Konten Media Partner

Sosok Mama Ina sang Penjual Rujak, Ogah Larut dalam Trauma Gempa Ambon

Lentera Maluku

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mama Ina, penjual rujak di Pantai Natsepa, Sabtu (28/9). Dok : Lentera Maluku
zoom-in-whitePerbesar
Mama Ina, penjual rujak di Pantai Natsepa, Sabtu (28/9). Dok : Lentera Maluku

Lentera Maluku. Pantai Natsepa merupakan salah satu tempat wisata di Maluku yang sering dikunjungi oleh banyak wisatawan. Namun, akhir pekan ini tidak seperti akhir pekan biasanya. Masih sepi, padahal biasanya ramai.

Pasalnya, setelah bencana gempa berkekuatan 6,8 magnitudo menguncang Pulau Ambon dan sekitarnya pada Kamis (26/9), sebagaian warga Pantai Natsepa yang kesehariannya berdagang kuliner rujak memilih untuk mengamankan diri bersama keluarga ke tempat yang jauh dari pesisir pantai.

Kondisi Pantai Natsepa pasca gempa (28/9). Dok : Lentera Maluku

Meski begitu, berdasarkan pantauan Lentera Maluku, ternyata masih ada tiga pedagang rujak yang bertahan, membuka lapaknya, menjajakan rujak. Padahal, trauma warga belum sepenuhnya hilang, sebab sempat terjadi juga gempa susulan.

Mama Ina--begitu ia akrab disapa--adalah salah satu pedagang rujak yang bertahan. Ia mengaku saat gempa mengguncang, dirinya juga sempat mengungsi. Namun, ia tidak mau larut dalam ketakutan, memilih kembali mencari nafkah.

”Kita juga ikut mengungsi, cuma kalau terus mengungsi kita tidak dapat pemasukan untuk melanjutkan hidup di keluarga,” ujarnya.

Mama Ina saat melayani pembeli rujak Natsepa (28/9). Dok : Lentera Maluku

Berdasarkan data BMKG Maluku, tercatat sudah ada 534 kali gempa susulan mengguncang Pulau Ambon selama 26-28 September 2019. Meski begitu, tidak menjadi masalah bagi sebagian masyarakat yang ingin terus memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk Mama Ina.

Walaupun BNPB telah menyiapkan dana buat korban bencana, warga tetap tidak terpaku kalau sudah bicara mengenai biaya kehidupan pribadi.

“Saya terpaksa karena ini menjadi tuntutan sehari-hari, kalau tidak berdagang anak kita mau dibiayai sekolah dan kuliah pakai apa?” ungkap Mama Ina.

Mama Ina terlihat tegar dan tidak bergantung pada bantuan, meski demikian ia tetap berharap agar bantuan segera disalurkan kepada masyarakat yang terkena dampak gempa. Menurutnya, trauma gempa pasti belum akan hilang jika gempa susulan masih terus berlangsung. (LM2)