Menjaga Kesehatan Mental Agar Tetap Waras di Era Digital yang Serba Cepat
Tulisan dari Lesti Leonita (Sastra Arab) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap hari banyak sekali notifikasi-notifikasi masuk, terkadang sangat susah untuk menyaring informasi yang serba cepat seperti sekarang ini, terlebih jika berita yang masuk bukan merupakan berita yang baik, sudah saatnya menanyakan pada diri sendiri, bagaimana keadaan mentalmu?

Konsekuensi psikologis yang signifikan, terutama terkait kesehatan mental. Banyak diantara anak muda yang belum bisa mengontrol emosionalnya yang berujung pada respons spontan pada beberapa konten atau informasi yang diberikan media sosial, alih-alih mencermati dan merespons nya secara bijak justru menelan mentah-mentah dan pada akhirnya berimbas kepada kesehatan mental para pengguna.
Gangguan kecemasan yang terjadi di kalangan remaja dan dewasa muda saat ini mengalami peningkatan dan hal tersebut merupakan fenomena yang tidak dapat diabaikan. Gejala kecemasan sosial terlihat dari bagaimana seseorang merasakan rasa takut yang sangat menguasai aspek psikologisnya dan hal ini diperparah oleh realitas digital. Kehidupan ideal yang dimiliki orang lain di media sosial seringkali menjadi perbandingan terhadap diri sendiri, berawal dari media sosial yang dijadikan standar hidup seseorang dengan ekspetasi sosial tinggi, yang kemudian muncul rasa tidak aman, insecure, dan merasa tidak layak.
Menggunakan media sosial secara bijak merupakan satu tindakan sederhana dalam menjaga mental agar tetap stabil dan diimbangi dengan adanya penerimaan terhadap diri sendiri. Tidak harus semua informasi yang ada di media sosial kita serap dan ambil semuanya, akan tetapi perlu diingat juga bahwa kepedulian sosial harus ada dalam diri masing-masing individu, sebuah realita yang ada saat ini memang pada dasarnya tidak bisa kita hindari.
Kamu adalah representasi dari diri kamu sendiri, tidak harus menjadi orang lain untuk bisa diterima, hiduplah sebagaimana kamu hidup seperti sekarang ini.

