Fashion yang Bisa Dicicipi: Ketika Luxury Brand Menyajikan Gaya Lewat Rasa

Pengajar art ,craft dan fashion. Pendiri Satudivisi Creative House dan Bluwerks Upcycle Studio.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari M Lidinia Husni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa tahun terakhir, dunia fashion mengalami perluasan makna. Kini, rumah mode seperti Louis Vuitton, Dior, Hermès, dan Coach tak hanya menjual tas atau sepatu—mereka juga menyajikan kopi, kue, hingga pengalaman.
Brand-brand mewah ini membuka café dan pop-up lounge dari Osaka, Seoul, hingga Jakarta dan Bali. Anehnya, meskipun harga minuman dan makanannya tergolong premium, tempat-tempat ini selalu ramai.
Mengapa? Karena yang dibeli bukan sekadar latte, tapi “pengalaman hidup bersama brand.”
Dari Butik ke Meja Makan
Louis Vuitton membuka LV Café di atas flagship store-nya di New York, lengkap dengan dessert berlogo LV dan interior estetis yang Instagramable.
Dior menghadirkan Dior Riviera Pop-Up di Bali, menyulap pantai jadi tempat brunch mewah dengan kursi, parasol, dan bean bag bermotif Toile de Jouy.
Coach menghadirkan Coach Play Jakarta—konsep toko dan café penuh warna cerah dan playful.
Sementara Hermès mencuri perhatian lewat pop-up bertema kios koran “Le Monde D’Hermès” hingga kelas fitness studio mewah bernama HermèsFit.
Semua dirancang untuk menciptakan pengalaman total. Sendok berlogo, cangkir bermotif brand, dan tempat yang langsung bisa dikenali hanya dari satu foto. Di sinilah kekuatan branding modern bekerja.
Lebih dari Gaya: Ini Strategi Marketing
Brand-brand ini tidak sekadar menjual makanan—mereka menjual emosi dan aspirasi.
Menurut banyak laporan industri fashion, strategi ini disebut sebagai experience-led branding: membangun hubungan emosional lewat pengalaman langsung, bukan hanya produk.
Kopi atau kue menjadi media sosial baru. Orang datang, berfoto, upload, dan ikut menciptakan narasi visual brand. Semuanya memperluas jangkauan merek tanpa iklan konvensional.
Restoran dan café mewah membantu brand menjangkau generasi muda—mereka yang mungkin belum bisa membeli tas jutaan, tapi ingin mencicipi dunia mewah dalam dosis kecil.
Konsumen tidak hanya melihat, tapi duduk, mencium, mencicipi, dan mengunggah. Jika biasanya seseorang hanya masuk butik 10 menit, kini mereka duduk selama satu jam—terpapar dengan nilai-nilai brand.
Ini bukan hanya memperpanjang waktu interaksi, tapi juga menciptakan brand intimacy.Karena makanan dan tempat adalah medium storytelling paling efektif. Orang mungkin belum mampu beli tas Rp50 juta, tapi mereka bisa minum kopi di Café V dan membagikan pengalaman itu di media sosial.
Café dan pop-up seperti ini adalah bentuk immersive brand experience. Setiap sudutnya bisa menjadi konten, dan setiap pengalaman adalah undangan untuk “ikut jadi bagian” dari dunia mewah itu.
“When consumers can’t buy the bag, they still want to buy into the brand. Cafés and pop-ups make that possible.”
— Hypebae, 2024 —
Estetika, Media Sosial, dan Partisipasi Visual
Tren ini tak bisa dilepaskan dari kekuatan Instagram dan TikTok. Makan di Dior Riviera atau ngopi di Coach Café bukan cuma soal rasa, tapi soal “ikut menjadi bagian dari dunia mereka.”
Bahkan orang yang belum punya dompet LV atau scarf Hermès, kini punya foto dengan latte-nya. Ketika mereka mampu membeli kelak, brand-nya sudah akrab dan membekas.
Apa yang Bisa Dipelajari oleh Brand Lokal?
Meskipun dipelopori oleh rumah mode dunia, banyak pelajaran penting untuk brand lokal:
1. Jual suasana, bukan cuma produk
Bawa pelanggan masuk ke “dunia” brand kamu.
2. Bangun pengalaman yang bisa dibagikan
Visual, cerita, dan ambience adalah bagian dari strategi marketing.
3. Ciptakan emosi, bukan hanya transaksi
Orang ingat bagaimana mereka merasakan sesuatu, bukan hanya apa yang mereka beli.
Menurut The State of Fashion Report 2023 dari McKinsey & Company, fashion brands perlu membangun ekosistem brand yang kuat—tidak hanya menjual barang, tapi juga suasana, cerita, dan gaya hidup.
F&B, lounge, dan pop-up adalah cara untuk menciptakan brand extension yang relevan:
• Meningkatkan aspirasi
• Menumbuhkan loyalitas.
• Menarik market yang lebih muda.
Dengan menciptakan ruang yang bisa dikunjungi, disentuh, dan diabadikan, fashion menjadi lebih dari sekadar produk—ia menjadi pengalaman hidup.
Dulu, branding hanya soal logo. Kini, branding bisa diseduh, disantap, dan diunggah.
Café mewah bukan soal menjual makanan mahal, tapi soal memperluas makna brand di kehidupan sehari-hari.Di tengah persaingan industri fashion yang makin cepat, menciptakan ruang offline untuk merasakan brand adalah langkah strategis.
Fashion kini bukan hanya soal apa yang kamu pakai. Tapi juga di mana kamu duduk, apa yang kamu pesan, dan bagaimana kamu membagikannya.
Café dan pop-up ini bukan tren sesaat—mereka adalah cara baru agar brand tetap relevan dan dekat dengan konsumennya.
Karena siapa yang berhasil menjual cerita—dialah yang akan diingat.
Dan hari ini, cerita itu bisa dimulai dari secangkir kopi bermerek… dan satu unggahan Instagram.
