Konten dari Pengguna

Berapakah Nilai Intrinsik Yuan?

Leonardo

Leonardo

Bankir @ Bank Mandiri, Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Leonardo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yuan, mata uang China. Foto: https://pxhere.com/id/photo/860066.
zoom-in-whitePerbesar
Yuan, mata uang China. Foto: https://pxhere.com/id/photo/860066.

Sebagai negara eksportir terbesar di dunia tahun 2025 dengan total USD 3,77 triliun atau setara dengan 11,42% dari total perdagangan global (USD 33 triliun), permintaan mata uang China, Yuan, secara logika ekonomi seharusnya sangat tinggi. Secara teoretis, ketika sebuah negara mengekspor begitu banyak barang atau jasa, negara-negara lain sebagai importir harus membeli mata uangnya untuk membayar barang atau jasa tersebut. Permintaan yang sangat besar ini secara alami dapat mendorong nilai Yuan menjadi sangat kuat, bahkan berpotensi mendekati Dollar Amerika Serikat (USD).

Akan tetapi, pasar valas saat ini justru menampilkan realita sebaliknya. Nilai tukar Yuan seolah-olah tertahan sehingga beberapa pihak berasumsi bahwa nilainya dijaga agar tidak terlalu kuat. Lalu, mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Nilai tukar Yuan terhadap Dollar AS (CNY/USD) per 21 April 2026. Foto: Trading View.

Mengenal Sistem Managed Float Bank Sentral China

Berbeda dengan Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, yang menggunakan sistem pasar bebas murni untuk nilai tukar USD, Bank Sentral China, People’s Bank of China (PBOC), menggunakan sistem managed float untuk nilai tukar Yuan. Perbedaan keduanya terletak pada mekanisme permintaan dan penawaran serta intervensi dan target bank sentral terhadap nilai tukar mata uangnya. Sistem pasar bebas menyerahkan nilai tukar mata uang seluruhnya pada mekanisme pasar dan bank sentral tidak memiliki target resmi sehingga intervensi cenderung minim. Di sisi lain, sistem managed float juga menyerahkan nilai tukar pada pasar walau bank sentral memantau volatilitasnya agar tidak merusak ekonomi domestik. Hal inilah yang membuat bank sentral memiliki rentang aman tertentu bagi nilai tukar dan akan melakukan intervensi melalui cadangan devisa ketika pergerakannya berada di luar rentang tersebut.

Walaupun terkesan regulatif, sistem managed float yang digunakan PBOC saat ini justru lebih permisif jika dibandingkan sistem fixed peg yang diterapkan sebelum Juli 2005. Sistem ini membuat bank sentral terus-menerus melakukan intervensi terhadap nilai tukar Yuan agar tetap sesuai dengan nilai yang telah dipatok. Oleh karena itu, banyak ekonom menggunakan 2005 sebagai tahun acuan ekuilibrium ketika menghitung nilai tukar intrinsik Yuan saat ini. Lalu, bagaimana cara menghitungnya?

Menghitung Nilai Intrinsik Yuan

Dalam menghitung nilai intrinsik (fair exchange rate) suatu mata uang, para ekonom menggunakan berbagai metode berbeda yang umumnya memberikan rentang nilai serupa. Salah satu metode yang umum digunakan adalah Real Effective Exchange Rate (REER). Metode ini membandingkan daya beli sebuah mata uang terhadap harga barang di berbagai negara mitra dagangnya dengan mempertimbangkan tingkat inflasi. Secara matematis, nilai intrinsik suatu mata uang diformulasikan sebagai berikut:

FER = CR * Basic REER : REER Index

Keterangan:

FER: Nilai Intrinsik (Fair Exchange Rate)

CR: Nilai Saat Ini (Current Rate)

Basic REER: Nilai REER pada bulan dan tahun berjalan

REER Index: Tahun Acuan (=100)

Jika menggunakan tahun 2005 (=100) sebagai acuan (REER Index), nilai Basic REER China terbaru (Februari 2026) berada di angka 133,406. Sementara itu, nilai tukar Yuan terhadap USD (CNY/USD) berada di angka 0,15 atau 6,82 (USD/CNY) per penutupan 28 Februari 2026. Dengan demikian, berdasarkan data tersebut, nilai intrinsik Yuan berada di angka 0,2 (CNY/USD) atau 1,33 (USD/CNY). Dalam kata lain, nilai tukar Yuan saat ini mengalami undervaluation sebesar 25% dari nilai intrinsiknya.

Akan tetapi, jika menggunakan tahun 2020 (=100) sebagai acuan (REER Index) dengan mempertimbangkan komposisi mitra dagang China kiwari, nilai Basic REER pada Februari 2026 hanya sebesar 90,2. Dengan demikian, nilai intrinsik Yuan berada di angka 0,135 (CNY/USD) atau 0,9 (USD/CNY) dan justru mengalami overvaluation sebesar 11,1% dari nilai intrinsiknya.

