Konsumen Mulai Optimistis, tetapi Apakah Daya Beli Benar-Benar Pulih?

Dosen di Universitas Pamulang yang berfokus pada bidang Ekonomi dan Bisnis.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Raden Ai Lutfi Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada kabar yang cukup menggembirakan dari perekonomian Indonesia. Keyakinan konsumen meningkat pada Agustus 2026 dibandingkan Juli. Bank Indonesia melalui Survei Konsumen Agustus 2026 mencatat bahwa optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi mengalami peningkatan.
Bagi dunia usaha, kabar ini tentu positif. Konsumen yang lebih optimistis secara teori akan lebih berani berbelanja. Pelaku usaha berharap omzet meningkat, restoran kembali ramai, pusat perbelanjaan lebih hidup, transaksi digital tumbuh, dan masyarakat mulai berani mengambil keputusan ekonomi yang sebelumnya ditunda.
Tetapi ada satu pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting:
Apakah meningkatnya keyakinan konsumen benar-benar menunjukkan bahwa daya beli masyarakat telah pulih?
Pertanyaan ini penting karena optimisme dan kemampuan membeli adalah dua hal yang berbeda. Seseorang dapat merasa optimistis terhadap masa depan, tetapi tetap berhati-hati mengeluarkan uang hari ini.
Di sinilah wajah ekonomi Indonesia saat ini menjadi menarik.
Ekonomi Tumbuh, Konsumen Tetap Berhitung
Secara makro, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Pada triwulan I 2026, ekonomi tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Angka tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, pertumbuhan ekonomi nasional tidak otomatis berarti seluruh rumah tangga mengalami peningkatan kesejahteraan dalam proporsi yang sama. Di tingkat konsumen, persoalan yang dirasakan bukan hanya apakah ekonomi tumbuh, tetapi apakah pendapatan mereka tumbuh lebih cepat daripada kebutuhan hidup.
Bagi rumah tangga, pertanyaan ekonominya sangat sederhana: Setelah membayar makanan, transportasi, listrik, pendidikan, cicilan, internet, dan kebutuhan lainnya, masih berapa uang yang tersisa?
Angka pertumbuhan ekonomi tidak secara langsung menjawab pertanyaan tersebut. Karena itu, membaca kondisi ekonomi hanya dari pertumbuhan PDB bisa membuat kita kehilangan cerita di tingkat rumah tangga.
Inflasi 3,19 Persen: Angka yang Perlu Dibaca Lebih Dalam
BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan. Inflasi bulanan mencapai 0,21 persen, sedangkan inflasi inti berada pada 2,92 persen. Secara statistik, angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi yang ditetapkan pemerintah bersama Bank Indonesia. Namun, konsumen tidak berbelanja berdasarkan angka inflasi nasional. Masyarakat merasakan harga berdasarkan barang dan jasa yang mereka beli setiap hari. Harga makanan, transportasi, pendidikan, sewa rumah, biaya kesehatan, dan berbagai kebutuhan lainnya dapat memiliki dinamika yang berbeda. Karena itu, ketika seseorang mengatakan, "Harga sekarang semakin mahal," pernyataan tersebut tidak selalu bertentangan dengan data makro bahwa inflasi masih terkendali. Inflasi adalah kenaikan tingkat harga secara umum. Bagi konsumen, yang terasa adalah berapa rupiah yang harus dikeluarkan dari dompet.
Perbedaan perspektif ini penting!
Harga di Tingkat Perdagangan Juga Memberikan Sinyal
Ada indikator lain yang menarik.
BPS mencatat Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) umum nasional pada Agustus 2026 meningkat 6,18 persen secara tahunan. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain elpiji nonsubsidi, solar industri, beras, minyak pelumas, dan laptop. Untuk kelompok bangunan/konstruksi, kenaikan tahunan mencapai 9,52 persen.
Mengapa angka ini penting?
Karena tekanan harga di tingkat perdagangan dapat memengaruhi biaya yang harus ditanggung pelaku usaha. Pengusaha menghadapi kenaikan biaya bahan baku, energi, logistik, maupun input produksi.
Kemudian muncul dilema: Apakah kenaikan biaya tersebut diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga, atau ditanggung sendiri melalui penurunan margin keuntungan?
Keduanya memiliki konsekuensi!
Jika harga dinaikkan terlalu tinggi, konsumen bisa mengurangi pembelian. Jika harga tidak dinaikkan, margin usaha tertekan.
Di sinilah persoalan daya beli bertemu dengan persoalan keberlanjutan bisnis.
Konsumen Hemat, Pengusaha Ikut Berhemat
Fenomena ini sebenarnya sudah terlihat dalam perubahan perilaku konsumen dimana masyarakat semakin selektif memilih produk, Mereka membandingkan harga, Mencari promo, Menunda pembelian barang yang tidak mendesak, Memilih produk dengan ukuran lebih kecil, Berpindah merek, Mengurangi konsumsi makan diluar, Bahkan, konsep frugal living semakin populer. Dari perspektif rumah tangga, perilaku tersebut dapat menjadi bentuk literasi keuangan yang sehat.
Tetapi dari perspektif ekonomi makro, terdapat pertanyaan lanjutan, Bagaimana jika penghematan tersebut bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan?
Jika konsumen mengurangi konsumsi karena semakin sadar mengelola keuangan, dampaknya bisa positif. Namun jika konsumsi berkurang karena pendapatan tidak lagi cukup mengikuti kenaikan kebutuhan, persoalannya jauh lebih serius.
Kita kemudian tidak sedang berbicara tentang gaya hidup. Kita sedang berbicara tentang daya beli.
UMKM Paling Cepat Merasakan Perubahan
Di sinilah persoalan konsumsi menjadi sangat penting bagi UMKM. Usaha kecil dan mikro biasanya memiliki hubungan langsung dengan konsumen. Pedagang makanan mengetahui ketika pelanggan mulai mengurangi pesanan. Pemilik warung mengetahui ketika pembeli mulai beralih ke produk yang lebih murah. Pelaku usaha fesyen mengetahui ketika konsumen mulai menunda pembelian pakaian. Pemilik kedai kopi mengetahui ketika pelanggan yang sebelumnya datang tiga kali seminggu kini hanya datang sekali. Perubahan kecil dalam perilaku konsumen dapat menjadi perubahan besar bagi omzet UMKM. Karena itu, indikator ekonomi yang paling mudah dipahami pelaku UMKM sebenarnya bukan hanya angka pertumbuhan ekonomi. Omzet harian adalah indikator yang mereka rasakan secara langsung.
Optimisme Konsumen Harus Diterjemahkan Menjadi Transaksi.
Meningkatnya keyakinan konsumen merupakan kabar baik. Namun, optimisme harus diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi nyata.
Optimisme harus berubah menjadi: keyakinan → konsumsi → omzet usaha → produksi → investasi → lapangan kerja → pendapatan.
Jika mata rantai tersebut berjalan, optimisme konsumen memiliki efek ekonomi yang kuat. Sebaliknya, jika masyarakat optimistis tetapi tetap menahan konsumsi karena pendapatan terbatas, dampak ekonominya akan lebih lemah. Dengan kata lain, consumer confidence adalah modal psikologis, tetapi purchasing power adalah modal ekonominya. Keduanya harus berjalan bersama.
