Krisis Listrik di Kutai Timur: Warga Masih Hidup dalam Ketidakpastian Energi

Mahasiswa S1 Program Studi Administrasi Publik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman, angkatan 2023.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Leony Simanungkalit tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gelap yang Sudah Jadi Kebiasaan
Di tengah geliat pembangunan Kalimantan Timur sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), masyarakat Kutai Timur justru masih harus beradaptasi dengan kenyataan pahit: listrik yang padam bergilir hampir setiap bulan.
Hari ini desa A mati lampu, besok desa B menyusul. Gelap bukan lagi hal mengejutkan melainkan rutinitas yang sudah dihafal warga. Namun di balik kegelapan itu, ada dampak besar yang jarang disorot: anak-anak yang belajar dengan cahaya lilin, pelaku UMKM yang kehilangan omset, hingga pelayanan publik yang tersendat karena mesin tak bisa beroperasi.
Kongbeng, Potret Nyata Ketimpangan Energi
Kecamatan Kongbeng menjadi contoh paling jelas dari krisis listrik di Kutai Timur. Meskipun sudah menjadi kecamatan mandiri, wilayah ini masih bergantung pada jaringan listrik dari Muara Wahau.
Setiap kali jaringan utama terganggu, Kongbeng ikut padam total. “Kalau hujan deras, ya siap-siap gelap,” ujar salah satu warga dengan nada lelah. Kondisi ini diperparah dengan infrastruktur yang rapuh — tiang mudah roboh, kabel sering putus, dan perbaikan yang memakan waktu berhari-hari.
Pemeliharaan Tanpa Perubahan
Setiap kali pemadaman terjadi, alasan PLN nyaris selalu sama: pemeliharaan jaringan. Tapi bagi warga, alasan itu tak lagi memuaskan. Pemeliharaan seharusnya membuat layanan lebih baik, bukan justru memperpanjang derita. Sayangnya, hasil di lapangan belum sejalan dengan janji.
Warga menilai informasi dari PLN kurang transparan, dan koordinasi di lapangan masih lambat. Akibatnya, masyarakat terus hidup dalam ketidakpastian tak tahu kapan listrik benar-benar akan menyala dengan stabil.
Mencari Terang di Tengah Keterbatasan
Karena tak bisa sepenuhnya bergantung pada PLN, sebagian warga akhirnya mencari solusi mandiri. Panel surya mulai digunakan di beberapa desa terpencil, memberi sedikit cahaya di malam hari. Namun kapasitasnya terbatas hanya cukup untuk satu atau dua lampu kecil.
Sisanya, warga tetap mengandalkan senter atau lampu minyak. Di era digital dan transisi energi hijau, fakta bahwa sebagian masyarakat Kutai Timur masih harus hidup seperti ini adalah ironi yang menyentuh.
📊 26 Desa Masih Belum Teraliri Listrik
Data Kaltim Post (12 September 2025) mencatat, masih ada 26 desa di Kutai Timur yang belum teraliri listrik PLN. Desa-desa tersebut tersebar di enam kecamatan seperti Muara Ancalong, Muara Bengkal, Busang, Bengalon, Sandaran, dan Batu Ampar. Faktor geografis yang sulit dijangkau dan keterbatasan anggaran menjadi hambatan utama. Program elektrifikasi desa yang bergantung pada dana pusat belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan energi masyarakat.
Harapan untuk Kutai Timur yang Lebih Terang
Krisis listrik di Kutai Timur bukan sekadar masalah teknis ini adalah cermin dari ketimpangan pembangunan yang masih terjadi di Indonesia bagian timur. Warga tidak menuntut kemewahan, mereka hanya ingin kepastian: bahwa listrik tidak lagi menjadi barang langka, tetapi hak dasar yang bisa diandalkan. Karena bagi masyarakat Kutai Timur, terang bukan sekadar cahaya di malam hari, tetapi simbol harapan akan kehidupan yang lebih maju dan setara.
Selama cahaya masih padam bergilir, harapan masyarakat Kutai Timur tetap menyala menunggu saat di mana gelap akhirnya benar-benar berganti terang.
