Kenapa Siswa Takut Salah di Kelas? Ada Budaya Sekolah yang Jarang Kita Sadari

Mahasiswa aktif Universitas Negeri Jakarta, Program Studi Pendidikan Sosiologi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari E LIANANOVITA S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah kelas. Guru melempar pertanyaan, lalu hening. Puluhan pasang mata menunduk, pura-pura menulis, atau sibuk membuka buku. Padahal beberapa anak mungkin sebenarnya punya jawaban. Mereka hanya tidak mau mengambil risiko.
Banyak guru dan orang tua menyebut ini "kurang percaya diri" atau "pemalu". Penjelasan itu terlalu sederhana. Ketakutan untuk salah jarang lahir dari karakter anak semata. Ia tumbuh pelan-pelan dari cara sekolah bekerja setiap hari, dan itu hal yang jarang kita sadari.
Ketika Salah Dianggap Sebagai Sesuatu yang Memalukan
Rasa takut salah dapat muncul dari berbagai pengalaman yang dialami siswa. Misalnya, ketika seorang siswa memberikan jawaban yang kurang tepat dan kemudian ditertawakan oleh teman-temannya. Ada juga siswa yang pernah mendapat respons kurang menyenangkan dari guru ketika menjawab pertanyaan.
Pengalaman seperti itu dapat membuat siswa berpikir bahwa lebih aman untuk diam daripada mengambil risiko melakukan kesalahan. Lama-kelamaan, siswa dapat terbiasa menjadi pasif di dalam kelas.
Budaya mengejar nilai juga dapat memperkuat kondisi tersebut. Ketika keberhasilan siswa lebih sering dilihat dari nilai ujian, ranking, atau jumlah jawaban benar, siswa bisa menganggap bahwa kesalahan adalah sesuatu yang harus dihindari. Akhirnya, proses belajar bukan lagi hanya tentang memahami materi, tetapi juga tentang bagaimana mendapatkan jawaban yang benar.
Melihat Fenomena Ini melalui Teori Hidden Curriculum
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui konsep hidden curriculum yang diperkenalkan oleh sosiolog pendidikan Philip W. Jackson. Hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi merupakan pembelajaran yang diperoleh siswa melalui pengalaman, kebiasaan, aturan, dan budaya sekolah, meskipun hal tersebut tidak tertulis secara resmi dalam kurikulum.
Di sekolah, siswa memang belajar berbagai mata pelajaran seperti Sosiologi, Matematika, Bahasa Indonesia, dan lainnya. Namun, pada saat yang sama mereka juga belajar hal-hal lain secara tidak langsung. Misalnya, belajar untuk disiplin, mengikuti aturan, menghargai orang lain, bersaing, menunggu giliran, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Dalam konteks siswa yang takut salah, hidden curriculum dapat muncul melalui kebiasaan yang membuat siswa merasa bahwa jawaban salah adalah sesuatu yang memalukan. Jika kesalahan sering mendapatkan ejekan atau respons negatif, siswa secara tidak langsung belajar bahwa lebih baik diam daripada mencoba.
Artinya, tidak ada guru yang secara resmi menuliskan dalam silabus bahwa "siswa harus takut salah". Namun, pengalaman yang terus berulang dapat membuat siswa menangkap pesan tersebut.
Budaya Kelas Ikut Membentuk Keberanian Siswa
Budaya kelas memiliki pengaruh besar terhadap keberanian siswa. Kelas yang memberikan ruang untuk bertanya dan berdiskusi biasanya membuat siswa lebih nyaman menyampaikan pendapat. Sebaliknya, kelas yang terlalu menekankan jawaban benar dan salah dapat membuat siswa lebih berhati-hati.
Peran guru juga penting dalam menciptakan suasana tersebut. Ketika jawaban siswa kurang tepat, guru dapat menjadikannya sebagai kesempatan untuk berdiskusi. Misalnya, guru tidak langsung mengatakan bahwa jawaban tersebut salah, tetapi bertanya kembali mengenai alasan siswa memilih jawaban tersebut.
Dengan cara seperti itu, siswa dapat memahami bahwa kesalahan bukan akhir dari proses belajar. Mereka justru mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki pemahamannya.
Selain guru, teman sekelas juga berpengaruh. Kebiasaan menertawakan teman yang salah dapat membuat siswa lain takut mengalami hal yang sama. Sebaliknya, jika siswa terbiasa menghargai pendapat teman, suasana kelas akan menjadi lebih aman untuk berdiskusi.
Sekolah Seharusnya Menjadi Tempat untuk Belajar dari Kesalahan
Jika siswa terus merasa takut salah, proses pembelajaran dapat menjadi kurang maksimal. Siswa mungkin hadir secara fisik di kelas, tetapi tidak benar-benar terlibat dalam pembelajaran.
Padahal, keberanian untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan mencoba menjawab merupakan bagian penting dalam proses pendidikan. Terutama dalam pembelajaran yang menuntut siswa berpikir kritis, siswa tidak hanya dituntut mengetahui jawaban, tetapi juga mampu memberikan alasan dan mempertahankan pendapatnya.
Karena itu, budaya sekolah perlu memberikan ruang bagi siswa untuk melakukan kesalahan tanpa merasa dipermalukan. Guru dapat membangun suasana kelas yang menghargai proses, bukan hanya hasil akhir.
Siswa juga perlu memahami bahwa salah bukan berarti bodoh. Kesalahan merupakan bagian dari proses seseorang untuk memahami sesuatu.
Belajar Bukan Berarti Harus Selalu Benar
Rasa takut salah di kelas ternyata bukan hanya masalah keberanian individu. Ada budaya sekolah yang secara tidak langsung dapat membentuk cara siswa dalam bersikap dan berpikir.
Melalui konsep hidden curriculum Philip W. Jackson, kita dapat memahami bahwa sekolah tidak hanya mengajarkan apa yang tertulis di buku atau kurikulum. Sekolah juga mengajarkan nilai dan kebiasaan melalui pengalaman sehari-hari.
Jika siswa terus mendapatkan pesan bahwa kesalahan adalah sesuatu yang memalukan, mereka akan belajar untuk menghindarinya. Namun, jika sekolah membangun budaya yang menganggap kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, siswa akan lebih berani mencoba, bertanya, dan berpikir kritis.
Pada akhirnya, sekolah seharusnya bukan tempat untuk membuktikan bahwa siswa selalu benar, tetapi tempat untuk membantu siswa belajar ketika mereka salah. Sebab, dari kesalahan itulah proses belajar yang sebenarnya sering dimulai.
