Opini & Cerita
·
16 November 2019 1:59

Berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira

Konten ini diproduksi oleh Lentera Maluku
Berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira (133455)
Ruang Depan Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira, (Dok. Lentera Maluku)
Melihat rumah Hatta di Banda Neira yang terletak di jalan Nusantara. Persisnya, di sebelah Rumah Tahanan (Rutan) Banda Neira. Jumat, 15 November 2019.
ADVERTISEMENT
Di antara rumah-rumah Founding Fathers (Bapak Pendiri Bangsa) antara lain Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Iwa Kusuma Sumantri dan yang terakhir diasingkan ialah Mohammad Hatta beserta Sutan Sjahri. Rumah Hatta merupakan rumah yang paling sering dikunjungi wisatawan.
Rumah pengasingan Bung Hatta tersebut ternyata tak membawa dampak banyak bagi Emi Baadila, Juru Pemelihara Rumah Pengasingan Bung Hatta.E
Berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira (133456)
Emi Baadila, Juru Pemelihara Rumah Pengasingan Bung Hatta, (Dok. Lentera Maluku)
Menurut Emi, di dalam rumah ini rata-rata semua masih asli. Termasuk mesin tik, meja, kursi, tempat tidur, peralatan makan, foto-foto, bahkan kemeja, jas, dan sepatu pun masih disimpan dengan rapi.
"Semua barang yang menjadi peninggalan Bung Hatta, selalu saya rawat dengan sebaik mungkin. Bukan hanya membuka dan menutup pintu rumah pengasingan saja," ujarnya. (15/11)
Melanjuti hal demikian, Emi juga menjelaskan bahwa semenjak ia resmi ditetapkan sebagai Juru Pemelihara oleh Pemerintah Provinsi Maluku yang dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada 18-20 Agustus 2009, ia telah lebih dulu dititipkan untuk menjaga bangunan bersejarah ini oleh keluarga Des Alwi.
Berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira (133457)
Sertifikat Tenaga Teknis Kepurbakalaan Emi Baadila, (Dok. Lentera Maluku)
"Memang sebelum saya resmi ditetapkan oleh pihak pemerintah, kakak saya Deky telah menjaga rumah ini. Namun setelah dia meninggal dunia, saya yang menjadi penggantinya atas ajuan keluarga Des Alwi," ungkap Emi. (15/11)
ADVERTISEMENT
Sebelum Rumah Bung Hatta mulai dipugar tahun 1980, ternyata ada keluarga Lourenz yang sempat menempati bagian belakang rumah. Namun saat memasuki proses pemugaran, keluarga Lourenz pun diminta mengosongkan rumah tersebut dan rumah Bung Hatta diselesaikan pada tahun 1983. Tidak berselang lama, Rumah ini pun diresmikan oleh Prof. Dr. Haryati Soebadio pada tanggal 20 Oktober 1985, saat itu Haryati mewakili Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira (133458)
Bagian Belakang Rumah Bung Hatta, (Dok. Lentera Maluku)
Selama Emi menjaga Rumah Pengasingan Bung Hatta, Emi tidak begitu kesulitan, hanya saja sesekali ia sering mendapati pengunjung yang tidak mau menjaga barang-barang peninggalan Bung Hatta, walau ia telah menulis larangan seperti "Jangan duduk di kursi, mengambil barang tanpa izin atau duduk di tempat tidur".
ADVERTISEMENT
"Banyak pengunjung sering mencuri kesempatan jika saya tidak memperhatikan mereka. Akibatnya, beberapa tempat duduk yang memang sudah tidak kuat, menjadi rusak. Itupun saya sudah memperbaikinya dan kembali rusak lagi," tandasnya. (15/11)
Berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira (133459)
Mesin Tik di Ruangan Kerja, (Dok. Lentera Maluku)
Melanjuti itu, Emi mengaku bahwa ia pernah kedapatan sepatu milik Bung Hatta hilang dari rak lemari penyimpanan. Beberapa foto pun nyaris dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Emi sangat menyayangi jika masih ada orang yang belum sadar akan cagar warisan peninggalan tokoh kebangsaan ini.
"Sepatu Bung Hatta ternyata di curi oleh tetangga sebelah rumah. Untungnya ada bekas tanah dari sepatu itu. Ternyata ia curi saat ingin ke acara Pesta Joget. Mengetahui itu saya langsung laporkan ke pihak kepolisian untuk diproses lanjut," ungkap Emi. (15/11)
Berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira (133460)
Lemari Kas Bung Hatta, (Dok. Lentera Maluku)
Emi berpendapat, jika kita tidak sama-sama saling menjaga cagar warisan ini, maka kita tidak akan pernah tahu seberapa penting Banda Neira di mata dunia dan seberapa harus kita memelihara peninggalan bersejarah dari tiap tokoh kebangsaan. (LM2)
ADVERTISEMENT