Konten dari Pengguna

Atsiri, Bulgaria, dan Perjalanan yang Mengiringinya

LIA SEPTIANA DEWI

LIA SEPTIANA DEWI

Mahasiswa S1 Sejarah Universitas Gadjah Mada

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari LIA SEPTIANA DEWI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hamparan bunga warna-warni masih teringat di dalam memori, dari kejauhan sudah tercium aroma yang sangat wangi. Cuaca mendung, sejuknya pagi menghasilkan rona suasana menjadi sedikit jingga dan keabuan. Saya dan sekeluarga turun dari mobil menghadap sebuah gedung berbentuk segi banyak dengan model rumah kaca yang meyakinkan saya bahwa ini rancangan seorang arsitek. Di depan gedung terdapat berbagai papan informasi, memudahkan kami melihat arah selanjutnya. Tertulis dengan jelas “Rumah Atsiri Indonesia” di pintu masuk.

Foto 01. Pintu masuk Rumah Atsiri Indonesia. Sumber: Dokumen pribadi saat mengunjungi Rumah Atsiri Indonesia dari Lia Septiana Dewi
zoom-in-whitePerbesar
Foto 01. Pintu masuk Rumah Atsiri Indonesia. Sumber: Dokumen pribadi saat mengunjungi Rumah Atsiri Indonesia dari Lia Septiana Dewi

Sebelum memasuki Rumah Atsiri Indonesia, terdapat dua cara pembelian tiket masuk, yaitu dengan reservasi melalui web Rumah Atsiri Indonesia dan membeli tiket di tempat atau on the spot. Setelah menunjukkan bukti reservasi, kami diberi sebuah kartu dengan bentuk mirip KTP dan berwarna cokelat muda kehijauan yang bertuliskan Rumah Atsiri Indonesia.

"Selamat pagi Kak, perihal kartu ini bisa digunakan untuk beberapa destinasi ya, kartunya berisi saldo 50 ribu, nanti akan ada potongan setiap masuk tur. Kalau masuk ke Green House nanti dikenakan biaya 25 ribu, kalau ke Museum Atsiri 30 ribu ya Kak, kalau sisa bisa dipakai untuk makan di resto." Jelas salah satu Crew Rumah Atsiri Indonesia.

Foto 02. Kartu sebagai tiket masuk Rumah Atsiri Indonesia. Sumber: Dokumen Pribadi kunjungan ke Rumah Atsiri Indonesia oleh Lia Septiana Dewi.

Kebetulan pagi yang sejuk itu masih menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, cukup awal memang untuk mengunjungi tempat ini. Sayangnya, jam operasional baru dilakukan pada jam 11 siang, karena kami hendak menyewa guide tour, maka kami rela menunggu sambil berjalan-jalan mengelilingi taman di Rumah Atsiri.

"Mohon maaf Kak, karena masih terlalu pagi, kami membuka pendaftaran untuk sewa guide tour pada jam 11 ya Kak. Boleh ditunggu sambil breakfast di resto atau foto-foto dulu di Taman Atsiri Kak, mumpung masih sepi"

Tidak memaksakan diri, kami mengikuti saran salah satu crew Rumah Atsiri untuk mengunjungi taman dan mengambil beberapa foto. Di taman ini, saya menikmati hamparan bunga yang didominasi oleh warna ungu dan kuning. Belum banyak pengunjung yang datang saat itu, hanya saya sekeluarga dan beberapa rombongan dari universitas.

Foto 03. Suasana Taman Rumah Atsiri Indonesia. Sumber: Dokumen Pribadi kunjungan ke Rumah Atsiri Indonesia oleh Lia Septiana Dewi.

Ketika sedang asyik berfoto, saya mendapat panggilan telepon dari salah satu Crew Taman Atsiri yang mengatakan bahwa pemandu kami sudah siap.

"Selamat pagi, apakah benar ini dengan Kak Lia? Jika benar sekarang sudah siap Kak untuk melakukan tur bersama pemandu. Kak Lia dan rombongan bisa langsung menemui kami di lobby ya Kak!" Dengan ramah crew memberitahu kami.

Sudah tidak sabar rasanya, sekarang saatnya kami melakukan tur bersama pemandu wisata yang dijanjikan sebelumnya. Menggunakan topi dan jas cokelat dengan kaus hitam bertuliskan “Crew Rumah Atsiri” mereka mengajak kami untuk membuat sebuah lingkaran. Seingat saya dalam satu kloter terdiri kurang lebih 10 orang dengan 2 pemandu wisata. Sebelum melakukan tur, kami diberikan informasi awal tentang regulasi apa saja yang harus ditaati, misalnya larangan memetik dan memegang beberapa jenis bunga dan tumbuhan.

