Melihat Kembali Prospek Transaksi Uang Tunai

Analis Bank Indonesia
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Leo Chris Evan Sinulingga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transaksi Nontunai vs Tunai
Hingga pertengahan tahun 2026 ini, kita telah melihat bagaimana perkembangan nontunai dengan berbagai inovasinya mewarnai sistem pembayaran Indonesia. Mulai dari peluncuran QRIS TAP hingga perluasan QRIS Antarnegara ke Tiongkok. Perkembangan nontunai cukup signifikan. Hal ini terlihat dari jumlah transaksi digital di Indonesia yang ikut meningkat. Berdasarkan Siaran Pers Bank Indonesia, transaksi QRIS bersama dengan transaksi pembayaran digital lainnya seperti aplikasi mobile dan internet di triwulan I berhasil mendukung tercapainya pertumbuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital hingga 37,69%. Apabila kita lihat lebih dalam lagi, volume transaksi QRIS, aplikasi mobile, dan internet tersebut masing-masing tumbuh sebesar 11,82% (yoy), 17,13% (yoy), dan 116,43% (yoy). Peningkatan ini menjadi bukti bahwa akseptasi masyarakat terhadap transaksi digital, baik itu melalui aplikasi mobile, internet, maupun QRIS, semakin meluas.
Yang menarik adalah transaksi tunai. Di tengah perkembangan nontunai, transaksi tunai terus menunjukkan pertumbuhan. Tergambar dari jumlah uang yang diedarkan (UYD). Di triwulan IV 2025, UYD tumbuh sebesar 12,90% (yoy) menjadi Rp1.359,94 triliun. Sejak tahun 2022 hingga tahun 2024, UYD terus mengalami pertumbuhan yaitu masing-masing sebesar 6,9%, 7,3%, dan 9,3%. Meskipun mengalami pertumbuhan, kondisi transaksi nontunai saat ini sebenarnya sudah mulai menggantikan tunai (substitusi) yang sebelumnya hanya sebagai pelengkap saja (komplementer). Berdasarkan Laporan Tahunan Bank Indonesia tahun 2025, jumlah UYD di tahun 2026 diproyeksikan tumbuh melambat sebesar 5,6%. Fenomena ini bukanlah hal yang mengejutkan. Secara global, tren tunai juga mengalami perlambatan. Bahkan sejak tahun 2024, pangsa transaksi tunai sebesar 46%, menurun dari yang sebelumnya 50% di tahun 2023. Namun pertanyaannya, apakah tunai akan benar-benar hilang? Bagaimana dengan peluang perkembangan tunai maupun nontunai ke depannya?
Nontunai 2026
Mengutip pernyataan Gubernur Bank Indonesia di dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025, bahwa arah bauran kebijakan sistem pembayaran di tahun 2026 adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Arah kebijakan ini juga tidak terlepas dari dukungan Bank Indonesia atas program Asta Cita Pemerintah dengan target pertumbuhan sebesar 8% di tahun 2029. Berbicara perannya di dalam pertumbuhan ekonomi, maka hal ini tidak akan dipisahkan dari bagaimana Bank Indonesia menetapkan arah kebijakan sistem pembayaran, baik nontunai maupun tunai. Perlu untuk diketahui bahwa salah satu indikator perekonomian di suatu negara adalah adanya transaksi ekonomi. Semakin lancar transaksi maka dapat dipastikan perekonomian akan ikut bertumbuh. Arah kebijakan sistem pembayaran nontunai Bank Indonesia saat ini terdapat di dalam cetak biru kebijakan sistem pembayaran Bank Indonesia (BSPI) selama 5 (lima) tahun ke depan hingga 2030. Mengacu kepada BSPI, maka dapat dipastikan inovasi sistem pembayaran nontunai akan terus berlanjut. Rencana perluasan QRIS Antarnegara sebagaimana telah disebutkan sebelumnya merupakan salah satu contohnya. Kehadiran berbagai inovasi ini nantinya diharapkan dapat mendorong kelancaran sistem pembayaran nontunai. Aspek lain yang mungkin akan mendukung penggunaan nontunai adalah tren pembangunan berkelanjutan. Berbagai kajian yang pernah ada memang menunjukkan bahwa nontunai menyumbangkan emisi karbon yang relatif kecil. Bukan tidak mungkin nontunai akan semakin menjadi primadona untuk mendukung keberlanjutan.
Tunai Ke Depan
Melihat penjelasan di atas, bukan berarti bahwa Bank Indonesia memang lebih mendorong perkembangan nontunai. Bank Indonesia di beberapa kesempatan telah menegaskan bahwa baik nontunai maupun tunai merupakan kebijakan yang berjalan beriringan. Kebijakan tunai Bank Indonesia saat ini juga diimplementasikan dengan terus memperhatikan kebijakan nontunai. Tidak ada kebijakan yang favorable. Uang tunai pun masih dibutuhkan. Beberapa faktor yang membuat uang tunai masih dibutuhkan misalnya adalah kondisi geografis Indonesia yang belum seluruhnya tersentuh infrastruktur dan tekonologi digital, sehingga uang tunai akan tetap menjadi alat pembayaran utama masyarakat. Kondisi geografis yang membuat Indonesia menjadi wilayah yang rawan bencana juga berkaitan erat dengan faktor rasa aman menggunakan uang tunai dimana masyarakat memilih menyimpan uang tunai sebagai bentuk mitigasi risiko ketika terjadi bencana. Selain itu, faktor budaya yang cukup mengakar kuat, terutama pada saat hari besar keagamaan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Penggunaan uang tunai di negara lain, seperti Jepang juga masih dipengaruhi oleh faktor budaya. Yang terakhir adalah faktor kebiasaan dan kenyamanan. Sebagian dari masyarakat Indonesia cukup nyaman dengan uang tunai, terutama masyarakat lansia. Negara-negara yang menjadi pengguna uang tunai terbesar di dunia seperti Myanmar, Ethiopia, dan Gambia juga masih mengganggap tunai sebagai instrumen yang paling simple, murah, dan terpercaya meskipun disadari terdapat keterbatasan uang tunai dibandingkan nontunai, seperti akses ke perbankan.
Oleh karena itu, masih dapat dipastikan bahwa uang tunai ke depannya masih akan terus digunakan. Sejalan dengan proyeksi UYD Bank Indonesia, memang perlu untuk dipahami bahwa fakta pertumbuhan tunai yang melambat dengan semakin bertumbuhnya transaksi nontunai, tidak akan dapat dihindari, seperti yang telah terjadi di sebagian wilayah Eropa, terutama Eropa Barat dan Utara. Kedua wilayah tersebut memiliki tingkat akseptasi digital paling tinggi yang ditandai dengan dominasi transaksi nontunai antara lain di Belanda (78%), Finlandia (73%), Luxemburg (63%), Belgia (61%), dan Prancis (57%). Namun, hal ini bukanlah sesuatu yang negatif. Shifting sistem pembayaran bukanlah indikator yang menandakan keadaan ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Fenomena tersebut merupakan penanda bahwa proses transformasi digitalisasi ekonomi sedang berjalan dengan baik dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