Diskrepansi yang sangat besar di atas menguak kelemahan model perhitungan REER. Perbedaan penggunaan asumsi tahun dasar (base year assumption) memberikan angka yang berbeda pula, bahkan hingga memberikan kesimpulan yang bertolak belakang mengenai nilai tukar Yuan. Selain itu, model ini juga hanya memperhitungkan nilai tukar murni berdasarkan perspektif daya saing perdagangan di sektor riil atau ekspor-impor. Padahal, dalam ekosistem finansial modern, mekanisme nilai tukar tidak dapat direduksi menjadi sekadar fungsi perdagangan barang dan jasa. Analisisnya harus diintegrasikan dengan kerangka teoretis Trilema Mundell-Fleming yang mengatakan bahwa

sebuah otoritas moneter tidak dapat menentukan suku bunga, mengontrol nilai tukar mata uang, dan membuka arus modal secara simultan.

China dan PBOC memilih poin pertama dan kedua serta mengorbankan poin ketiga. Namun, untuk dapat menghitung nilai intrinsik Yuan, aspek ekspektasi pasar keuangan perlu diperhitungkan dalam model yang secara simultan mengasumsikan China menganut sistem free float untuk nilai tukar mata uangnya. Dalam kata lain, perbedaan tingkat suku bunga (yield differential) serta potensi pelarian modal (capital outflow) ketika kontrol modal dibuka menjadi dua aspek yang signifikan untuk dipertimbangkan. Lalu, bagaimana pengaruh kedua aspek tersebut terhadap nilai intrinsik Yuan?

Rasionalitas Ekonomi Pasar Keuangan

China 10Y Bond Yield. Foto: https://tradingeconomics.com/china/government-bond-yield.
US 10Y Note Bond Yield. Foto. https://tradingeconomics.com/united-states/government-bond-yield#stats.

Mengingat instrumen obligasi Pemerintah Amerika Serikat (US 10 Year Bond) secara historis menawarkan imbal hasil (yield differential) yang lebih kompetitif dan menjadi aset pelindung nilai (safe haven) dibandingkan obligasi Pemerintah China (China 10 Year Bond), rasionalitas ekonomi akan memicu capital outflow secara masif dari instrumen berbasis Yuan ke USD. Lebih jauh, terdapat akumulasi pent-up demand atau permintaan terpendam di kalangan populasi menengah-atas dan korporasi China untuk melakukan diversifikasi portofolio keuangan yang tertahan karena terdapat restriksi arus modal. Jika aturan ini dicabut, hal ini akan menjadi katalis berskala masif dan simultan untuk melikuidasi aset domestik dan mengakuisisi valas guna melakukan lindung nilai (hedging) yang mengakibatkan tekanan jual pada Yuan di pasar keuangan. Hal ini akan menghasilkan depresiasi yang tajam pada nilai tukar Yuan dan menciptakan titik ekuilibrium baru yang berbeda dari saat ini.

Setidaknya, jika aspek yield differential dan potensi capital outflow diperhitungkan dengan asumsi 10% pelemahan akibat perbedaan suku bunga dan 20% pelemahan akibat pelarian modal, nilai intrinsik Yuan dengan tahun acuan 2005 (=100) adalah 0,14 (CNY/USD) atau 0,93 (USD/CNY). Bahkan, jika menggunakan tahun acuan 2020 (=100), nilai intrinsiknya menyentuh 0,094 (CNY/USD) atau 0,63 (USD/CNY). Kedua tahun acuan tersebut menunjukkan bahwa Yuan mengalami pelemahan nilai tukar dari nilainya saat ini. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa saat ini Yuan mengalami overvaluation dengan rentang 7,1-59,6%.

Sebagai konklusi, nilai intrinsik Yuan merupakan manifestasi dari dua sistem ekonomi yang kontradiktif. Di satu sisi, fundamental makroekonomi China menunjukkan kapasitas jika neraca perdagangan, daya beli, dan sektor riil yang kuat sehingga mengafirmasi potensi apresiasi nilai tukar mata uang yang signifikan. Namun, di sisi lain, apabila nilai tukar ini diproyeksikan ke dalam realitas pasar keuangan berdasarkan mekanisme pasar bebas murni, Yuan mengalami kerentanan terhadap koreksi depresiatif akibat capital outflow dan preferensi risiko investor global. Oleh sebab itu, valuasi terhadap mata uang memberikan sebuah kesimpulan metodologis, yakni pengakuan bahwa

nilai tukar tidak hanya mendokumentasikan efisiensi produksi sebuah negara, tetapi juga mengkuantifikasi sentimen kolektif dan mobilitas modal dalam keuangan global.