Niat Mengganti Puasa Ramadhan

Ilmu dan iman harus menjadi lentera dalam menyambut Ramadhan.
Tulisan dari Lentera Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puasa merupakan rukun islam ke-tiga yang wajib dilakukan umat muslim saat bulan Ramadhan. Namun, terdapat pengecualian kepada orang-orang tertentu yang memenuhi syarat tidak menjalankan puasa karena kondisi khusus.
Kondisi tersebut di antaranya adalah ibu hamil dan menyusui, lansia, penderita sakit kronis, atau musafir yaitu orang yang sedang dalam perjalanan.
Setelah Ramadhan selesai, mereka diwajibkan untuk mengganti puasa sesuai jumlah yang ditinggalkan. Penggantian puasa dapat dilakukan dilakukan dengan dua cara, yakni membayar utang puasa (Qadha) atau dengan membayar Fidiah.
Mereka yang meninggalkan puasa di bulan Ramadhan harus mengganti puasa wajib tersebut di luar bulan Ramadhan. Menurut Mazhab Syafi'i, bagi yang meng-Qada puasa Ramadhan tetap wajib mempunyai niat puasa Qada di malam hari.
Demikian diterangkan oleh Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna’-nya sebagai berikut. ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر.
Berikut artinya:
“Disyaratkan memasang niat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa Qadha, atau puasa Nadzar. Syarat ini berdasar pada hadits Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Iqna’, [Darul Fikr, Beirut: 2007 M/1428 H], juz II).
Berikut adalah lafal niat Qadha puasa:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.
Arti dari niat tersebut adalah:
“Aku berniat untuk meng-qadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”
