Konten dari Pengguna

Menjaga Air, Menjaga Warisan: Candi Jolotundo dan Nilai yang Hidup di Dalamnya

Alif Lestari

Alif Lestari

Dosen di FKIP Universitas jember

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alif Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di lereng barat Gunung Penanggungan, Mojokerto, sebuah situs kuno berdiri tidak hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai ruang hidup yang terus dirawat oleh ingatan masyarakat. Candi Jolotundo di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, bukan semata bangunan batu dari masa lampau. Ia adalah tempat yang menyimpan cerita, keyakinan, tradisi, dan nilai-nilai yang membentuk cara pandang warga terhadap alam dan kehidupan. Di tempat inilah masa lalu tidak benar-benar pergi, melainkan terus hadir melalui air, doa, ritual, dan penghormatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi banyak orang, Candi Jolotundo dikenal karena petirtaannya. Sumber air yang mengalir di kawasan ini diyakini suci (Amerta) dan memiliki khasiat tertentu. Masyarakat sekitar percaya bahwa air Jolotundo dapat memberi manfaat bagi kesehatan tubuh, ketenangan batin, bahkan penyucian diri. Sebagian pengunjung datang untuk mengambil air, sebagian lagi untuk berziarah, dan tidak sedikit yang sekadar ingin merasakan atmosfer sakral yang melekat kuat di kawasan itu. Namun di balik semua aktivitas tersebut, ada keyakinan yang jauh lebih dalam: air bukan hanya unsur alam, tetapi anugerah yang harus dihormati dan dijaga.

Potret warga yang mengambil air dari sumber Petirtaan Jolotundo (dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Potret warga yang mengambil air dari sumber Petirtaan Jolotundo (dokumentasi pribadi)

Kepercayaan terhadap kesucian air Jolotundo sudah berlangsung lama dan membentuk pola hidup masyarakat setempat. Menurut Lestari dkk. (2021) Air yang terus mengalir dipandang bukan sekadar sumber kebutuhan, melainkan simbol kehidupan. Karena itulah muncul mitos-mitos yang mengiringi keberadaan Jolotundo. Masyarakat meyakini airnya dapat menyembuhkan penyakit, memberi kesegaran, dan membawa keberkahan. Dalam pandangan beberapa orang luar, hal itu mungkin dianggap sebagai cerita tradisional. Namun bagi warga yang hidup berdampingan dengan Jolotundo, mitos justru menjadi bagian dari cara mereka memahami dunia. Mitos memberi makna, membangun hormat, dan menuntun perilaku.

Yang menarik, mitos di Jolotundo tidak berhenti pada ranah kepercayaan. Ia menjelma menjadi aturan sosial yang sangat nyata. Para pengunjung Candi Jolotundo dituntut untuk bersikap sopan, menjaga ucapan, dan menghormati tempat tersebut. Tidak boleh berbuat sembarangan, tidak boleh merusak lingkungan, dan tidak boleh memperlakukan kawasan suci seperti tempat biasa. Aturan ini tidak selalu ditulis dalam papan peringatan, tetapi hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat. Di sinilah terlihat bahwa mitos memiliki fungsi sosial yang kuat: menjaga ketertiban, membentuk etika, dan mengatur hubungan manusia dengan ruang sakral.

Selain itu, mitos Jolotundo juga berperan dalam menjaga kelestarian alam. Karena airnya dipandang suci, masyarakat merasa bertanggung jawab untuk melindungi sumbernya. Mereka tidak menebang pohon sembarangan, tidak mencemari kawasan, dan tidak merusak lingkungan sekitar. Dalam praktik seperti ini, mitos berubah menjadi kekuatan konservasi. Nilai yang lahir dari kepercayaan justru menghasilkan perilaku yang ramah lingkungan. Ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal sering kali memiliki mekanisme sendiri untuk menjaga keseimbangan alam, bahkan tanpa pendekatan modern yang rumit.

