Fenomena Akun Palsu (Fake Account) dan Akun Kedua (Second Account)

Mahasiswa S1 Psikologi di Universitas Airlangga
Tulisan dari Lia Anggraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dewasa ini, media sosial menjadi hal yang tidak dapat dilepasakan dari kehidupan kaum milenial dan generasi Z. Salah satu media sosial yang tengah digandrungi adalah Instagram. Media sosial Instagram menggunakan media visual seperti foto dan video sebagai konten utama dalam situsnya. Hal ini membuat banyak orang seakan berlomba untuk mem-posting konten visual yang menarik untuk mendapat pengakuan berupa likes dan komentar dari followers atau bahkan dengan tujuan mendapatkan followers baru. Hal ini pula yang memicu penggunaan istilah Instagramable bagi sebuah tempat yang memiliki view yang layak untuk menjadi latar konten di Instagram. Orang-orang seakan dituntut untuk tampil sebaik mungkin di feed Instagram mereka. Tuntutan itu menjadi beban tersendiri bagi sebagian orang yang sangat memerhatikan komentar orang lain. Maka dari itu, orang-orang tersebut membuat akun Instagram palsu (fake account) atau biasa juga disebut akun Instagram kedua (second account).
Fake account dibuat dengan berbagai macam tujuan. Bagi sebagian orang, fake account mungkin bisa menjadi wadah baginya untuk bebas melontarkan komentar apa pun tanpa takut identitasnya akan diketahui. Ada pula yang membuat akun kedua karena mengingikan ruang yang lebih private dengan hanya berisikan orang-orang tertentu saja di akun tersebut. Namun, apa pun tujuan orang membuat akun palsu atau pun akun kedua, tujuan-tujuan tersebut tetap memiliki satu kesamaan yaitu karena orang-orang tersebut ingin menyembunyikan identitasnya. Oleh sebab itu, biasanya akun palsu memiliki nama pengguna yang jauh berbeda dari nama pengguna akun asli orang tersebut.
Personal Branding
Baik Instagram maupun kebanyakan media sosial lain kini tak dapat lagi dipandang sebagai hiburan atau untuk sekadar bersenang-senang saja. Saat ini, Instagram bisa menjadi sarana membangun personal branding yang bagus dalam usaha untuk melamar pekerjaan. Media sosial dari para pelamar kerja kini mulai dilirik oleh perusahaan sebagai acuan layak atau tidakkah pelamar kerja untuk menempati posisi di tempat mereka. Tentu hal ini menimbulkan efek kepada sebagian besar orang untuk memberikan tampilan yang terbaik bagi media sosial mereka, termasuk dalam hal ini Instagram. Mereka akan berusaha membangun citra yang positif di akun asli atau akun utama.
Kemudian, sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan mereka mengekspresikan “sisi lain diri” yang dianggap tak layak diekspos di akun asli atau akun utama, mereka akan membuat akun palsu atau akun kedua.
Menyembunyikan Identitas
Penggunaan akun palsu juga umum dijumpai pada kasus-kasus penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian di media sosial. Para pelaku seolah mendapatkan kebebasan dari ketiadaan identitas mereka di akun palsu tersebut. Mereka merasa bebas mengunggah apa pun di akun mereka. Kemudian dari sana banyak orang lain yang membagikan unggahan tersebut dan banyak yang mempercayai berita bohong tersebut. Meski begitu, jejak digital tersebut tetap bisa membawa mereka, si pengunggah berita bohong pertama kali, ke meja hijau apabila berita atau unggahan yang mereka sebar tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Mungkin eksistensi akun palsu memang diperlukan bagi sebagian orang untuk sejenak melepas “topeng” atau citra baik yang mereka miliki dan harus mereka jaga di akun asli atau akun utama mereka. Namun, jangan sampai akun palsu tersebut malah membuat mereka menjadi pengguna media sosial yang tidak bertanggung jawab dengan melontarkan ujaran kebencian ataupun menyebarkan berita bohong.
