Konten dari Pengguna

Media Sosial dan Lahirnya Generasi Menunduk

Lidia Pratama Febrian

Lidia Pratama Febrian

Mahasiswa Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta Tertarik pada penulisan opini, lifestyle, self motivated

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lidia Pratama Febrian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan media sosial, menimbulkan berbagai pengaruh dan dampak terhadap kehidupan dan interaksi sosial.

Ilustrasi media sosial. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi media sosial. Foto: Pexels

Media sosial, sebuah media digital di mana seseorang dapat membuat situs pribadi untuk berbagi informasi, berkomunikasi, bahkan hiburan. Saat ini kita melihat begitu banyak jenis media sosial antara lain WhatsApp, Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok.

Kehadiran media sosial tentu mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan kita. Dengan media sosial, interaksi sosial lebih mudah dijalin, komunikasi yang hadir tanpa harus bertemu satu sama lain. Banyak informasi yang diakses dengan mudah, tak hanya sebagai komunikasi namun juga bisa memperluas jejaring bisnis.

Namun, seiring berjalan waktu, media sosial bisa membuat para penggunanya kecanduan gadget. Hal ini dapat ditandai dengan lebih banyak waktu yang dihabiskan di media sosial dibanding kehidupan sosialnya, timbulnya rasa kecemasan dan gejala tidak bisa lepas dari media sosial, tentu hal ini memengaruhi hubungan sosial kita di dunia nyata.

Apabila media sosial digunakan secara berlebihan akan berpotensi membuat seseorang menjadi anti-sosial. Sebab membuat kita terisolasi dan tidak peduli dengan lingkungan nyata. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya fenomena generasi menunduk, tampaknya sudah menjadi pemandangan yang umum.

Ilustrasi keluarga bermain media sosial. Foto: Shutterstock

Sebagian orang masih beraktivitas seperti biasa. Namun mereka tidak bisa lepas dari smartphone, baik ketika sedang berjalan, belajar, bahkan hingga saat bekerja sekalipun.

Pemandangan yang nyatanya menjadi pengaruh buruk ini dapat kita temukan di tempat umum, kafe, dan juga ruang publik lainnya. Tanpa sadar kita sibuk memainkan telepon genggam tanpa memperhatikan lingkungan, asyik dengan diri sendiri, dan tampak tidak peduli dengan orang sekitar.

Kesibukan kita membangun dunia maya, namun tanpa sadar mengabaikan dunia nyata. Apabila hal ini dibiarkan terus-menerus akan merusak hubungan yang sudah lama terjalin di dunia sesungguhnya maka dari itu sebaiknya kita mulai mengendalikan diri dalam penggunaan media sosial dan mampu membagi aktivitas kita di dunia maya dan nyata.

Hal yang perlu kita lakukan yaitu menentukan apa tujuan pengunaan media sosial, mempergunakan sebagai komunikasi, berbisnis atau hal lainnya. Kita bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin untuk mengobrol dan berinteraksi ketika berkumpul dengan teman, keluarga dan pasangan dengan meminimalkan penggunaan smartphone.

Ilustrasi kaum millenial bermain sosial media. Foto: Shutter Stock

Pada dasarnya media sosial menjadi solusi untuk mempermudah kita untuk saling berkomunikasi satu dan lainnya. Namun, penggunaan media sosial yang berlebihan tentunya akan menimbulkan efek negative seperti munculnya sikap anti-sosial.

Sebagi pengguna, kita harus bisa bersikap bijak dalam menerapkan fungsi dan peran media sosial yaitu sebagai media untuk menjalin pertemanan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, tanpa kita melupakan pertemanan atau hubungan yang ada di dunia nyata.