Konten Media Partner

Langansa, Cara Warga Morella Sambut Malam 27 Ramadan

Lentera Maluku

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Langansa oleh Warga Morella. (31/5). Dok : FP
zoom-in-whitePerbesar
Langansa oleh Warga Morella. (31/5). Dok : FP

Lentera Maluku. Di Negeri Morella, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, salah satu tradisi yang sering dilakukan tiap malam 27 Ramadan adalah tradisi malam tujuh likur, tradisi ini dilaksanakan untuk menyambut malam Lailatul Qadar.

Oleh warga setempat, mereka menyebutnya malam Langansa, yang artinya makanan atau buah-buahan ditaruh pada sebuah wadah yang terbuat dari pelapah sagu, kemudian diantar oleh para wanita ke Masjid Raya Al-Muttaqim Morella. Tujuannya untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak, namun lebih diprioritaskan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin.

Langansa. (31/5). Dok: Kezya

Seperti yang kita ketahui bahwa bulan Ramadan adalah bulan mulia dan penuh berkah, semua umat muslim di jagat raya ini memuliakannya dengan cara masing-masing, sesuai dengan kebiasaan, adat dan tradisi yang sudah turun temurun.

Ada yang memanfaatkannya dengan beribadah penuh di masjid maupun di rumah, ada juga yang menggunakannya untuk bersedekah, tujuannya hanya satu yakni untuk meraih pahala dari Allah.

Sama halnya dengan Negeri Morella. Pada Jumat (26/5), tepatnya malam 27 Ramadan 1440 H, warga Morella yang pendudukanya 100 persen muslim ini, juga melaksanakan kewajiban-kewajiban itu. Tidak ketinggalan mereka juga melakukan tradisi adat yakni tradisi malam 27 Ramadan atau malam Langansa.

Nampak seorang anak yang sudah mendapat bagian langansa. (31/5). Dok: FP

Proses malam Langansa dimulai dari pengumpulan makanan dan buah-buahan oleh warga di setiap rumah penghulu masjid, tokoh-tokoh adat, dan Raja Negeri Morella (Kepala Desa), kemudian diantarkan ke masjid oleh para wanita usai salat magrib. Setelah semuanya terkumpul di masjid, hantaran itu akan dibagi-bagikan lagi pada anak-anak dan juga peserta Hadrat.

Hadrat pada malam tujuh likur. (31/5). Dok : FP

Menariknya lagi, malam tujuh likur ini, juga dilakukan atraksi Hadrat (iringan musik rebana) oleh para pria dewasa, yang dalam lantunan Hadrat itu adalah zikir, untuk menjunjung Nabi Muhammad SAW. Zikir tersebut dinyanyikan yang diiringi dengan musik rebana. Usai proses Langansa dan Hadrat, kemudian dilanjutkan dengan salat isya dan tarawih.

Tradisi kebudayaan seperti inilah yang menjadi kekayaan budaya Indonesia, khususnya Maluku agar selalu dilestarikan. (LM1)