Di tengah mitos, tradisi di Jolotundo juga hidup, mengakar kuat. Tradisi paling penting yang masih dilaksanakan hingga sekarang adalah Ruwat Petirtaan Jolotundo. Ritual ini digelar setiap bulan Suro (kalender Jawa) sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas limpahan air dan kehidupan yang diberikan melalui Petirtaan Jolotundo. Ruwat bukan hanya acara adat tahunan, melainkan sebuah pernyataan budaya bahwa manusia wajib mengingat asal kehidupan dan merawatnya dengan sungguh-sungguh. Dalam ritus ini, air dari beberapa sumber dikumpulkan, disatukan, lalu didoakan bersama. Prosesi tersebut menjadi lambang penyatuan, doa, dan harapan agar sumber air terus lestari.

Ruwat Petirtaan Jolotundo mengandung banyak simbol yang sarat makna. Sesajen, bunga, dupa, makanan, dan perlengkapan lain tidak sekadar benda pelengkap, melainkan bahasa budaya yang menghubungkan manusia dengan alam dan leluhur. Maurin dkk (2021) melihat ada perlengkapan tertentu seperti cok bakal (sesajen atau sarana ritual) yang menandai ingatan tentang asal-usul kehidupan manusia. Semua unsur ini memperlihatkan bahwa tradisi Jawa bekerja melalui simbol. Nilai tidak disampaikan dalam kata-kata langsung, melainkan melalui tindakan ritual yang menyentuh rasa, ingatan, dan kesadaran. Dengan demikian, tradisi bukan hanya mempertahankan kebiasaan, tetapi juga menyimpan pendidikan nilai yang halus dan mendalam.

Nilai syukur menjadi inti dari Ruwat. Masyarakat diajak untuk tidak melupakan bahwa air adalah sumber kehidupan yang harus dihargai. Dalam dunia yang serba cepat dan sering membuat orang lupa diri, tradisi seperti ini mengajarkan kembali tentang rasa terima kasih. Syukur bukan hanya soal ucapan, tetapi juga tindakan. Orang yang bersyukur akan lebih peduli, lebih hemat, dan lebih bertanggung jawab terhadap apa yang dimilikinya. Di Jolotundo, syukur diwujudkan melalui ritual, doa, dan komitmen untuk merawat sumber air.

Selain syukur, tradisi ini juga menanamkan kesadaran ekologis. Dalam prosesi Ruwat, ada pelepasan burung dan penanaman pohon sebagai simbol penghormatan terhadap makhluk hidup lain. Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: manusia tidak hidup sendiri. Hewan, tumbuhan, air, dan tanah merupakan bagian dari kehidupan yang saling terhubung. Karena itu, merusak alam berarti merusak keseimbangan hidup. Dalam konteks saat ini, pesan tersebut terasa semakin relevan. Ketika banyak wilayah menghadapi krisis air, kerusakan hutan, dan pencemaran lingkungan, kearifan lokal Ruwat Petirtaan Jolotundo mengingatkan bahwa menjaga alam bukan pilihan, melainkan kewajiban moral.

Penelitian Lestari pada tahun 2021 juga menegaskan bahwa Ruwat Jolotundo juga memperlihatkan kuatnya penghormatan terhadap leluhur. Candi ini dipandang sebagai warisan yang tidak boleh dilupakan. Generasi sekarang menerima tidak hanya bentuk fisiknya, tetapi juga nilai yang melekat padanya. Dengan merawat Jolotundo, masyarakat sebenarnya sedang menjaga hubungan dengan masa lalu. Mereka tidak memutus sejarah, melainkan meneruskannya. Inilah yang membuat tradisi memiliki kekuatan identitas. Selama tradisi dijalankan, selama itu pula ingatan kolektif tetap hidup dan masyarakat tahu siapa dirinya.

