Konten dari Pengguna

Tidak Hanya Gowes, Ngepit Trisna Kenalkan UMKM Desa & Hadirkan Panggung Festival Kesenian!

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Carolina Earlene tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gerbang Acara Ngepit Trisna (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Gerbang Acara Ngepit Trisna (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

KABUPATEN SEMARANG — Suasana Desa Branjang, Kecamatan Ungaran Barat mendadak riuh pada (31/10) lalu. Puluhan pesepeda dan pengunjung memadati kawasan lapangan desa untuk mengikuti acara Ngepit Trisna. Acara ini merupakan inisiatif wisata berbasis komunitas yang memadukan petualangan alam melalui gowes, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian tradisi. Sejak pagi hari, antusiasme peserta terpancar jelas, mulai dari menjelajahi bazar produk UMKM desa hingga menikmati kemeriahan festival pertunjukan seni.

Acara diawali dengan kegiatan gowes oleh para peserta. Di sepanjang rute, peserta berkesempatan untuk singgah di sejumlah UMKM Desa Branjang yang tersebar dari Dusun Dersuni hingga Dusun Cemanggah. Adapun UMKM tersebut terdiri dari susu sapi murni, kopi Branjangan, gula aren, sapu ijuk, kerajinan resin, dan lain-lain.

Selain itu, peserta dan pengunjung juga berkesempatan untuk singgah di area bazar yang dipusatkan di Lapangan Reformasi Desa Branjang. Berbagai lapak pelaku mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal tampak berjejer rapi menawarkan produk unggulan, mulai dari kerajinan tangan sapu ijuk, susu sapi, hingga aneka jajanan.

Salah seorang pedagang UMKM asal Karangmalang, Mijen, Ibu Yana, mengaku antusias mengikuti pameran ini. Menurutnya, kerumunan pembeli biasanya akan memuncak menjelang siang hingga sore hari seiring berjalannya rangkaian acara. “Biasanya nanti kalau acara kesenian sudah mulai, pengunjung makin ramai berdatangan dari segala usia,” ujar Yana.

Acara ini membuka peluang bagi pelaku UMKM dari berbagai daerah untuk turut meramaikan bazar. Meskipun demikian, ia bersama pedagang lain berharap adanya peningkatan fasilitas penunjang di lokasi acara, seperti ketersediaan sambungan listrik langsung dari panitia untuk memudahkan penggunaan alat elektronik berdagang.

Senada dengan hal tersebut, Pak Nanang, salah satu pedagang lokal yang turut andil, mengapresiasi konsep kegiatan wisata sepeda ini. Menurutnya, rute dan kondisi alam Desa Branjang sangat ideal dan memiliki potensi untuk kegiatan sepedaan gunung. “Tempatnya sangat memungkinkan dan cuacanya bagus sekali untuk sepedaan. Kami berharap acara seperti ini bisa mendatangkan rezeki dan keramaian bagi warga,” jelas Nanang. Ia juga menambahkan bahwa daya tarik utama yang paling ditunggu-tunggu oleh pengunjung dari berbagai kalangan adalah kemeriahan panggung kesenian tradisional.

Selain gowes dan bazar, kemeriahan acara memuncak lewat festival pertunjukan seni di lapangan desa. Pertunjukan seni yang ditampilkan antara lain tari Semarangan, kuda lumping Dharma Muda, orkestra musik Sambat Budaya, serta penampilan hiburan lainnya. Berbeda dari pertunjukan lain yang ditampilkan di atas panggung, kuda lumping Dharma Muda dipentaskan langsung di lapangan dan berbaur dengan penonton sehingga menciptakan suasana yang lebih hidup dan meriah. Penonton dari berbagai usia tampak memadati area lapangan, sementara sebagian lainnya menikmati pertunjukkan sambil mencicipi jajanan dari lapak UMKM di sekitar lapangan.

Salah seorang pengunjung, Putri, menilai konsep acara ini menarik. Menurutnya, Ngepit Trisna menawarkan daya tarik tersendiri karena pengunjung dapat menikmati pertunjukan kesenian sekaligus berburu jajanan di lapak UMKM. “Acaranya seru, bisa nonton pertunjukan sambil jajan,” ujarnya.

Melalui rangkaian gowes, bazar UMKM, dan festival pertunjukan seni, Ngepit Trisna memperlihatkan beragam potensi yang dimiliki Desa Branjang, mulai dari wisata alam hingga produk dan budaya masyarakat setempat. Kehadiran pelaku UMKM dan kelompok kesenian juga memberi kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal desa melalui pengalaman yang lebih beragam.

Di sisi lain, masukan para pedagang mengenai ketersedian fasilitas, seperti sambungan listrik, dapat menjadi bahan evaluasi bagi panitia untuk penyelengaraan kegiatan berikutnya. Dengan dukungan fasilitas yang lebih memadai, kegiatan seperti Ngepit Trisna diharapakan tidak hanya menghadirkan keramaian. tetapi juga memberikan manfaat yang lebih besar bagi pelaku usaha dan masyarakat setempat.