Konten dari Pengguna
Productivity Aesthetic: Antara Gaya Hidup Gen Z dan Tekanan untuk Terlihat Sibuk
13 Oktober 2025 22:08 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Productivity Aesthetic: Antara Gaya Hidup Gen Z dan Tekanan untuk Terlihat Sibuk
Di media sosial, productivity aesthetic menjadi simbol gaya hidup produktif bagi Gen Z. Namun, di balik catatan yang rapi dan meja kerja yang estetik, benarkah semua itu mencerminkan produktivitas yanLexia Tian Tian Sianipar
Tulisan dari Lexia Tian Tian Sianipar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Di media sosial seperti TikTok dan Instagram, kita semakin sering melihat video bertema that girl routine. Biasanya, videonya menampilkan seseorang yang bangun pagi, menyalakan lilin aromaterapi, membuat matcha latte, lalu menulis to-do list di iPad dengan pena digital. Semua terlihat rapi, menenangkan, dan teratur. Penontonnya pun merasa termotivasi untuk hidup lebih produktif. Namun pertanyaannya: Apakah semua itu benar-benar menggambarkan produktivitas, atau hanya tampilan yang terlihat produktif?
ADVERTISEMENT
Fenomena productivity aesthetic kini semakin melekat di kehidupan Gen Z. Aktivitas sederhana seperti menulis bullet journal, mendekor meja belajar dengan warna senada, atau mengunggah study vlog menjadi bagian dari gaya hidup baru. Banyak yang merasa lebih fokus dan bersemangat ketika ruang kerja tampak rapi dan estetik. Namun, di sisi lain, budaya ini juga menimbulkan tekanan tersendiri. Kita jadi merasa kurang produktif jika meja kerja tidak seindah milik influencer atau jika hari-hari kita tidak diisi dengan jadwal padat yang terlihat sibuk.
Ketika Produktivitas menjadi Pertunjukan
Bagi sebagian orang, produktivitas kini tidak lagi diukur dari hasil kerja, tetapi dari bagaimana rutinitas itu ditampilkan. Planner penuh warna, habit tracker, dan time blocking apps menjadi simbol kedisiplinan baru. Setiap langkah kecil, mulai dari menyeduh kopi hingga mengetik di laptop, terasa perlu direkam dan dibagikan. Tanpa sadar, kita sedang membangun citra diri yang “produktif,” meski belum tentu benar-benar efisien.
ADVERTISEMENT
Inilah yang disebut dengan performative productivity, yaitu kebiasaan menampilkan kesibukan di depan publik tanpa benar-benar melakukan sesuatu yang bermakna. Kita merasa puas hanya karena terlihat sibuk, padahal mungkin yang dilakukan hanyalah mempercantik tampilan luar. Fenomena ini banyak muncul di kalangan pelajar dan pekerja muda yang hidup di tengah tekanan sosial untuk selalu berkembang dan terlihat sukses.
Dorongan FOMO di Balik Rutinitas
Budaya ini juga berkaitan dengan konsep FOMO (Fear of Missing Out). Melihat orang lain mengunggah rutinitas produktif di media sosial bisa memicu perasaan tertinggal. Kita merasa harus melakukan hal yang sama agar tidak ketinggalan. Akibatnya, rutinitas dibuat bukan karena kebutuhan pribadi, tetapi untuk menyesuaikan diri dengan standar produktivitas yang ditetapkan orang lain.
Padahal, produktivitas seharusnya bersifat personal. Setiap orang memiliki ritme, gaya kerja, dan tujuan yang berbeda. Bagi sebagian orang, menulis di notebook polos tanpa hiasan sudah cukup efektif. Bagi yang lain, digital planner dengan desain estetik membantu mereka tetap termotivasi. Masalah muncul ketika estetika menjadi lebih penting daripada esensinya.
ADVERTISEMENT
Tekanan dan Dampak Psikologis
Beberapa psikolog menyebut bahwa productivity aesthetic dapat menimbulkan tekanan yang tidak sehat. Ketika seseorang terlalu fokus pada tampilan produktivitas, mereka bisa kehilangan makna dari apa yang dikerjakan. Rasa lelah atau istirahat dianggap sebagai tanda kelemahan. Akhirnya, muncul perasaan bersalah saat tidak “produktif,” meski tubuh dan pikiran sebenarnya butuh waktu untuk beristirahat.
Namun, di sisi positifnya, budaya ini juga menunjukkan keinginan besar generasi muda untuk berkembang. Banyak Gen Z yang berusaha memperbaiki kebiasaan, mencari sistem kerja yang lebih efisien, dan mengatur waktu dengan lebih baik. Estetika yang indah kadang membantu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman. Misalnya, mendekor meja belajar dengan warna lembut atau membuat study vlog bisa menjadi cara untuk menyalurkan kreativitas sekaligus menjaga semangat.
ADVERTISEMENT
Antara Estetika dan Esensi
Kuncinya ada pada keseimbangan. Tidak ada yang salah dengan menikmati journaling, menata meja kerja, atau menggunakan planner digital yang menarik. Tetapi penting untuk diingat bahwa semua itu hanyalah alat bantu, bukan tujuan akhir. Produktivitas sejati bukan tentang berapa banyak aplikasi yang digunakan atau seberapa estetik catatan terlihat, melainkan seberapa jauh seseorang benar-benar menyelesaikan sesuatu dan memahami prosesnya.
Mungkin kita perlu mengubah cara pandang terhadap produktivitas. Tidak semua yang tidak terlihat berarti tidak produktif. Berdiam diri untuk berpikir, membaca tanpa mencatat, atau sekadar berjalan di luar ruangan juga bisa menjadi bentuk produktivitas. Karena sejatinya, menjadi produktif bukan soal banyaknya aktivitas, melainkan kualitas hasil dan keseimbangan hidup yang tercipta.
ADVERTISEMENT
Menemukan Makna Produktivitas
Budaya productivity aesthetic akan tetap menjadi bagian dari kehidupan digital kita. Namun semoga semakin banyak orang yang memahami bahwa produktivitas tidak harus selalu tampak sempurna. Kadang, halaman planner yang berantakan justru menyimpan ide-ide besar. Kadang, hari tanpa to-do list justru menjadi waktu yang paling bermakna.
Jadi, lain kali ketika kamu tergoda membeli notebook baru atau stylus pen untuk mempercantik catatan, ingatlah bahwa alat tidak menentukan seberapa produktif dirimu. Yang menentukan adalah niat, konsistensi, dan kemampuan untuk fokus pada hal yang benar-benar penting. Tidak apa-apa jika rutinitasmu tidak selalu aesthetic. Selama kamu tahu arah dan tujuannya, kamu sudah selangkah lebih dekat pada produktivitas yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, productivity aesthetic bisa menjadi hal yang positif selama kita tidak terjebak di dalamnya. Nikmati keindahan rutinitasmu, tetapi jangan lupa maknanya. Karena menjadi produktif bukan tentang tampak sibuk di layar, melainkan tentang benar-benar bergerak menuju versi terbaik dari diri sendiri.
ADVERTISEMENT

