Timbulsloko, Desa di Demak yang Perlahan Tenggelam Akibat Rob

Jurnalis Multimedia Lepas yang Berbasis di Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Leo Galuh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Timbulsloko merupakan desa pesisir di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Semarang. Desa seluas 461 hektare ini memiliki garis pantai sepanjang 4,5 kilometer.
Menurut laporan Kompas, sejak 2012, Timbulsloko mulai terendam banjir rob setinggi 5–10 sentimeter yang hanya muncul beberapa jam pada waktu-waktu tertentu. Namun, penurunan tanah sekitar 10 sentimeter per tahun membuat air laut terus naik. Kini, rob semakin parah dengan ketinggian mencapai 1,5 meter, bahkan lebih dari 2 meter saat pasang tinggi.
Desa Timbulsloko terdiri atas empat dusun: Bogorame, Timbulsloko, Wonorejo, dan Karanggeneng. Berdasarkan data Mongabay, penduduknya berjumlah sekitar 3.710 jiwa, sebagian besar bekerja sebagai nelayan tradisional dan buruh pabrik. Sementara itu, aparat desa menyebutkan ada sekitar 1.900 kepala keluarga, namun data pasti dari BPS Kabupaten Demak belum tersedia.
Warga Berpenghasilan Rendah
Sekitar 50% dari 1.900 keluarga terdampak langsung oleh banjir rob. Pemerintah Kabupaten Demak bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menawarkan solusi: warga diperbolehkan memilih lahan di daerah yang jauh dari pantai, dan rumah akan dibangun secara gratis oleh pemerintah. Namun, banyak warga tidak mampu menebus lahan karena keterbatasan ekonomi.
“Mereka tidak sanggup mencicil tanah yang diinginkan,” ujar salah satu perangkat desa. Banyak warga juga tidak memiliki keahlian lain selain menangkap udang, kepiting, dan kerang di kawasan pesisir.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah membangun 12 rumah untuk 12 keluarga, sedangkan Pemerintah Kabupaten Demak sedang membangun 9 rumah lainnya. Namun, hingga kini warga belum direlokasi karena kendala administrasi.
Untuk bertahan, warga harus mengumpulkan uang guna meninggikan lantai dan atap rumah agar tidak terus terendam. Selain itu, mereka yang memiliki motor harus membayar biaya parkir harian Rp5.000 di rumah warga yang tidak terdampak, lalu menyeberang dengan perahu motor tanpa pelampung ke dusun yang terendam dengan ongkos Rp5.000 sekali jalan. Artinya, warga pekerja pabrik harus mengeluarkan sedikitnya Rp15.000 per hari untuk transportasi.
Hidup Tanpa Harapan
Peneliti kami menggunakan perahu motor kecil berkapasitas empat orang untuk mencapai dusun paling parah. Perjalanan lima menit melintasi genangan yang dulunya kolam ikan warga membawa kami ke rumah Azhar (43), tokoh lokal yang sering mewakili warga dalam mencari bantuan.
Tahun lalu, ia berhasil mendapatkan dana kabupaten untuk membangun jalan kayu sepanjang 1,3 kilometer yang menghubungkan rumah warga dengan pelabuhan kecil dekat masjid. Namun, jalan itu kini terancam rusak karena penyangga bambunya mulai rapuh.
Sekitar 30% dari 158 keluarga di dusun Timbulsloko telah meninggalkan wilayah itu karena tak sanggup lagi hidup di tengah genangan. Mereka yang pergi umumnya buruh pabrik yang masih bisa menabung. Sementara Azhar dan warga lainnya, yang hidup dari hasil tangkapan udang, tidak punya harapan serupa.
“Hari ini saya cuma dapat 3 ons udang, dijual Rp13.000,” katanya. “Paling banyak 8 ons per hari. Sebulan paling-paling dapat Rp500.000. Kami hanya bisa memikirkan apa yang bisa dimakan besok.”
Ketika ditanya soal masa depan, Azhar hanya menjawab lirih, “Tiga atau lima tahun ke depan? Tak ada harapan. Kami sudah bersyukur masih bisa makan hari ini.”
Pendidikan Rendah dan Krisis Sanitasi
Ketika disarankan beralih profesi menjadi pengemudi ojek daring, Azhar menggeleng. “Kami tak punya motor,” ujarnya. Hampir tak ada warga yang lulusan perguruan tinggi, bahkan banyak yang berhenti di sekolah menengah pertama.
“Sedikit sekali yang tamat SMA. Orang tua kami tak mampu bayar biaya sekolah,” ujarnya. Anak-anak di dusunnya sering membantu orang tua mencari udang dan kepiting sepulang sekolah.
Meski telah meninggikan rumah dari kayu, banjir rob tetap masuk tanpa bisa diprediksi. Air laut yang meluap sering membawa kotoran manusia karena rumah warga tak memiliki saluran pembuangan. Warga akhirnya bergantung pada toilet umum.
Masalah lain ialah air bersih. Mereka harus membeli air galon isi ulang dari Kota Demak seharga Rp12.000 per galon. “Kalau tak punya uang, kami tak mandi berhari-hari,” kata Azhar.
