Guru Tahfidz: Belajar Mengabdi, Belajar Menerima

Saat ini sebagai tenaga pendidik atau guru di lembaga SMP Plus Nurul Hikmah Pamekasan. Pendidikan terakhir Magister Universitas Al-Amien Prenduan Sumenep Madura.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Lidia Candra Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Januari 2026 menjadi awal langkahku mengabdi sebagai guru tahfidz di SMP Plus Nurul Hikmah Pamekasan. Masa itu terasa begitu istimewa sekaligus penuh kegelisahan. Aku baru saja menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren dan untuk pertama kalinya harus menghadapi dunia sekolah formal dengan karakter santri tingkat SMP yang sebelumnya belum pernah kutemui secara langsung.
Jujur, ada rasa takut yang sempat menggelayuti hati. Aku membayangkan berbagai kemungkinan tentang perilaku remaja di luar pesantren, tentang kenakalan, sikap yang kurang santun, atau berbagai tantangan lain yang mungkin akan kuhadapi. Kekhawatiran itu terasa begitu nyata, seolah-olah aku belum benar-benar siap.
Namun, semua prasangka itu perlahan luruh sejak hari-hari pertamaku mengajar.
Aku menemukan suasana yang begitu berbeda dari bayanganku. Lingkungan sekolah yang tertata dengan baik, pemisahan kelas antara putra dan putri yang dijaga dengan penuh kehati-hatian, hingga adab sederhana namun bermakna yang ditunjukkan para santri. Setiap kali berpapasan dengan guru, mereka menyapa dengan salam, memanggil dengan sebutan “ustadzah”, sembari sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan. Sebuah kebiasaan kecil yang menghadirkan keteduhan tersendiri di hati.
Kegiatan di sekolah ini pun tidak dimulai langsung dengan pelajaran di kelas. Bel pertama justru menjadi panggilan untuk mendekat kepada Allah. Seluruh santri dan guru bergegas menuju masjid untuk melaksanakan salat duha berjemaah. Kebiasaan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan menjadi fondasi yang menanamkan nilai spiritual sebelum memulai aktivitas belajar.
Sebagai guru tahfidz, aku menyaksikan langsung semangat para santri dalam menghafalkan kalam Allah. Di tengah padatnya kegiatan belajar dari pagi hingga sore, mereka tetap antusias menghafal ayat demi ayat Al-Qur’an. Tidak tampak beban di wajah mereka. Justru yang terlihat adalah kebahagiaan sederhana ketika mampu menambah hafalan.
Masyaallah, pemandangan itu sering kali membuatku tertegun.
Di sisi lain, para guru pun hadir dengan penuh ketulusan. Senyum selalu terjaga, sapaan hangat tak pernah absen, dan hubungan yang terbangun terasa seperti keluarga. Tidak sekadar relasi antara pendidik dan peserta didik, tetapi lebih menyerupai ikatan antara orang tua dan anak.
Kegiatan harian pun diwarnai dengan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya. Salat zuhur dan asar dilaksanakan secara berjemaah. Di sela-sela waktu istirahat, para santri mengisi waktu dengan beragam aktivitas positif, seperti menambah hafalan, berolahraga, atau sekadar menikmati kebersamaan bersama teman-temannya.
Tentu, sebagaimana anak-anak pada umumnya, ada saja perilaku usil atau candaan yang berlebihan. Namun, di situlah letak tugas utama seorang guru, yaitu mendampingi, mengarahkan, dan membimbing dengan penuh kesabaran. Setiap kesempatan yang ada selalu dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya akhlak, baik kepada guru, orang tua, maupun sesama teman.
Lingkungan sekolah juga dibangun dengan sistem pengawasan yang baik serta komitmen kuat dari pimpinan agar tidak ada kelas yang dibiarkan tanpa pendampingan guru. Semua ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga kualitas pendidikan sekaligus pembinaan karakter para santri.
Salah satu momen yang paling membekas dalam hatiku adalah ketika mengikuti acara perpisahan kelas IX. Suasana haru begitu terasa. Tangis dan doa saling mengiringi, menjadi saksi betapa kuatnya ikatan yang terbangun selama mereka belajar di sekolah ini.
Beberapa bulan setelah kelulusan, kabar-kabar bahagia pun berdatangan. Banyak alumni yang diterima di sekolah-sekolah unggulan dan favorit di Pamekasan. Namun, ada satu peristiwa kecil yang justru meninggalkan kesan paling dalam bagiku.
Suatu pagi, seorang alumni datang kembali ke sekolah dengan mengenakan seragam SMP. Ia hadir bukan karena kewajiban, melainkan karena rindu. Rindu pada sekolahnya, pada para guru, dan pada suasana yang pernah ia jalani setiap hari.
Ia kembali mengikuti kegiatan seperti dulu, salat duha berjemaah, menyapa para guru dengan senyum tulus, dan memandang sekitar dengan mata yang tak mampu menyembunyikan kerinduannya.
Saat itu aku memahami satu hal: pendidikan bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang rasa yang tertanam di dalam hati.
Kini, di tempat inilah aku berdiri, SMP Plus Nurul Hikmah Pamekasan, menjalankan amanah yang pernah disampaikan oleh para guru di pondokku. Bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada diri sendiri, tetapi harus mengalir dan bermuara di tengah masyarakat. Bahwa tugas kita bukan sekadar mengajar, tetapi juga menanamkan akhlak dan nilai-nilai kehidupan.
Dan dari tempat ini, aku belajar satu hal yang sangat berharga:
Mengajar bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang menerima, pelajaran, keikhlasan, dan cinta yang tak selalu terucap, namun terasa begitu dalam.
