Menganyam Identitas: Warisan, Komunitas, Dunia Baru, dan Legacy

Pengajar art ,craft dan fashion. Pendiri Satudivisi Creative House dan Bluwerks Upcycle Studio.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari M Lidinia Husni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah hiruk-pikuk kota, pada 31 Juli – 1 Agustus 2025 ruang ballroom Dharmawangsa Hotel disulap menjadi semesta perenungan akan makna “identitas.” Instalasi bertajuk Kawan Nusantara: IDENTITAS – An Exploration Into the Layers of Identity merupakan hasil kolaborasi kreatif antara Tulola Jewelry, Garden of Solo by Didit Hediprasetyo, sutradara Garin Nugroho, dan arsitek Trianzani Sulshi dari Studio Aliri. Lebih dari sekadar pameran visual, instalasi ini juga menjadi pengalaman emosional—mengajak kita menyelami kembali siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan warisan apa yang ingin kita teruskan.
Instalasi ini dibagi menjadi empat chapter visual yang berlapis makna:
Chapter 1: Warisan
Menggambarkan akar yang diwariskan tanpa pilihan—DNA, agama, budaya, tanah, dan keluarga. Simbolisasi akar bunga lotus dituangkan ke dalam karya perhiasan logam yang disusun indah pada manekin, merepresentasikan penerimaan diri atas warisan hidup.
Chapter 2: Komunitas
Di fase ini, identitas mulai bertumbuh melalui jejaring hubungan. Instalasi berbentuk anyaman logam mencitrakan keterikatan antar manusia—cinta, solidaritas, dan interkoneksi yang tak kasat mata namun kuat dirasa.
Chapter 3 : Dunia Baru
Terinspirasi kutipan Pramoedya Ananta Toer: “Aku ingin menjadi manusia bebas.” Tahapan menjadi ini adalah ekspresi jati diri yang utuh, di mana seseorang mulai berani menyuarakan nilai dan mimpi dalam bentuk paling autentik.
Chapter 4: Legacy
Bab penutup yang merefleksikan warisan karya, tindakan, dan nilai yang melampaui waktu. Menggunakan batu kristal mentah dan amethyst Brasil yang dibalut logam tempa, karya ini mencitrakan kekuatan yang abadi dan relevan bahkan setelah penciptanya tiada.
Di Balik Instalasi
Semua detail dirancang dengan penuh pertimbangan. Ruang berdinding anyaman nuansa biru menjadi metafora keterikatan budaya Indonesia. Setiap simpul mengikat masa lalu dan masa depan. Perhiasan Tulola yang digunakan juga bukan sekadar aksesori; ia adalah narasi yang menjembatani modernitas dan kearifan lokal.
“Kami percaya bahwa desain bukan hanya bentuk, tapi juga ingatan, pernyataan, dan suara,” tim VIRO, kolaborator instalasi.
Tak hanya memanjakan visual, instalasi ini juga menjadi ruang refleksi dan pemberdayaan. Dalam sesi diskusi “Perempuan Berkarya”, hadir sosok inspiratif seperti Happy Salma, Sri Luce Rusna, Trianzani Sulshi, Emma Sri Martini (Direktur Keuangan PT Pertamina), dan Johan dari VIRO. Mereka menegaskan bahwa budaya harus menjadi bagian utuh dari hidup, bukan hanya simbol perayaan.
“Jika budaya masih kita rayakan, artinya ia belum menjadi bagian dari kita.” ujar Happy Salma di saat sesi diskusi.
Tulola Studio juga menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan di akar rumput. Melalui karya dan warisan budaya, perempuan Indonesia bisa berkarya dan mandiri tanpa harus meninggalkan tanah air.
Pameran IDENTITAS adalah ajakan untuk menyelami, menerima, dan merayakan siapa diri kita. Sebuah ajakan untuk terus menganyam—diri, sejarah, dan masa depan—agar tak hanya menjadi manusia, tetapi manusia yang mengerti makna menjadi.
Artikel ini ditulis berdasarkan kunjungan langsung
