Konten dari Pengguna

Kids Biennale Indonesia 2025: Tumbuh Tanpa Takut, Ruang Anak Bersuara Lewat Seni

M Lidinia Husni

M Lidinia Husni

Pengajar art ,craft dan fashion. Pendiri Satudivisi Creative House dan Bluwerks Upcycle Studio.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Lidinia Husni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Maskot Kids Biennale Indonesia di Galeri Nasional (Poto dokumentasi pribadi M Lidinia Husni)
zoom-in-whitePerbesar
Maskot Kids Biennale Indonesia di Galeri Nasional (Poto dokumentasi pribadi M Lidinia Husni)

Jakarta – Galeri Nasional Indonesia bulan Juli ini menjadi lebih berwarna. Untuk pertama kalinya, Kids Biennale Indonesia (KBI) digelar, menghadirkan ruang inklusif di mana anak-anak typical maupun atypical (berkebutuhan khusus) bisa bebas berekspresi. Pameran perdana bertajuk “Tumbuh Tanpa Takut” berlangsung 4–31 Juli 2025, menampilkan 142 karya terpilih dari lebih 1.000 karya yang masuk dari seluruh nusantara .

poto pembukaan Kidsbiennale Indonesia Ibu Wamen Veronica Tan , Ibu Wamen Irene Umar dan Arsitek Cozmas Gozali berfoto denga Sade salah satu pameris. (Poto dokumentasi pribadi M Lidinia Husni)
zoom-in-whitePerbesar
poto pembukaan Kidsbiennale Indonesia Ibu Wamen Veronica Tan , Ibu Wamen Irene Umar dan Arsitek Cozmas Gozali berfoto denga Sade salah satu pameris. (Poto dokumentasi pribadi M Lidinia Husni)

Anak-anak Bersuara, Tanpa Rasa Takut

Tema “Tumbuh Tanpa Takut” lahir dari keresahan terhadap isu yang masih dekat dengan kehidupan anak-anak: kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi. Tiga isu besar ini kerap menghambat anak untuk tumbuh dengan bebas. Melalui seni, Kids Biennale menghadirkan perlawanan, ruang penyembuhan, sekaligus harapan.

“Setiap karya di sini bukan hanya hasil kreativitas, tapi juga cerminan perasaan, pengalaman, dan kekuatan anak-anak,” ujar kurator Gie Sanjaya dalam pembukaan pameran.

poto instalasi interaktif di Kidsbiennale (Poto Dokumentasi Pribadi M Lidinia Husni)

Suasana Pameran: Dari Kanvas Hingga Instalasi Bermain

Memasuki ruang pameran, pengunjung disambut berbagai karya lintas medium. Ada instalasi robot raksasa dari barang daur ulang, area penuh botol warna-warni, hingga karpet dan bantalan besar tempat anak-anak bisa bermain dan beristirahat. Nuansanya bukan sekadar galeri formal, tapi juga taman bermain kreatif yang ramah anak.

Beberapa instalasi interaktif menjadi favorit pengunjung cilik:

“Where Memories Are Made” karya REEXP (Evan & Attina, Bandung): anak-anak bisa meluncur di papan seluncur warna-warni, bermain dengan tumpukan botol bekas dan kain perca. Karya ini dirancang agar anak-anak dapat mengapresiasi seni dengan tubuh mereka, sambil belajar berbagi ruang dengan pengunjung lain.

“The Maze” karya Cosmas Gozali & Adriel Arizon: labirin kayu modular yang melatih anak menjelajah, mencari solusi, dan menghadapi tantangan simbolis kehidupan. Instalasi ini merefleksikan perjalanan tumbuh kembang anak yang penuh ketidakpastian, sekaligus mengajarkan kemandirian dan ketahanan diri.

“Instalasi Bilik Aman” karya Adriel Arizon & Cosmas Gozali: ruang kontemplatif dari tumpukan bahan daur ulang yang dirancang sebagai tempat anak (dan orang tua) merasakan ketenangan. Bilik ini mengingatkan pentingnya menyediakan ruang aman bagi anak-anak, baik secara emosional maupun fisik.

