Konten Media Partner

35 Guru Luncurkan Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon

Lentera Maluku

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mien Lopulalan (kanan) dan Elizabeth Hiariej (kiri), (24/9). Dok : Lentera Maluku
zoom-in-whitePerbesar
Mien Lopulalan (kanan) dan Elizabeth Hiariej (kiri), (24/9). Dok : Lentera Maluku

Lentera Maluku. Setelah mendapatkan pelatihan menulis cerita rakyat dan bimbingan menulis dari Kantor Bahasa Maluku, kepada para guru se-kota Ambon di bulan Juli 2019 lalu, kini mereka bisa melihat karyanya masing-masing, yang telah dibukukan dalam Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon. Peluncuran buku tersebut dilaksanakan dalam kegiatan Gebyar Literasi Pulau Ambon, Selasa (24/9).

Namun, dalam proses pembuatan buku Antologi itu, beberapa penulis cerita rakyat Pulau Ambon, mengalami kesulitan, salah satu kendala yang dihadapi adalah minimnya sumber yang jelas dan narasumber yang ditemui sudah lanjut usia.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Mien Lopulalan, salah satu guru SMP Negeri 3 Ambon, yang ditemui Lentera Maluku (24/9). Diakuinya bahwa menipisnya narasumber kadang menjadi tantangan bagi para penulis cerita rakyat.

“Narasumber yang telah lanjut usia dan susah untuk kita ajak berkomunikasi, apalagi jika mereka telah mengalami gangguan pada pendengaran”, ungkap Lopulalan.

Lapulalan berharap, agar kedepannya anak-anak dapat menjadi penyambung lidah dari para penutur cerita rakyat di masa depan.

Sementara itu, Elizabeth Hiariej, salah satu Guru SMP Negeri 9 Ambon, melihat keberadaan cerita rakyat sangat penting untuk dijadikan pengembang anak-anak di Ambon.

“Bisa melatih anak-anak berkomunikasi dengan baik. Cerita rakyat ini juga dapat merangsang anak-anak untuk mengetahui ciri khas dan karakter dari tiap cerita rakyat masing-masing daerah”, tuturnya.

Lomba bertutur cerita rakyat (24/9). Dok : Lentera Maluku

Selain diadakan Peluncuran Buku Antologi Cerita Rakyat dalam Gebyar Literasi itu, Kantor Bahasa Maluku juga mengadakan Lomba Bertutur. Dari 35 guru SD dan SMP se-kota Ambon dan 60 siswa SD dan SMP se-kota Ambon yang terlibat , ada satu peserta yang menarik perhatian peserta yang lain.

Daniella Solaiman, siswa SMP N 9 Ambon, cukup cermat menuturkan cerita rakyat yang ia bacakan, dengan judul “Kisah Enam Orang Bersaudara”. Sebelum mengikuti lomba bertutur, ia juga pernah mengikuti lomba Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) pada tahun 2018 dan menjadi juara 1 tingkat Kota Ambon. Kegemaran literasi yang ia geluti membuat ia menjadi perwakilan Maluku di kegiatan OPSI tahun lalu dan mendapatkan juara 2 tingkat Nasional.

Daniella Solaiman, peserta lomba bertutur dari SMP Negeri 9 Ambon (24/9). Dok : Lentera Maluku

Saat ditemui wartawan Daniella mengakui bahwa, kegiatan lomba bertutur cerita rakyat sangat bagus untuk anak seusianya, yang lebih banyak kecanduan gadget ketimbang harus membaca buku. Karena dari kegiatan-kegiatan inilah, kata dia, memungkinkan siswa-siswi di Ambon lebih gemar membaca dan mengembangkan literasi.

“Kegiatan ini cukup tertantang bagi anak-anak seusia saya, karena selain ingin menjadi juara saya juga ingin membanggakan almamater Sekolah. Mungkin setelah lomba ini saya masih perlu banyak belajar untuk menulis cerita rakyat, tetapi saya akan terus kembangkan kemampuan saya dalam hal bertutur kedepannya”, tegas Daniella.

Pantauan wartawan, hanya dibutuhkan waktu lima menit untuk peserta lomba bertutur. Tantangan itu mengakibatkan peserta harus saling memperkuat penampilan mereka selama di panggung. Tiap peserta bukan hanya saling mengadu kemampuan, tetapi mereka juga harus saling mendukung, agar ajang seperti ini bukan hanya terpaku untuk memenangkan lomba, tapi bagaimana menimbulkan kesan persaudaraan yang harus tetap terjaga. (LM2)