Narasi Damai di Tanah Siak: Ada Ruang Temu yang Melampaui Iman
Tulisan dari lianmartinline tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ali bin Abi Thalib, sahabat Nabi Muhammad SAW, pernah berkata:
"Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan."
Dalam realitas sosial, perbedaan sering kali menjadi benturan dan tantangan tersendiri dalam membangun kesepahaman. Tujuan bersama kerap rapuh oleh kepentingan kelompok yang kemudian menciptakan jarak, prasangka, bahkan fanatisme.
Di Indonesia, semangat Bhinneka Tunggal Ika terkadang kecolongan dalam merawat nilai kebersamaan. Kita bangga dengan keberagaman, namun sering kali bergerak sendiri-sendiri sesuai prinsip kelompok masing-masing hingga memicu polarisasi. Kesannya, keberagaman hanyalah agenda yang dipaksakan sebuah hidup berdampingan yang tampak mempesona di permukaan, namun hampa harmoni, terutama ketika berbicara tentang sentimen agama, suku, dan ras. Dominasi kelompok bermunculan, menciptakan perpecahan, dan membuat arah perdamaian kehilangan maknanya.
Namun, melalui program Champions for Peace yang diselenggarakan oleh IYES Indonesia dalam kunjungan ke tiga situs bersejarah di Kabupaten Siak— Klenteng Hock Siu Kiong, Makam Sultan Syarif Kasim II, dan Istana Siak (Sri Indrapura)—membuka cakrawala baru terkait keberagaman di Indonesia. Ada pesan melintasi waktu yang dibangun jauh sebelum rasa kepemilikan kelompok menajam, yaitu makna tentang "keberadaan". Dengan memaknai keberadaan kebudayaan dan keyakinan lain, kita memahami hakikat sejati sebagai sesama manusia.
Berikut adalah catatan refleksi dari perjalanan menyusuri sejarah di Kabupaten Siak:
1. Klenteng Hock Siu Kiong: Bangunan Merah Sebagai Bukti Penerimaan Tulus
Perjalanan dimulai di Klenteng Hock Siu Kiong. Berdiri megah dengan dominasi warna merah dan arsitektur khas Tionghoa, klenteng ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol penerimaan yang tulus dari masyarakat sekitar. Meski telah berusia kurang lebih satu abad, fondasi dasar dari nilai keberadaan di sini adalah semangat memberi dan menerima yang terus diwariskan antar-generasi melalui berbagai media. Semua bermuara pada tradisi gotong royong yang tidak pernah putus antar-sesama.
2. Makam Sultan Syarif Kasim II: Keteladanan, Pengorbanan, dan Negosiasi Damai
Menziarahi makam Sultan Syarif Kasim II mengingatkan saya pada arti sejati dari kepemimpinan yang berorientasi pada kemanusiaan. Beliau adalah pahlawan nasional yang dengan ikhlas mengintegrasikan Kesultanan Siak ke dalam Republik Indonesia yang baru lahir, bahkan menyumbangkan kekayaan istana sebagai modal kemerdekaan. Dari beliau, saya belajar tentang kekuasaan yang tidak gelap mata, melainkan meneduhkan.
Sebuah nilai mendalam yang saya renungkan saat mengenang keteladanan beliau adalah:
"Tidak ada harta yang lebih berharga dibanding nyawa, tidak ada hal yang lebih menyakitkan dibanding rasa putus asa, tidak ada yang lebih membahagiakan dibanding melihat rakyat mendapat rasa aman."
3. Istana Siak (Sri Indrapura Palace): Estetika Akulturasi dan Jejak Kepemimpinan Perempuan
Istana Siak, atau Istana Matahari Timur, menyuguhkan perpaduan arsitektur yang elok antara Melayu, Arab, dan Eropa. Di dalam dinding-dinding istana inilah strategi politik dan diplomasi kebudayaan dulunya dirumuskan.
Tidak hanya itu, Istana Siak juga mencatat bahwa kesultanan ini menghormati kepemimpinan perempuan, yang tercermin dalam wujud Sultanah Sharifah Fatimah. Kehadiran figur perempuan dalam lingkar kekuasaan tertinggi maupun diplomasi istana menegaskan bahwa perempuan bukanlah objek pasif dalam sejarah. Dalam konteks ini, perempuan terbukti menjadi tonggak perubahan, terutama dalam penguatan pengetahuan dan penyebaran informasi melalui ruang-ruang belajar yang jejak aktivitasnya terdokumentasikan dengan baik.

