Viral atau Eksploitasi? Orang Asing dan Budaya Indonesia di TikTok

Mahasiswi, Universitas Jember
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Liana Shafa kamila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial telah menjadi salah satu platform terbesar untuk menyebarkan informasi, mempromosikan diri, dan meningkatkan popularitas di era digital. Namun demikian, tidak semua upaya untuk menjadi terkenal dilakukan dengan cara yang benar dan jujur. Untuk menarik perhatian, budaya dan identitas nasional dieksploitasi. Orang asing menggunakan nama Indonesia di media sosial, terutama TikTok, untuk mendapatkan views dan popularitas.
Fenomena Pansos di TikTok
TikTok, dengan algoritma yang didasarkan pada popularitas dan viralitas, telah menjadi tempat yang ideal bagi para kreator konten untuk mencoba berbagai cara untuk memastikan bahwa video mereka dilihat oleh banyak orang. Banyak pengguna di luar negeri menyaksikan bahwa konten yang terkait dengan Indonesia seringkali viral, termasuk budaya, makanan, dan bahasa. Meskipun mereka tidak memiliki hubungan langsung dengan negara tersebut, mereka memanfaatkan kesempatan ini dengan membuat konten yang menyebut atau mengangkat nama Indonesia.
Misalnya, ada kecenderungan bagi orang asing untuk berusaha berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi mereka sering menggunakan pengucapan yang salah atau data yang salah. Meskipun konten seperti ini mungkin terlihat menghibur bagi beberapa penonton, ada unsur penipuan di baliknya. Mereka menyadari bahwa penonton asing akan merasa lebih dekat dengan mereka jika mereka menyebut Indonesia, dan mereka ingin mendukung kreator yang menunjukkan "ketertarikan" pada budaya mereka.
Eksploitasi Budaya: Apa yang Salah?
Ketika aspek budaya digunakan secara tidak etis atau tanpa pemahaman yang mendalam untuk kepentingan pribadi, ini disebut eksploitasi budaya. Ini terjadi di media sosial ketika pengguna asing membuat konten yang secara tidak langsung menggambarkan budaya Indonesia atau hanya menyebut nama negara untuk mendapatkan perhatian.
Meskipun pencipta dari luar negeri mencoba berpura-pura memahami atau menghargai budaya Indonesia, konten mereka seringkali dipenuhi dengan stereotip, salah tafsir, atau sekadar mengikuti tren viral. Ini dapat menyebabkan penyebaran informasi yang salah dan membahayakan citra budaya dan Indonesia di mata dunia.
Dampak pada Penonton Indonesia
Pada awalnya, penonton Indonesia mungkin menyukai melihat orang asing mencoba mengenali dan menampilkan budaya mereka. Namun, semakin sering fenomena ini terjadi, penonton mulai menyadari bahwa ada pola di mana konten hanya mencari perhatian dan pandangan tanpa benar-benar menghargai budaya atau negara mereka. Ketika penonton menyadari bahwa minat kreator di Indonesia hanyalah alat untuk meningkatkan partisipasi media sosial dan pansos (panjat sosial), mereka mungkin merasa dieksploitasi. Karena budaya mereka digunakan secara tidak pantas, hal ini dapat menimbulkan kekecewaan dan bahkan kemarahan.
Mengapa Indonesia?
1. Basis Penonton yang Besar: Indonesia memiliki salah satu populasi pengguna internet dan media sosial terbesar di dunia, terutama di platform seperti TikTok. Konten yang menyebut Indonesia memiliki potensi besar untuk dilihat oleh jutaan orang. Ini adalah salah satu alasan mengapa orang luar negeri memilih Indonesia untuk dieksploitasi dalam konten media sosial mereka.
2. Kebanggaan Budaya yang Kuat: Banyak orang Indonesia sangat bangga dengan budaya mereka, sehingga mereka cenderung mendukung konten yang menampilkan atau mengapresiasi aspek-aspek budaya tersebut, yang mendorong engagement tinggi.
3. Algoritma Media Sosial: Algoritma TikTok sering mempromosikan konten yang relevan dengan tren lokal. Kreatif asing dapat memanfaatkan algoritma ini untuk menargetkan penonton di Indonesia dan meningkatkan visibilitas dengan menyebutkan Indonesia.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Penting bagi penonton Indonesia untuk lebih kritis dalam menyikapi konten yang melibatkan budaya mereka. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:
1. Kritik yang Konstruktif: Ketika menemukan konten yang terkesan memanfaatkan nama atau budaya Indonesia untuk pansos, beri kritik yang konstruktif. Ajukan pertanyaan tentang niat kreator dan dorong diskusi tentang bagaimana budaya Indonesia seharusnya dihormati.
2. Dukungan untuk Kreator Otentik: Sebaiknya lebih mendukung kreator konten yang benar-benar menghargai budaya Indonesia dan memiliki ketertarikan yang tulus. Ini bisa berupa kreator dalam negeri atau luar negeri yang berusaha mempelajari dan memahami budaya Indonesia secara mendalam.
3. Edukasi tentang Budaya: Kreator luar negeri mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang melakukan eksploitasi budaya. Dengan mengedukasi mereka tentang pentingnya memahami dan menghormati budaya, kita dapat mendorong lebih banyak konten yang otentik dan bermanfaat.
Fenomena orang luar negeri yang menggunakan nama Indonesia di media sosial untuk mendapatkan popularitas adalah bagian dari tren yang lebih luas di era digital, di mana budaya sering kali dimanipulasi demi keuntungan pribadi. Meskipun mungkin tidak semua kreator berniat buruk, penting bagi penonton Indonesia untuk lebih kritis dan mendukung konten yang benar-benar menghargai dan memahami budaya mereka. Dengan begitu, kita dapat mengurangi eksploitasi budaya dan mempromosikan apresiasi yang lebih otentik terhadap kekayaan budaya Indonesia di kancah global.
Liana Shafa Kamila, Mahasiswi Jember
