhasil dibuka. Sejak saat itu rutinitasnya tak berubah, setiap hari sehabis salat subuh, ia berburu buku ke Pasar Klitikan Notoharjo, lalu pukul 08.00 sudah duduk di lapak buku bekas Alun-Alun Utara. Di masa sebelum digitalisasi, lapak itu laris dan penghasilannya lebih dari cukup. Ia banyak menjual buku langka yang dicari pembaca senior dan kolektor kaya raya. Satu buku dengan tulisan Jawa pernah berhasil ia jual seharga Rp10 juta.

Zaman Berganti, Pembeli Pergi

Kini, semua itu tinggal cerita. Adanya digitalisasi tak perlu lagi mendatangi lapak untuk mencari bacaan langka. Semua tinggal diketik di internet dan sangat mudah menemukannya. Pembeli lapak Pak Tri saat ini kebanyakan dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang mencari harga murah, bukan lagi para kolektor atau pembaca senior yang mencari buku langka. Penghasilan Pak Tri pun tak ia tutupi. Hasil jualan sekarang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Ia pernah mencoba berjualan lewat marketplace, tapi di usia yang kian senja, ia memilih kembali ke lapak. Mungkin, orang yang pernah berada di puncak lalu jatuh tidak lagi gentar melihat lapak sepi. Uang yang pas-pasan baginya bukan akhir dari segalanya. Selama cukup untuk makan, hari-hari Pak Tri masih punya tujuan untuk dijalani.

Kios Ringkih di Tanah Keraton

(Sumber: foto pribadi)

Pasar tempatnya bertahan pun tidak sedang baik-baik saja. Kawasan ini berada di Alun-Alun Utara yang masih di bawah kekuasaan Keraton Kasunanan, sehingga kebijakan dan tata letaknya tidak bisa dicampuri Pemerintah Kota Surakarta. Akibatnya, pasar ini tak kunjung direvitalisasi. Bangunannya dibiarkan dimakan usia dan kios-kiosnya sudah terlihat sangat ringkih. Pedagangnya pun tidak dikenai biaya sewa, hanya iuran kebersihan Rp30 ribu per bulan. Dahulu, ada 20 pedagang atau lebih yang membuka lapak di Pasar Buku Bekas. Sekarang tinggal sekitar 10 yang aktif membuka lapaknya. Sebagai pedagang tertua, Pak Tri dituakan dan dipercaya menjadi ketua pedagang di Pasar Buku Bekas. Hubungan antarpedagang terjalin baik, barangkali karena yang tersisa memang mereka yang sama-sama memilih bertahan.

Jaga Lapak Sebulan, Anak Sudah Sambat

Satu hal yang tak bisa Pak Tri kendalikan adalah siapa yang kelak menjaga lapak ini. Kedua anaknya tidak mau meneruskannya. Mereka pernah mencoba menjaga lapak, tapi hanya bertahan sebulan. "Anak-anak saya cuma jaga satu bulan aja, sambat capek, nggak sabar," katanya. Mungkin kesabaran dan kesetiaan memang tak bisa diwariskan. Pak Tri memiliki lapak ini selama lebih dari 20 tahun, setelah melewati krisis, kebangkrutan, dan kecelakaan. Anak-anaknya tak punya alasan yang sama untuk mempertahankan lapak ini.

Meski begitu, Pak Tri tidak mengeluh. Pak Tri justru memiliki harapan yang terdengar seperti doa untuk orang lain.

"Semoga besok-besok rame, nggak cuma lapak yang di depan, tapi juga semua lapak,” ucap Pak Tri.

Pembeli memang lebih sering berhenti di lapak bagian depan dan jarang melirik sampai ke lapak paling belakang. Ia juga berharap pasar ini tetap ada, sebab pasar ini merupakan sumber nafkah bagi pedagang yang hanya ingin melanjutkan hidup.

Jadi, kenapa Pak Tri bertahan?

Pak Tri bertahan dengan lapaknya karena ia suka bekerja di antara buku, karena ia sudah pernah jaya dan pernah jatuh, sehingga sepi pembeli tak lagi terasa menakutkan, karena penghasilan yang pas-pasan masih cukup untuk makan sehari-hari, dan karena pasar ini dengan segala kios ringkihnya, masih menjadi tempat banyak orang menyambung hidup. Di akhir wawancara, Pak Tri mengucapkan terima kasih kepada saya. Lalu dengan senyum tulus, ia bercerita bahwa pagi itu ia baru saja menemukan sebuah kaset Nike Ardila. Bagi orang lain, itu mungkin hanya kaset bekas tetapi bagi Pak Tri, itu alasan kecil yang cukup untuk besok pagi kembali membuka lapak.