Konten Media Partner

Pendidikan di Seira Kepulauan Tanimbar Butuh Perhatian Serius

Lentera Maluku

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Potret pendidikan di Seira. Dok Gerson Balak
zoom-in-whitePerbesar
Potret pendidikan di Seira. Dok Gerson Balak

Lentera Maluku. Saat ini, Pendidikan di Desa Seira Kecamatan Wermaktian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, belum begitu menjadi perhatian serius oleh masyarakat setempat. Faktanya masih ditemukan adanya persoalan putus sekolah dikalangan anak-anak, sementara para orang tua menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja.

Bedasarkan data yang dihimpun oleh Lentera Maluku, bahwa masalah sosial yang nyaris menggorogoti jantung kehidupan sosial masyarakat Seira saat ini, adalah bukti dari pengabaian terhadap pendidikan dimasa silam.

Mirisnya, anak-anak lebih memilih untuk tidak bersekolah, bahkan putus sekolah. Karena lebih tertarik bermain di laut sambil mencari ikan untuk dijual. Sementara para pemuda mabuk-mabukan, berpesta, berkelahi, bermusuhan politik, para remaja hamil di usia dini, menikah muda, pembunuhan, pemerkosaan dan begitu banyak kejahatan lain, angka kriminal tertinggi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, ada di Seira.

Hal ini, minumbulkan rasa kuatir tersendiri bagi pihak sekolah, bahkan Kepala Sekolah SMA Negeri Ampera Wernaktian, mengatakan dia begitu takut, bila tiba libur panjang. Karena setelah libur itu, pasti ada anak yang menikah, hamil dan memilih putus sekolah karena sudah terlena dengan lingkungan.

Semua itu terjadi, bagaikan sebuah lingkaran setan yang terus membelenggu kehidupan masyarakat Seira saat ini.

Persoalan putus sekolah memang tidak memberatkan orang tua dari sisi finasial, namum dilain pihak, karena tidak memiliki wawasan yang baik akibat putus sekolah, sehingga penghasilan yang diperolah tidak dimafaatkan untuk hal-hal yang produktif, tetapi malah digunakan untuk hal-hal yang destruktif, seperti mabuk-mabukan yang berujung pada tindakan Kriminal.

Beruntungnya, masih ada sebagian pemuda yang peduli dengan masa depan generasi Seira, mereka yang bergerak dalam komunitas peduli pendidikan Seira, tidak mau biarkan masalah diatas terus berlarut-larut.

Kegiatan belajar yang diupayakan oleh oleh Relawan Komunitas Seira Cerdas (Dok. KSC)

Menurut Pembina Ikatan Keluarga Lima Satu (IKLAS) Seira, Gerson Balak, bahwa yang menjadi persoalan pendidikan di Seira adalah:

  1. Tingkat literasi anak-anak masih rendah, kemampuan baca tulis masih kurang, bahkan anak-anak Seira yang sudah berada pada jenjang SMP dan SMA pun, ada yang belum bisa baca dengan baik.

  2. Masyarakat masih beranggapan bahwa tanggung jawab untuk mengajarkan anak-anak mereka adalah tanggung jawab sekolah. Padahal tuntutan pendidikan saat ini, harus dibangun atas kerjasama orang tua dan guru secara baik dalam mendidik anak-anak.

  3. Kurangnya pendidikan karakter bagi anak-anak Seira dilingkungan keluarga, sehingga anak bertumbuh tanpa basic pendidikan karakter yang baik.

  4. Kurangnya peran Pemerintah Desa dalam menyuarakan pendidikan karakter dilingkungan masyarakat. Belum ada aturan atau kebijakan ditingkat desa yang ketat, terhadap peran orang tua dan lingkungan, untuk mendidik anak-anak Seira agar miliki karakter yang baik.

  5. Kurangnya tenaga pengajar yang kompoten di sekolah-sekolah Seira. Hal ini berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Daerah yaitu Dinas Pendidikan, dalam membuat kebijakan distribusi guru yang tidak merata di kabupaten Kepulauan Tanimbar.

  6. Lingkungan sosial masyarakat Seira yang sering menjerumuskan anak-anak dalam pengaruh negativ ketimbang positif.

Melihat persoalan tersebut, Gerson dan beberapa aktivis yang peduli dengan pendidikan di Seira, kemudian membuat telaah terhadap berbagai masukan, dengan membuat rekomendasi untuk disampaikan kepada para pemangku kepentingan di desa Seira maupun Pemerintah Daerah Kabupaten.

