Konten dari Pengguna

CIC Uzbekistan: Tempat Baru Buat Turis Indonesia Latah Foto

Leo Galuh

Leo Galuh

Jurnalis Multimedia Lepas yang Berbasis di Indonesia

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Leo Galuh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan tiba di Tashkent pada sore musim gugur. Aroma teh panas bercampur dengan wangi roti lepeshka yang baru keluar dari tungku, suara riuh bazar berbaur dengan lantunan musik tradisional yang mengalun dari kejauhan.

Uzbekistan, negeri yang pernah jadi denyut nadi Jalur Sutra, kini tengah diselimuti euforia baru.

Bukan hanya karena tim nasionalnya mencetak sejarah dengan lolos ke Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, tetapi juga karena sebuah mimpi besar sedang menunggu untuk diresmikan.

Menjelang akhir 2025, Tashkent akan memperlihatkan wajah barunya lewat Pusat Peradaban Islam. Sebuah bangunan megah yang berdiri sebagai simbol identitas sekaligus jendela menuju dunia, seperti dikutip dari laman resmi Pusat Peradaban Islam.

Berkenalan dengan CIC

Gedung Pusat Peradaban Islam di Tashkent. Sumber: Center of Islamic Civilization in Uzbekistan.

Di balik lengkung kubah dan marmer yang berkilau, Presiden Shavkat Mirziyoyev ingin lebih dari sekadar membangun monumen. Ia ingin menegaskan bahwa Uzbekistan, dengan sejarahnya yang panjang dan peradabannya yang kaya, masih punya suara penting dalam percakapan global.

Di tengah lanskap modern Tashkent yang terus berkembang, Pusat Peradaban Islam (CIC) berdiri bak permata baru.

Bangunan tiga lantai senilai 200 juta dolar Amerika Serikat ini menjulang megah dengan ukuran 145 x 115 meter, seakan ingin menegaskan kehadirannya di peta dunia.

Kubah setinggi 65 meter menjadi episentrum yang memikat mata setiap pengunjung, menjanjikan pengalaman yang tak sekadar visual, tetapi juga spiritual.

Begitu melangkah ke dalam, dunia yang lebih luas terbuka. Ada museum dengan area sekitar 15.000 meter persegi yang menyimpan jejak panjang peradaban Islam di Asia Tengah, lengkap dengan ruang pameran yang dirancang untuk membawa pengunjung menyusuri sejarah.

Pusat Peradaban Islam tak hanya memamerkan artefak, tetapi juga menjadi pusat pengetahuan. Fasilitas baru ini dilengkapi dengan pusat penelitian, laboratorium restorasi, hingga fasilitas digitalisasi data. Semua dirancang untuk menjaga, meneliti, dan menghidupkan kembali warisan yang nyaris terlupakan.

“Melalui Pusat Peradaban Islam, Uzbekistan ingin menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang penuh kebaikan, humanis, dan pencerahan,” kata Presiden Shavkat.

Destinasi baru bagi turis Indonesia

Tenda yurt. Tempa tinggal tradisional orang Uzbekistan. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Bagi wisatawan Asia Tenggara, terutama dari Indonesia, niat besar Uzbekistan ini membuka pintu kesempatan baru. Tak sekadar menjejakkan kaki di negeri Jalur Sutra, tetapi juga merasakan denyut spiritual yang kini hidup kembali lewat Pusat Peradaban Islam.

Lokasinya pun strategis, berdampingan dengan kompleks Hazrati Imam yang sudah lama jadi magnet ziarah dan sejarah.

Di sinilah terletak salah satu harta paling berharga: Mushaf Utsmani, manuskrip Al-Qur’an kuno yang diyakini sebagai salah satu yang tertua di dunia. Keaslian dan nilainya sudah diakui UNESCO melalui daftar Memory of the World Register—penghormatan tertinggi bagi warisan budaya dunia.

Bagi turis Indonesia, momen memasuki aula segi delapan di bawah kubah utama setinggi 65 meter bisa terasa bagai langkah kecil menuju perjalanan besar.

Di ruang yang sakral dan penuh cahaya ini, pengunjung bisa menikmati pengalaman berikut:

1. Uzbekistan Modern

Begitu melangkah ke dalam, pengunjung bukan hanya disuguhi artefak masa silam, tetapi juga diajak menatap wajah baru Uzbekistan. Di bawah kubah megah CIC, terasa bagaimana negeri ini tengah merangkai sebuah era kebangkitan: ruang-ruang pamer berbicara tentang pendidikan yang kian terbuka, sudut-sudut diskusi menghidupkan dialog antaragama, sementara fasilitas modern menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan.

Miri-Arab Madrasah di Bukhara. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Di sinilah sejarah berpadu dengan inovasi—masa lalu yang gemilang bersalaman dengan masa depan yang penuh harapan. Uzbekistan seolah ingin menunjukkan bahwa warisan peradaban tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga menjadi landasan bagi perjalanan baru mereka di panggung dunia.

2. Renaisans kedua

Di ruang-ruang tertentu, pengunjung seakan diajak menyeberang waktu ke era keemasan Timuriyah. Uzbekistan menghadirkannya kembali dengan penuh kebanggaan: observatorium Ulugh Beg direkonstruksi, seolah kubah bintang abad ke-15 itu kembali menatap langit malam Asia Tengah.

Di balik dinding-dinding pameran, kisah para cendekiawan dan pemikir besar dihidupkan lagi. Ilmuwan, matematikawan, hingga filsuf yang dulu memberi warna bagi sejarah peradaban Islam dan dunia. Semua dirangkai bukan sekadar untuk dikenang, melainkan untuk menunjukkan bahwa warisan intelektual masa lalu masih bisa memberi inspirasi bagi perjalanan modern Uzbekistan.

3. Renaisans pertama

Bukhara Samanid Mausoleum. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Kita sebagai pengunjung bisa menyelami pemikiran-pemikiran luar biasa cendekiawan seperti al-Khwarizmi, al-Fergani, Ibn Sina, dan al-Biruni dalam dunia pendidikan. Misalnya saja, matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat. Pemikiran mereka menjadi fondasi ilmu pengetahuan modern bagi generasi selanjutnya di seluruh dunia.

Tidak hanya itu, periode ini menjadi era penting bagi perkembangan teologi Islam yang memainkan peran penting penyebaran Islam di kawasan Asia Tengah. Tokoh-tokoh besar seperti Imam al-Bukhari dan Imam at-Tirmidhi mengumpulkan hadist-hadist sahis Nabi Muhammad SAW.

4. Warisan pra-Islam

Bagi turis Indonesia yang haus akan jejak sejarah, Pusat Peradaban Islam ini ibarat oase pengetahuan. Di sini, mereka bisa menapaktilasi peradaban kuno yang pernah berjaya di Asia Tengah. Seperti Khwarezm yang kaya akan ilmu pengetahuan, Bactria yang legendaris, Sogdiana dengan warisan Jalur Sutra, hingga Chach, cikal bakal Tashkent modern.

Di balik vitrin kaca, terpampang bukti kemajuan metalurgi yang pernah membawa wilayah ini pada masa keemasan teknologi awal. Lebih jauh lagi, pengunjung juga diajak menyusuri lapisan kepercayaan kuno warisan Zoroastrian. Kepercayaan yang pernah menjadi fondasi spiritual masyarakat sebelum kedatangan Islam.