Senin Harga Naik: Siapa yang Benar Ketika Semua Orang Merasa Benar

Communication Student at Sebelas Maret University. I am currently in my third semester and am interested in public speaking, creative industry, and public relations.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lena Dewi A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul Film: Senin Harga Naik
Sutradara: Dinna Jasanti
Penulis: Rino Sarjono
Produser: Mithu Nisar
Produksi: Starvision
Durasi: 116 menit
Genre: Drama Keluarga
Pemeran: Nadya Arina, Meriam Bellina, Andri Mashadi, Nayla Denny Purnama, Givina Lukita Dewi, Brandon Salim, dan Hamish Daud
Tahun Rilis: 2026
Film dengan judul Senin Harga Naik awalnya terdengar seperti film bergenre komedi. Wajar jika muncul dugaan bahwa film ini akan penuh dengan komedi tanpa adanya drama keluarga yang mendalam. Namun, anggapan itu langsung dipatahkan begitu menonton filmnya hingga selesai. Karya terbaru sutradara Dinna Jasanti ini tampil sebagai salah satu film spesial Lebaran tahun 2026 yang menyentuh hati penonton.
Mutia (Nadya Arina) memilih pergi dari rumah setelah lelah menghadapi konflik atas campur tangan ibunya, Retno (Meriam Bellina) dalam setiap aspek hidupnya, mulai dari percintaan hingga karier. Retno adalah sosok ibu yang mengelola rumah tangga dengan cara yang sama ia mengelola Mercusuar, toko roti keluarga yang telah berdiri puluhan tahun, penuh kendali atas dirinya dan tidak terbuka untuk ruang kompromi.
Tiga tahun berselang, Mutia justru membuktikan bahwa ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Mutia kini menjadi salah satu karyawan berprestasi di sebuah perusahaan properti, dengan keahlian dalam negosiasi pembebasan lahan. Sayangnya, proyek terbaru yang ia tangani membawanya kembali ke tempat yang paling ia hindari, toko roti Mercusuar.
Pertemuan ini kembali membuka luka lama dan membuat Mutia mengetahui bahwa Amal (Andri Mashadi) sang kakak juga memilih pergi bersama istri dan anaknya. Sementara itu, Tasya (Nayla D. Purnama), anak bungsu yang bertahan menemani ibunya, diam-diam memendam mimpi menjadi pastry chef meski dikuliahkan di fakultas kedokteran atas kemauan Ibunya.
Kekuatan utama film ini terletak pada naskah garapan Rino Sarjono yang berhasil membedah setiap karakter secara merata, tanpa menjadikan siapa pun sebagai tokoh yang hitam putih. Retno, yang berpotensi hanya menjadi simbol ibu yang egois, justru ditulis dengan sentuhan rasa empati sehingga penonton bisa memahami penyebab dari sikap protektifnya, bukan sekadar membenci tokoh Retno.
Dari segi akting, para pemain berhasil menyampaikan emosi secara mendalam. Meriam Bellina berhasil memerankan dan meyakinkan sebagai ibu yang merasa kehilangan dan kesepian namun tetap mempertahankan sikap dingin, cuek, dan tegasnya. Di antara jajaran pemeran, Nayla D. Purnama justru mencuri perhatian lewat emosi Tasya yang paling kompleks, sekaligus menjadi bukti perkembangan aktingnya. Selingan komedi dari duo Aci Resti dan Arif Alfiansyah juga hadir di waktu dan tempat yang pas untuk mencairkan ketegangan tanpa mengganggu alur konflik utama.
Tema konflik keluarga yang dibalut isu properti dan warisan usaha turun-temurun membuat cerita ini terasa dekat dengan pengalaman banyak keluarga Indonesia. Ditambah, banyak keluarga Indonesia yang memiliki orang tua dingin dan kaku membuat film ini semakin terasa relate bagi sebagian besar penonton.
Sayangnya, tema keluarga yang penuh luka dan konflik karena ego semacam ini bukan hal baru di perfilman Indonesia sehingga film Senin Harga Naik tidak sepenuhnya mengangkat cerita yang fresh di dunia perfilman Tanah Air.
Bagian penutup film juga terasa terburu-buru. Upaya untuk menyelesaikan konflik setiap karakter dalam waktu yang tersisa membuat resolusi cerita terasa padat dan sedikit dipaksakan. Beberapa bagian masalah juga tidak diselesaikan seluruhnya seperti kejelasan nasib kisah cinta Mutia yang sebenarnya bisa dikembangkan. Adegan kilas balik masa lalu yang ada di film ini juga sebenarnya bisa dipangkas agar resolusi dari konfliknya tidak terasa terburu-buru.
Senin Harga Naik membuktikan bahwa judul yang terkesan komedi bisa menyimpan cerita yang jauh lebih dalam dari dugaan awal. Secara keseluruhan, film ini sebenarnya berbicara tentang rumah dalam makna yang lebih luas, bukan soal bangunan atau nilai jualnya, melainkan tentang orang-orang yang ada di dalamnya dan hubungan yang perlu terus dirawat serta dikomunikasikan. Meski mengangkat tema yang sudah cukup akrab di genre drama keluarga Indonesia, kekuatan penulisan karakter dan kualitas akting para pemainnya membuat film ini tetap memiliki rasa khasnya sendiri ketika setelah selesai menontonnya. Khususnya bagi penonton yang menyukai drama keluarga dengan emosi yang menjiwai.
