Konten Media Partner

Ukulele Sebagai Penggerak Perdamain di Maluku

Lentera Maluku

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

 Amboina Ukulele Kids Community saat latihan (22/8). Dok : Lentera Maluku
zoom-in-whitePerbesar
Amboina Ukulele Kids Community saat latihan (22/8). Dok : Lentera Maluku

Lentera Maluku. Pada tahun 1880 Ukulele masuk ke Indonesia dan dibawa ke Maluku. Mulai dari Banda Neira hingga berkembang di Pulau Ambon oleh pedagang Portugis. Kemudian berlanjut ke keroncong di Pulau Jawa.

Namun, seiring berkembangnya zaman, Ukulele jarang digunakan, sehingga banyak anak-anak di Ambon tidak tahu memainkannya. Lalu Nicho Tilalessy, berinisiatif untuk mendirikian Amboina Ukulele Kids Community. Hal ini karena dia berpikir bahwa orang Ambon punya potensi dalam memainkan musik yang berkarakter.

“Kita di Ambon punya satu karakteristik main ukulele yang cukup baik ketimbang di kota lain”, ungkapnya kepada Lentera Maluku (22/8).

Sebelumnya Nicho dan beberapa temannya telah membentuk komunitas ukulele untuk orang dewasa, yang diberi nama “Ukulele Grup”, sebagai motivasi untuk anak-anak kecil di Ambon.

Nicho Talalessy bersama Amboina Ukulele Kids Community saat latihan (22/8). Dok : Lentera Maluku

Kemudian, mereka bentuk lagi untuk kalangan anak-anak. Bermula dari 8 orang, termasuk anak Nicho dan teman-temannya, mereka membentuk komunitas kecil itu di Desa Amahusu, Kecamatan Nusaniwe. Hingga saat ini anggota komunitas sudah mencapai lebih dari 100 anak-anak.

Dia tidak hanya menumbuhkan kecintaan seninya kepada mereka, namun Nicho telah membuktikan bahwa dari ukulele masyarakat Maluku bisa belajar toleransi, kecanduan gadget dan banyak hal tentang perdamaian.

Untuk mengenalkan Ukulele pada publik, Nicho pun memposting aksi anak-anak bermain ukulele di laman Facebooknya, sekaligus mencari bantuan donasi di Indonesia, Australia hingga Selandia Baru.

Amboina Ukulele Kids Community saat latihan (22/8). Dok : Lentera Maluku

Menariknya, saat ini lokasi latihan di Amahusu menjadi destinasi wisata baru untuk wisatawan. Pasalnya dalam musik ukulele anak-anak telah hidup bersama dengan nilai toleransi yang baik.

Walikota Ambon dan Dinas Pariwisata Provinsi Maluku (DISPAR) pun menerima baik langkah Amboina Ukulele Kids Community, untuk mengembangkan Pariwisata Maluku di tahun-tahun mendatang.

Kata Nicho, tahun depan pihaknya akan membuat Festival Ukulele, karena ukulele sendiri bersifat Sustainable.

Hal ini juga dijelaskan oleh Plt DISPAR Maluku, Erawan Asikin, saat ditemui wartawan (22/8), “Perencanaan tersebut masih sebatas ide awal, yang mungkin nanti bisa kita kembangkan lagi dalam sebuah konsep yang jelas dan rinci. Tentu itu saja tergantung dari Amboina Ukulele Kids Community, karena mereka yang menjadi penggerak”, kata Erawan. (LM2)