Konten dari Pengguna

Membawa Seni ke Ruang Publik Jakarta

M Lidinia Husni

M Lidinia Husni

Pengajar art ,craft dan fashion. Pendiri Satudivisi Creative House dan Bluwerks Upcycle Studio.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Lidinia Husni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta kembali mendapat suntikan segar dalam dunia kreatif dengan hadirnya LQID Indonesia, cabang dari LQID Creative Marketing Agency dari Jepang. Peresmian cabang baru ini ditandai dengan pameran duo seniman, Popomangun (Indonesia) dan Low Moromi (Jepang), bertajuk Dentuman Nada atau Organic Rhythm yang digelar di LQID Creative Space pada 17 Agustus 2025, dikurasi oleh Gie Sanjaya.

Poto di pembukaan pameran Dentuman Nada (Poto dokumentasi pribadi M Lidinia Husni)
zoom-in-whitePerbesar
Poto di pembukaan pameran Dentuman Nada (Poto dokumentasi pribadi M Lidinia Husni)

Seni Bukan Hanya di Galeri

LQID hadir dengan visi besar: “Art should be accessible, not only in the gallery.”

Pesan ini disampaikan oleh Wilbert Deil, perwakilan LQID Indonesia, yang menegaskan bahwa seni tidak boleh hanya terkurung di ruang eksklusif, melainkan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

“Jakarta bisa kita ubah menjadi kanvas seni,” ujarnya. “Instalasi seni seharusnya ada di mana-mana—mulai dari mural di dinding gedung perkantoran, stasiun kereta, hingga karya seni di pinggir jalan.”

Misi ini berangkat dari keyakinan bahwa seni mampu menghadirkan energi positif: membuat ruang publik lebih hidup, menebar keceriaan, dan mengubah suasana yang semula kaku atau menakutkan menjadi menyenangkan.

Karya Seni Popomangun x Low Moromi ( Poto dokumentasi pribadi M Lidinia Husni)

Kolaborasi Indonesia–Jepang

Momentum pembukaan LQID Indonesia bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-80, menjadikannya kado istimewa bagi dunia seni tanah air. Untuk menandai peristiwa ini, LQID menggandeng dua seniman lintas budaya:

• Low Moromi, dengan karya bernuansa spiritual yang menampilkan estetika Jepang yang tenang dan meditatif.

• Popomangun, yang membawa semangat tropis Indonesia melalui simbol, pola, dan bahasa visual khas Nusantara.

Pameran Dentuman Nada atau Organic Rhythm menjadi wadah pertemuan dua kultur berbeda namun berpadu dalam harmoni—antara bentuk dan makna, antara visual dan spiritual, serta keindahan yang lahir dari tubuh, ritual, dan pengalaman.

LQID Creative Space di Sudirman 7.8 (Poto dokumentasi pribadi M Lidinia Husni)

LQID Creative Space di Tengah Sudirman

Lebih dari sekadar galeri, LQID Creative Space hadir di jantung kawasan Sudirman—pusat bisnis paling sibuk di Jakarta. Ruang ini menjadi tempat di mana karya seni bisa dinikmati secara langsung oleh masyarakat urban, termasuk para pekerja yang pulang kantor.

Alih-alih hanya berada di balik dinding museum atau galeri, seni kini hadir tepat di depan mata, memberi jeda segar setelah rutinitas sehari penuh.

Dengan hadirnya LQID Indonesia, harapannya Jakarta bisa semakin kaya dengan sentuhan kreatif di ruang publik. Visi mereka sederhana namun kuat: menjadikan seni bagian dari keseharian masyarakat.

Dari gedung perkantoran hingga stasiun, dari jalanan hingga ruang komunitas, LQID ingin menghadirkan karya seni yang bisa dinikmati semua orang, tanpa batas.

“Tidak ada dominasi, tidak ada ruang yang harus dikendalikan. Seni hanya perlu diberi kesempatan untuk bernapas,” demikian pesan tertulis dari kurator Gie Sanjaya yang mengiringi pembukaan pameran ini.