Kebersamaan juga menjadi nilai yang sangat menonjol dalam tradisi ini. Ruwat melibatkan banyak orang dari berbagai unsur masyarakat. Tokoh adat, penjaga candi, juru kunci, perangkat desa, warga desa, hingga masyarakat luar hadir dalam satu rangkaian kegiatan yang sama. Mereka bukan hanya menonton, tetapi ikut merasakan makna bersama. Dalam suasana seperti itu, tumbuh solidaritas, gotong royong, dan rasa memiliki. Di tengah kehidupan modern yang sering menekankan kepentingan pribadi, Jolotundo menjadi ruang yang mengingatkan pentingnya hidup bersama. Tradisi luhur ini menjadi jembatan yang menyatukan orang-orang dalam semangat kebersamaan.

Satu hal lagi yang membuat Jolotundo menarik adalah keterkaitannya dengan seni tradisional. Dalam rangkaian Ruwat selama 2-3 hari, sering ditampilkan wayang, bantengan, tandakan, dan ujung. Kesenian ini bukan sekadar hiburan untuk memeriahkan acara, tetapi juga sarana pewarisan nilai. Wayang membawa ajaran moral, bantengan menumbuhkan keberanian, tandakan memperkuat identitas budaya, dan ujung mengajarkan keteguhan serta kedisiplinan. Anak-anak muda yang menyaksikan pertunjukan tersebut tidak hanya menikmati tontonan, tetapi juga menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan cara ini, tradisi menjadi ruang pendidikan yang hidup.

Arak-arakan (kirab agung) dalam rangkaian Ruwat Petirtaan Jolotundo (dokumentasi pribadi)

Jika dilihat dari sudut pendidikan, Jolotundo sangat layak dijadikan sumber belajar. Situs ini mengandung materi sejarah, geografi budaya, pendidikan karakter, hingga pendidikan lingkungan. Peserta didik dapat belajar bahwa sejarah tidak hanya ada di buku, tetapi juga hidup dalam praktik masyarakat. Mereka bisa memahami bahwa budaya lokal bukan sesuatu yang usang, melainkan sumber pengetahuan yang dapat memperkaya wawasan. Dalam pembelajaran, Jolotundo dapat menjadi contoh nyata tentang bagaimana nilai-nilai kearifan lokal bertahan dan memengaruhi perilaku sosial.

Di era globalisasi, keberadaan situs seperti Jolotundo menjadi semakin penting. Modernisasi memang membawa kemajuan, tetapi juga sering membuat orang jauh dari akar budayanya. Banyak tradisi lokal mulai ditinggalkan karena dianggap kuno atau tidak praktis. Padahal, justru di dalam tradisi itulah tersimpan kebijaksanaan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan zaman. Ketika hubungan manusia dengan alam semakin renggang, saat individualisme makin kuat, dan ketika banyak orang kehilangan rasa hormat pada warisan leluhur, Jolotundo hadir sebagai pengingat bahwa nilai-nilai lama belum tentu kehilangan relevansinya.

Melalui mitos dan tradisi, Jolotundo memperlihatkan bahwa budaya lokal mampu bertahan karena memiliki fungsi yang nyata dalam kehidupan. Ia menjaga air, membangun etika, memperkuat solidaritas, melestarikan seni, dan menanamkan penghormatan terhadap leluhur. Semua itu menjadikan Jolotundo bukan hanya situs arkeologis, tetapi juga ruang pendidikan budaya yang hidup. Masyarakat yang merawatnya sesungguhnya sedang merawat identitas mereka sendiri.

Pada akhirnya, Candi Jolotundo memberi pelajaran bahwa warisan budaya tidak boleh dipandang sebagai benda lama yang diam di masa lalu. Ia adalah sumber nilai yang terus bekerja dalam kehidupan masyarakat. Mitos memberi arah, tradisi memberi bentuk, dan air memberi kehidupan. Dari Jolotundo, kita belajar bahwa menjaga warisan berarti juga menjaga masa depan. Selama masyarakat masih percaya, merawat, dan menghormati nilai-nilai itu, selama itu pula Jolotundo akan tetap hidup sebagai tempat yang menyatukan sejarah, alam, dan manusia.