  • Pendidikan Karakter mesti diberlakukan kepada semua keluarga di Desa Seira. Keluarga harus dijadikan sebagai institusi pendidikan karakter dan pengetahuan. Karena keluarga adalah tempat dimana anak-anak pertama kali mengenal nilai-nilai dasar kesopanan, etika, moral dan budi pekerti yang luhur.

  • Pendidikan Karakter juga perlu diajarkan di sekolah, mulai dari tingkat SD, SMP sampai SMA.

  • Kedepaannya, harus ada aturan dari PEMDES yang mengatur fungsi pemdampingan dan pegawasan dari orang tua, kepada anak-anak. Jika para orang tua hendak ke kebun, minimal salah satu dari mereka (ibu/pengampuh) harus tetap tinggal bersama anak-anak tersebut. Sehingga, mereka tetap ada dalam pengawasan orang tua, hal ini juga akan membawa dampak positif, agar anak-anak Seira tidak miskin perhatian dan kasih sayang dari orangtua mereka.

  • Dihidupkan lagi jam belajar malam di desa Seira, dengan wajib belajar jam 8 malam untuk semua jenjang Sekolah, berupa kelompok belajar maupun perorangan. Para orang tua pun wajib mendapingi anak untuk belajar malam, serta pengawasan dilakukan oleh LINMAS DESA.

  • Perpustakaan sekolah dan desa, harus digunakan dan dikelolah secara kreatif, supaya menarik perhatian anak untuk membaca, melakukan kampanye anak Seira gemar membaca. Harus ada upaya dari Pemerintah Desa, Sekolah, Gereja dan Komunitas pendidikan untuk meransang kemauan membaca anak, dengan membuka lapak baca di desa sehingga menarik perhatian anak.

  • Demi mengatasi angka putus sekolah di desa Seira, maka Pemerintah Desa harus membuat aturan tegas kepada pemilik bagan, untuk tidak mempekerjakan anak-anak yang masih usia sekolah. Karena sejauh ini, bagan menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak Seira, yang dengan mudah mendapatkan uang, sehingga memilih berhenti sekolah untuk turun mengais rezky di bagan, begitu juga dengan lokasi kelolah agar-agar.

  • Pemerintah Desa mesti membuat aturan desa, yang memberikan sanksi tegas, kepada orang tua yang membiarkan anaknya putus sekolah, kerjasama dengan aparat kepolisian dan memaksimalkan fungis LINMAS DESA.

  • Untuk mengatsi masalah jumlah guru yang tidak representative di Seira, maka mereka harus menyuarakan persoalan tersebut, ke Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan & Kebudayaan, atau langsung pada Bupati dan Wakli Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

  • Mereka juga berharap ada wakil rakyat dapat memperjuangkan aspirasi mereka di dunia pendidikan.

Persoalan di Seira juga menjadi perhatian Yayasan Pendidikan Heka Leka, katakanlah Stanley Ferdinansdus yang pernah melakukan kunjungan beberapa waktu lalu di Seira.

“Hari ini Seira masih ditetapkan sebagai desa dengan angka kriminal tertinggi. Namun, jika kita tidak mencoba untuk menyelasaikan ini semua dengan menjadikan Pendidikan sebagai sebuah gerakan bersama, maka bisa saja Seira akan menjadi Sodom dan Gomora pada masa-masa yang akan datang”, kata Stanley.

Mendalami perkataan itu, Gerson Balak menyimpulkan bahwa Seira bisa pulih dari berbagai problemnya, jika mereka mau membenahi pendidikannya.

“Kita harusnya menyadari bahwa pembangunan Desa Seira dimasa kini dan masa depan sangat tergantung pada kualitas sumberdaya manusianya. Sebagai pintu masuk dalam rangka memperolah kualitas sumberdaya manusia Seira yang baik dan berkualitas, maka pendidikan merupakan instrument penting yang mesti diperhatikan oleh semua komponen masyarakat Seira baik, Sekolah, Pemerintah Desa, Gereja, orang tua dan semua stakholder Desa Seira”, kata Gerson.

Menurutnya, kedepan rencana pengembangan pendidikan Seira harus diformat sebagai sebuah gerakan bersama yang melibatkan semua komponen Desa tanpa terkecuali.

Beta tambahkan satu hal bahwa ini bukan saatnya lagi untuk kita harus bermusuhan, namum zaman ini adalah zaman dimana kita harus berkolaborasi, bekerjasama membenahi pendidikan Seira, demi masa depan seira yang lebih baik “, tandasnya. (LM1)