Konten dari Pengguna

Pentingnya Menjadi Muslim yang Sederhana, Tidak Berlebihan

Lentera Ramadhan

Lentera Ramadhan

Ilmu dan iman harus menjadi lentera dalam menyambut Ramadhan.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lentera Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Hemat setelah Punya Anak Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hemat setelah Punya Anak Foto: Pixabay

Dalam Surat Yunus ayat 58 disebutkan, umat Islam hendaknya berbahagia dengan turunnya karunia berupa Al-quran. Disebutkan, karunia tersebut lebih baik daripada apa yang umat Islam kumpulkan di dunia.

Untuk itu, sebagai umat Islam sepatutnya bangga dengan aturan dari Allah. Meski begitu tetap harus sederhana.

Berikut bunyi Surat Yunus ayat 58 beserta artinya:

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fa biżālika falyafraḥụ, huwa khairum mimmā yajma'ụn Terjemah

Artinya: Katakanlah Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

Dalam buku berjudul Tafsir Inspiratif (2018) yang ditulis Tata Taufik, dikatakan, Allah memerintah manusia untuk bergembira karena Alquran merupakan nikmat yang besar. Bahkan agama Islam juga termasuk sebuah nikmat. Untuk itu bergembiralah karena adanya nikmat-nikmat tersebut.

Ahli tafsir As-Sa’di menambahkan, kegembiraan itu diharapkan menumbuhkan jiwa sederhana. Karena, kenikmatan agama yang menyambungkan nikmat akhirat tak ada bandingnya dengan nikmat dunia yang bisa hilang dalam sekejap.

Selain kesederhanaan, rasa kegembiraan itu seyogyanya memacu untuk cinta ilmu dan menambah motivasi seseorang dalam melakukan kegiatan terpuji.

Ilustrasi berbuat baik kepada sesama akan mendatangkan kebaikan lain. Foto: Shutterstock

Jangan sampai, rasa bangga itu malah mendorong orang-orang untuk berlomba-lomba dalam melakukan perubahan tercela seperti yang tertuliskan dalam Surat Al-Qashash Ayat 76

إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبّ ٱلْفَرِحِينَ

Arab-Latin: Inna qārụna kāna ming qaumi mụsā fa bagā 'alaihim wa ātaināhu minal-kunụzi inna mafātiḥahụ latanū`u bil-'uṣbati ulil-quwwati qāla lahụ qaumuhụ tafraḥ innallāha yuḥibbul-fariḥīn

Artinya: Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri".

Dari cuplikan ayat di atas adalah sejumlah pelajaran yang bisa dipetik. Pertama, setiap muslim dianjurkan untuk bangga dengan Alquran dan keagamaannya. Akan tetapi, tetap harus bisa mengelola rasa bangga itu dengan kesederhanaan. Agar, bisa tahu mana yang patut dibanggakan dari perbuatannya. Artinya, bukan bangga dengan perbuatan tercela.