Siswa Korban Gempa Takut Kembali ke Sekolah, Guru Buat Kelas Darurat

Lentera Maluku. Kondisi pascagempa di Negeri Kailolo, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah masih meninggalkan trauma yang dalam bagi anak-anak. Sampai saat ini, para siswa masih takut untuk masuk ke kelas.
Seperti yang terjadi pada Madrassah Ibtidaiyah Negeri 7 Maluku Tengah. Pihak sekolah terpaksa harus membuat kelas darurat bagi siswanya, apalagi bangungan sekolah juga tergolong rusak sedang akibat goncangan gempa 6.5 SR yang terjadi pada Kamis (26/9), lalu.
Dengan menggunakan terpal, kelas itu baru dibangun seminggu yang lalu, setidaknya dapat melindungi 100 lebih siswa dari panas dan hujan. Sebelumnya, empat hari setelah gempa siswa-siswa di Madrasaah Ibtidaiyah Negeri 7 ini hanya menumpang belajar di emperan Madrassah Tsanawiyah dan Madrassah Aliyah milik Yayasan Al-Islah. Namun sesuai persetujuan pihak sekolah MI boleh membangunkan kelas darurat di lingkungan tersebut.
Menurut salah satu guru MI yang ditemui Lentera Maluku (14/10), Saida Tomagola, Ia mengaku bahwa bukan hanya para siswa saja yang mengalami trauma, namun dia pun juga mengalami kondisi yang sama. Pasalnya kejadian gempa yang mengguncang Maluku itu membuat dirinya jatuh di dalam kelas, beruntungnya Saida dapat diselamatkan.
“Kelas itu dibikin satu minggu yang lalu, tapi belum selesai. Kelas ini dibangun untuk kenyamanan siswa. Siswa masih trauma, saat kami ajak untuk kembali ke sekolah, mereka tidak mau. Karena kondisi pertama mereka berada di dalam ruang kelas, kejadian itu membuat siswa jatuh, termasuk beta (saya) dan dewan guru juga jatuh, beta (saya) jatuh-bangun sampai ditarik keluar, karena goncangan kuat, bayangan kematian itu sudah ada,” ungkap Saida.
Menurutnya, sampai saat ini setiap kali siswa mendengar gerakan apapun yang mengagetkan, meraka langsung lari berhemburan keluar, saking traumanya suara guntur pun membuat mereka keluar ke lapangan.
“Mereka lebih aman belajar di luar, untuk sementara ini kami masih fokus pada pisikologis anak-anak dengan menghibur mereka, banyak bercerita dan diskusi. Kami juga singgung pelajaran sedikit, tetapi belum bisa langsung masuk pada proses pembelajaran seperti biasa”, katanya.
Saida juga menjadi korban gempa, saat ini dia tinggal bersama keluarganya di tenda pengungsian bersama 5 KK atau 30 jiwa dalam satu tenda. Dia memaparkan kondisi para siswa yang masih trauma belum bisa dipaksa untuk belajar seperti proses pembelajaran biasanya, mereka masih melakukan trauma healing untuk anak didik.
Sementara itu, dua siswa MI yang berhasil ditemui wartawan di tenda pengungsian, Ramdani dan Julfikar mengaku belum berani kembali masuk ke Sekolah.
“Kita lebih enak sekolah di kelas darurat”, kata Ramdani.
“Karena ada kakak-kakak kami yang bisa menjaga kami dari saat yang berbahaya”, ungkap Julfikar.
“Beta masih takut”, ungkap Ramdani, siswa kelas III Madrassah Ibtidaiyah.
Bangunan tenda untuk kelas darurat siswa, berada ditengah lingkungan MTS dan Madrassah Aliyah, tentu saja para siswa MI akan nyaman bisa bersama siswa MTS maupun Madrassah Aliyah. (LM1)