Poto Dinding Ruang Pameran Kidsbiennale (Poto dokumentasi pribadi M Lidinia Husni)

Di salah satu ruangan, dinding oranye terang bertuliskan manifesto “Tumbuh Tanpa Takut”. Tulisan itu mengingatkan pengunjung bahwa seni di sini adalah bahasa universal: menyoroti masalah, mengajak dialog, sekaligus menawarkan solusi.

Kolaborasi dengan Seniman dan Program Interaktif

Selain karya anak-anak, Kids Biennale juga menghadirkan kolaborasi dengan tiga seniman Indonesia: Dareen Chandra (ABK, Bogor), Reexp (Bandung), dan Nuki Alwi (Banda Neira).

Selama pameran, berbagai program interaktif juga digelar: mewarnai maskot Kibi dan Kibe, pemutaran film pendek, lokakarya daur ulang, konseling bersama psikolog, gelar wicara “Karya dan Suara”, hingga pagelaran wayang cilik.

Kemeriahan Kids Biennale 2025 juga ditambah dengan hadirnya jingle resmi berjudul “Agent of Change”. Lagu dengan melodi ceria dan lirik penuh semangat ini dibawakan oleh Meda Kawu bersama Singing Playground. Jingle tersebut dengan cepat menjadi favorit anak-anak karena mudah diingat dan penuh pesan positif.

Lewat musik, anak-anak diajak untuk percaya diri, berani bersuara, dan terinspirasi menjadi agent of change bagi lingkungannya.

Poto Sesi Suara & Karya dari kiri - kanan : Gie Sanjaya (kurator),Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, Ph.D (anggota Board Advisor KBI), Yeni Ratna, Ph.D (peneliti Dharmaila Center), dan Ida Ahdiah (penulis Cahaya Menjadi Jutawan) (poto dokumentasi pribadi M Lidinia Husni)

Sesi “Suara & Karya”: Cerita sebagai Ruang Aman

Sorotan utama datang dari dialog “Gelar Wicara Kids Biennale 2025: Kekuatan Cerita sebagai Ruang Aman” yang digelar Minggu, 13 Juli di Galeri Nasional. Sesi ini menghadirkan Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, Ph.D (anggota Board Advisor KBI), Yeni Ratna, Ph.D (peneliti Dharmaila Center), dan Ida Ahdiah (penulis buku Cahaya Menjadi Jutawan), dipandu oleh Gie Sanjaya.

Prof. Maila menegaskan buku adalah laboratorium emosi paling terjangkau. Cerita membantu anak menjelajahi rasa takut, melatih keberanian, dan belajar empati tanpa risiko nyata. Ia memperkenalkan metode mindful reading dengan teknik pernapasan 4-1-4 (tarik napas 4 detik, tahan 1 detik, hembuskan 4 detik) agar anak lebih fokus dan rileks saat menyimak cerita.

Ida Ahdiah berbagi pandangan bahwa menulis cerita adalah sarana menghadirkan nilai positif untuk anak tumbuh berani dan sehat. Sementara Yeni Ratna menekankan bahwa seni dan sastra adalah media katarsis—tempat anak menyalurkan beban emosional mereka.

Dialog ini menegaskan bahwa cerita, seni, dan mindful reading mampu menumbuhkan keberanian, harapan, dan kesehatan mental anak sejak dini.

Gie Sanjaya (Direktur KidsBiennale Indonesia dan Prof. Maila (Salah satu dewan pembina KidsBiennale Indonesia)

Ruang Aman untuk Generasi Masa Depan

Kids Biennale Indonesia bukan hanya pameran seni, melainkan gerakan sosial. Dengan filosofi Cipta, Rasa, Karsa ala Ki Hajar Dewantara, kegiatan ini menegaskan seni sebagai sarana pendidikan karakter.

“Dengan keberanian, kreativitas, dan solidaritas, kita bisa menciptakan dunia di mana anak-anak tumbuh tanpa rasa takut,” tutup Gie Sanjaya .