Konten dari Pengguna

Belanja Sekarang, Bayarnya Nanti: Kenapa Paylater Makin Diminati?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Paylater kini semakin dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Saat berbelanja secara online, konsumen tidak hanya memiliki pilihan untuk membayar langsung, tetapi juga dapat memilih metode pembayaran dengan sistem “beli sekarang, bayar nanti.” Bagi sebagian orang, cara ini terasa praktis karena pembayaran dapat dilakukan kemudian sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Perkembangan paylater juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja. Berbagai platform digital menawarkan metode pembayaran tersebut sebagai salah satu pilihan ketika konsumen melakukan transaksi.

Sumber Foto : Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Pexels.com

Kemudahan menjadi salah satu alasan mengapa paylater menarik perhatian. Konsumen tidak perlu selalu mengeluarkan seluruh uang pada saat membeli barang. Cukup memilih metode pembayaran yang tersedia, kemudian membayar tagihan sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Namun, menurut saya, kemudahan tersebut juga perlu diikuti dengan kesadaran dalam mengatur keuangan. Jangan sampai karena pembayaran terlihat lebih ringan, seseorang justru membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku konsumen ikut mengalami perubahan. Ketika membeli sesuatu, konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga barang, tetapi juga cara pembayaran yang tersedia.

OJK mencatat pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp8,56 triliun pada Juni 2025. Angka tersebut meningkat 56,26 persen secara tahunan. Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan layanan BNPL mengalami pertumbuhan yang cukup besar.

Di satu sisi, paylater memang dapat memberikan kemudahan bagi konsumen. Misalnya, seseorang membutuhkan barang tertentu tetapi belum memiliki dana yang cukup pada saat itu. Dengan adanya paylater, pembayaran dapat dilakukan kemudian sesuai dengan jangka waktu yang dipilih.

Namun, kemudahan tersebut bukan berarti seseorang bebas berbelanja tanpa mempertimbangkan kemampuan membayar. Tagihan paylater tetap merupakan kewajiban yang harus diselesaikan. Jika digunakan berkali-kali tanpa perhitungan, jumlah tagihan dapat semakin menumpuk.

Hal yang sering menjadi persoalan adalah ketika konsumen hanya melihat nominal cicilan tanpa menghitung keseluruhan kewajiban. Cicilan yang terlihat kecil mungkin terasa ringan jika hanya dilihat satu transaksi. Tetapi ketika terdapat beberapa cicilan sekaligus, pengeluaran bulanan dapat menjadi lebih besar dari yang diperkirakan.

Karena itu, sebelum menggunakan paylater, konsumen sebaiknya memahami terlebih dahulu jumlah pembayaran, biaya yang dikenakan, tanggal jatuh tempo, serta kemampuan keuangan pribadi. Penggunaan paylater seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan membayar, bukan hanya karena adanya promo atau kemudahan transaksi.

Regulasi mengenai BNPL juga terus berkembang. OJK menerbitkan aturan mengenai penyelenggaraan Buy Now Pay Later yang mencakup aspek tata kelola, manajemen risiko, dan perlindungan konsumen.

Menurut saya, persoalannya bukan sekadar apakah paylater baik atau buruk. Paylater hanyalah salah satu metode pembayaran. Yang lebih penting adalah bagaimana konsumen memahami dan menggunakannya.

Kemudahan teknologi keuangan memang membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih praktis. Tetapi kemudahan tersebut sebaiknya tidak membuat kita lupa untuk mempertimbangkan kondisi keuangan sendiri.

Pada akhirnya, “beli sekarang, bayar nanti” tetap berarti “bayar juga nantinya.”

Karena itu, sebelum menekan tombol pembayaran, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah barang tersebut memang dibutuhkan, dan apakah kita mampu membayar tagihannya sampai selesai?

Belanja boleh lebih mudah, tetapi kemampuan mengatur keuangan tetap harus menjadi prioritas.