Pada tur pertama, kami memasuki lorong pendek beralas besi yang di bawahnya terdapat bunga lavender serta beberapa pohon pinus. Setelah itu pemandu wisata kami menjelaskan bagaiman asal usul Rumah Atsiri hingga menjadi sekarang ini. Awalnya saya kira Rumah Atsiri memang didirikan sebagai wisata edukasi, tetapi nyatanya menyimpan sebuah sejarah tersendiri yang nantinya akan dijelaskan secara singkat oleh pemandu kami.

Teman-teman sebenarnya, dulunya Rumah Atsiri adalah sebuah bangunan pabrik cittronella milik warga Bulgaria yang dibangun pada tahun 1963 lalu bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, Tapi sayangnya, pada tahun 2015 pabrik citronella hampir gulung tikar karena kekurangan bahan baku. Saat itu kami, PT. Rumah Atsiri Indonesia dengan sigap merevitalisasi pabrik ini menjadi wisata edukasi dan pabrik sekaligus."

Foto 04. Jembatan besi yang masih ada sejak tahun 1960an. Sumber: Dokumen Pribadi kunjungan ke Rumah Atsiri Indonesia dari Lia Septiana Dewi.

Penjelasan ini membuat saya berpikir, bahwa Rumah Atsiri termasuk salah satu bangunan yang memiliki corak sejarah. Saya juga membayangkan betapa kompleksnya perekonomian saat itu, hingga pabrik citronella dapat didirikan hingga bekerja sama dengan bangsa asing.

Setelah melalui penjelasan sejarah oleh pemandu, kami memulai tur dengan memasuki sebuah Green House dengan berbagai tanaman dari mancanegara yang tumbuh di kawasan ini. Saya tidak heran mengapa banyak tumbuhan bisa hidup dengan baik di sini, selain suhu lereng yang mendukung, tampak para pekebun dan staf memiliki regulasi yang ketat dan administrasi yang tertata. Saat memasuki Green House, kami menunjukkan kartu yang berisikan saldo sebesar 50 ribu rupiah sebagai tiket masuk. Kami mengantre untuk tapping kartu yang dibantu oleh staf Rumah Atsiri. Green House ini benar-benar menyajikan sebuah kehijauan yang memanjakan mata.

Sebelum memasuki Green House, kami pemandu wisata menggiring kami ke sebuah bangunan kecil dengan aroma rempah yang sangat menyengat. Benar saja, kami dibawa ke tempat penyulingan minyak atsiri yang masih dilakukan secara tradisional. Ruangan ini lumayan kecil dan sedikit panas menyelimuti kulit kami karena uap mesin yang terus bekerja. Tidak masalah sebenarnya, aroma dari sulingan minyak atsiri memalingkan rasa panas itu. Proses penyulingan yang sangat menarik dengan mesin asli agak berkarat. Wajar saja, mesin ini telah ada dari tahun 1989 di mana saat itu proses pemasaran atsiri sedang gencar-gencarnya.

Foto 05. Tempat penyulingan minyak atsiri secara tradisional. Sumber: Dokumen Pribadi kunjungan ke Rumah Atsiri Indonesia oleh Lia Septiana Dewi.

"Mbak ini mesinnya dari tahun 60-an belum ganti ya?" Salah satu dari kami melontarkan pertanyaan kepada pemandu Rumah Atsiri.

"Hehehe, ini asli Mas belum pernah diganti makanya sampai karatan. Bahkan sama umur saya masih tua umur mesin ini Mas." Sahut pemandu kami sambil bercanda.

Kami dan semua rombongan tertawa melihat tingkah teman rombongan kami.

Melanjutkan perjalanan, kami dipandu untuk berbelok ke arah utara dan turun dari tempat penyulingan menapaki sebuah tangga menuju taman. Walaupun cuaca agak gerimis, tapi bukan masalah bagi kami, pemandu Rumah Atsiri telah menyiapkan payung bagi masing-masing pengunjung, servis yang sangat baik, seperti sebuah pepatah “sedia payung sebelum hujan.”

Dalam tur kali ini, kami sangat tertarik dengan salah satu penjelasan mengenai ikon Rumah Atsiri atau bisa dibilang tumbuhan kesayangan, yaitu mawar Bulgaria. Dari kejauhan saja mawar ini sudah bisa dilirik mata, warna merah muda mencolok di tempatkan pada sebuah lingkaran di tengah-tengah taman, seperti menunjukkan

Akulah si mawar Bulgaria.”

Foto 06. Potret Mawar Bulgaria sebagai ikon Rumah Atsiri Indonesia. Sumber: Dokumen Pribadi kunjungan ke Rumah Atsiri Indonesia dari Lia Septiana Dewi.

