Penyebab Fatal dari Penggunaan AI : Bumi Krisis Air dan Emisi Karbon

Mahasiswa aktif Universitas Negeri Jakarta, Program Studi Pendidikan Sosiologi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari E LIANA NOVITA S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia dimulai sejak akhir 1980-an, dengan berbagai penelitian awal di institusi seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI). Seiring berjalannya waktu, riset dan aplikasi AI semakin berkembang, karena didorongnya oleh kemajuan teknologi dan internet serta dukungan kebijakan nasional sejak 2020. AI kini diterapkan untuk membantu berbagai sektor, dari industri hingga pelayanan publik, dengan potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi.
Namun, di era digital ini, kemajuan AI turut menghadirkan tantangan besar bagi lingkungan global. Penggunaan AI yang intensif membutuhkan energi besar untuk pusat data dan komputasi, yang menyebabkan kerusakan lingkungan seperti menyebabkan emisi karbon dan memicu lonjakan konsumsi air. Selain itu, limbah elektronik dari perangkat AI juga menjadi masalah lingkungan yang perlu dikelola dengan baik.
Dengan kondisi tersebut, pengelolaan dampak lingkungan menjadi sangat penting agar teknologi AI dapat berkembang secara berkelanjutan. Di sisi lain, pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengelola dan mengoptimalkan AI sangat dibutuhkan. SDM yang kompeten akan memastikan penggunaan AI secara efektif dan bertanggung jawab, serta mampu mendorong inovasi yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Oleh karena itu, kolaborasi antara penguatan SDM dan pengelolaan dampak lingkungan menjadi kunci dalam menyongsong masa depan AI yang berkelanjutan dan bermanfaat luas bagi masyarakat dan alam sekitar.
AI sebagai Peningkatan Signifikan dalam Konsumsi Air Global
Kecerdasan buatan (AI) semakin berkembang pesat dan menjadi bagian penting dari berbagai aspek teknologi modern. Namun, perkembangan AI membawa konsekuensi signifikan terhadap konsumsi air global, terutama karena kebutuhan pendinginan pusat data tempat AI beroperasi sangat besar. Pusat data AI menggunakan air dalam jumlah besar untuk sistem pendingin agar perangkat keras tidak mengalami overheating yang dapat merusak fungsi teknologi tersebut.
Menurut laporan, operasi pusat data di beberapa wilayah seperti Virginia, Amerika Serikat, menghabiskan miliaran galon air setiap tahunnya, dan angka ini meningkat secara signifikan di tahun-tahun terakhir. Secara global, konsumsi air untuk pendinginan pusat data AI mendekati ratusan miliar liter dan diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya penggunaan dan kapasitas AI. Kebutuhan air yang besar ini menimbulkan tekanan pada sumber daya air, terutama di daerah dengan kelangkaan air yang sudah menjadi masalah serius.
Selain untuk pendinginan, air juga digunakan dalam produksi energi yang mendukung operasional AI, mempertinggi total konsumsi air industri ini. Dampak lingkungan dari tingginya penggunaan air ini mengundang perhatian karena berpotensi memperparah krisis air dan mengancam keberlanjutan sumber daya alam.
Untuk itu, pengembangan teknologi AI harus diiringi dengan inovasi dalam efisiensi penggunaan air dan energi, serta kebijakan pengelolaan sumber daya yang bijak, agar pertumbuhan AI tidak menambah beban lingkungan secara signifikan. Perlunya kolaborasi antara pemerintah, industri teknologi, dan masyarakat global sangat penting untuk memastikan bahwa AI dapat berkembang secara berkelanjutan tanpa mengorbankan ketersediaan air bagi generasi mendatang.
AI Penyebab Emisi Karbon yang Dapat Merusak Bumi
Kecerdasan buatan (AI) adalah teknologi yang mengandalkan pusat data besar untuk melakukan pemrosesan data yang kompleks. Pusat data ini terdiri dari ribuan server yang bekerja nonstop, membutuhkan energi listrik dalam jumlah sangat besar untuk menjalankan komputasi serta sistem pendingin demi menjaga suhu perangkat keras tetap optimal agar tidak mengalami overheating dan kerusakan.
Cara kerja AI, khususnya model besar seperti GPT-4 dan lainnya, melibatkan proses pelatihan dan inferensi yang sangat intensif energi. Pelatihan model AI besar bisa menghabiskan energi setara konsumsi listrik rata-rata 130 rumah selama satu tahun penuh. Selain komputasi, kebutuhan daya untuk sistem pendingin juga sangat besar karena perangkat keras menghasilkan panas yang harus didinginkan secara terus-menerus.
Akibat dari konsumsi energi besar ini, pusat data AI menyumbang emisi karbon yang signifikan. Emisi karbon ini berasal dari pembangkit listrik yang biasanya masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Jika emisi karbon ini terjadi dalam jangka pendek, dampaknya adalah peningkatan polusi udara yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan kualitas udara yang menurun. Dalam jangka panjang, akumulasi emisi karbon dari berbagai pusat data dapat memperparah perubahan iklim, menyebabkan pencairan es, kenaikan permukaan laut, dan perubahan pola cuaca ekstrem yang berdampak luas pada kehidupan manusia bahkan ekosistem.
Selain itu, laporan International Energy Agency memproyeksikan kebutuhan listrik pusat data global akan meningkat dua kali lipat hingga mencapai 945 Terawatt-jam pada tahun 2030, yang praktis setara dengan konsumsi listrik sebuah negara berukuran Jepang. Tantangan ini menggaris bawahi pentingnya inovasi teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi energi dan penggunaan sumber energi terbarukan untuk mengurangi jejak karbon dari operasi pusat data AI.
Perusahaan teknologi besar kini berupaya mengadopsi teknologi pendingin hemat energi, penggunaan energi terbarukan, dan algoritma yang lebih efisien untuk menekan konsumsi listrik sekaligus menjaga performa AI. Upaya ini menjadi sangat penting agar perkembangan AI tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan kesehatan global sehingga dapat terus memberikan manfaat optimal bagi manusia tanpa memperparah krisis iklim.