Wajah pemandu wisata sumringah menjelaskan betapa spesialnya mawar ini dapat tumbuh di Rumah Atsiri. Saya pribadi sempat penasaran,

“Apa yang membuat mawar ini spesial, ada apa dengan bunga ini, apakah benda keramat?” Mungkin ini pertanyaan yang konyol, tetapi akan terjawab sebentar lagi.

Tanpa menunggu lama, rasa penasaran saya terjawab, dan saya sangat kagum. Sebelum saya membeberkan mengapa mawar ini spesial, pemandu wisata memantik sebuah pertanyaan kepada kami,

“Bagaimana teman-teman apakah mencium bau yang sangat wangi?”

Kami pun mengangguk setuju, karena jujur saja mawar ini dari kejauhan sudah memancarkan aroma semerbak. Tidak seperti mawar lokal, di mana kita harus melakukan usaha lebih untuk mendekat dan mencium aromanya. Saat itu saya berjarak kurang lebih 5 meter dari posisi mawar Bulgaria, aroma harum mawar sudah tercium hingga menembus masker saya. Semakin dekat semakin harum. Pemandu wisata memantik pertanyaan lagi kepada kami,

“Kira-kira usia mawar ini berapa ya teman-teman?” Kami saling menoleh, menunggu siapa yang akan menjawab terlebih dahulu.

Salah satu dari kami menjawab 5 tahun, namun pemandu wisata hanya tersenyum kecil. Apakah lebih lama dari itu? Nyatanya kami salah, sontak kami terkejut mendengar usia mawar ini setelah pemandu membeberkan jawaban kepada kami.

Mawar ini usianya sudah cukup lama ya teman-teman. Kurang lebih sudah lebih dari 30 tahun! Kami sebagai bagian dari Rumah Atsiri memohon kepada rombongan untuk tidak menyentuh mawar ini ya, demi kelangsungan hidup mawar Bulgaria"

Awalnya saya tidak percaya, bagaimana sebuah tumbuhan bisa hidup selama itu? Bahkan usia mawar ini melebihi usia saya sendiri. Ternyata mawar Bulgaria memiliki siklus berbunga selama 15 tahun sekali, cukup lama bukan? Dengan rentang waktu yang panjang, membuat mawar Bulgaria menjadi salah satu bahan baku ekstrak yang sangat mahal. Diperkirakan membutuhkan sekitar 4 ton kelopak bunga mawar Bulgaria untuk mendapatkan 1 kilogram minyak mawar Bulgaria. Sangat fantastis, kami sampai-sampai terdiam untuk per sekian detik. Pemandu kami juga mengatakan bahwa minyak mawar Bulgaria adalah essential oil termahal yang pernah terjual seharga 1,7 miliar rupiah di Prancis. Mendengar informasi yang begitu mengejutkan, kami dengan bangga mengakui bahwa mawar ini memang pantas untuk dijadikan ikon Rumah Atsiri.

Betapa beruntungnya kami dapat melihat salah satu mawar termahal di dunia dengan kedua mata kami, indera penciuman kami juga terbekati karena bau semerbak mawar Bulgaria yang sangat harum. Saya masih ingat, mawar Bulgaria memiliki duri yang menukik lebih tajam dibandingkan dengan mawar lokal. Selagi itu, kami meninggalkan mawar Bulgaria dan mengakhiri tur kami.

Setelah tur berakhir, kami bebas leluasa menyusuri seisi Rumah Atsiri yang belum sempat kami tengok. Tidak hanya menyajikan bunga dan tumbuhan yang cantik, Rumah Atsiri menyediakan sebuah resto semi mewah dengan menu yang beragam. Sayangnya, saat itu kami mengurungkan niat untuk makan di resto tersebut, kami memilih untuk mengunjungi Museum Rumah Atsiri.

Semakin mendung dan hujan pun turun lumayan deras, kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan kami di Rumah Atsiri. Kami pulang melalui pintu keluar di sebelah utara bangunan ini, dengan alas bebatuan dan keramik, kami menapaki jalan yang lumayan menanjak. Agak berat hati meninggalkan Rumah Atsiri, rasanya saya masih ingin mengetahui sejauh mana wisata ini berdiri. Dengan berat hati, cuaca mendung dan hujan yang semakin deras serta kabut yang mulai turun menyelimuti, kami masuk ke dalam mobil. Tulisan “Rumah Atsiri Indonesia” semakin menjauh, cukup satu hal yang ingin saya ucapkan, “Terima kasih Rumah Atsiri dan mawar Bulgaria yang telah mengiringi perjalanan kami.”