Rumah Makan Indonesia di Beijing yang Bangkit di Tengah Pandemi

Jurnalis China Media Group (CMG) Departemen Bahasa Indonesia
Tulisan dari Liliana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kalau di Indonesia kita sering mendapati rumah makan Chinese food, bagaimana dengan rumah makan Indonesia di luar negeri? Tentu saja ada, namun tak begitu banyak bahkan mungkin jarang. Sebuah rumah makan Indonesia sederhana dan satu-satunya yang terletak di tengah kota Beijing, “Nom Nom” menyajikan berbagai masakan dan makanan Indonesia bagi semua pecinta makanan Indonesia di Beijing.

Pemilik rumah makan itu adalah Anisah R yang berasal dari Jakarta, besar di Surabaya. Anisah pertama kali datang ke Beijing pada tahun 2011, dibantu oleh ibunya yang memiliki pengalaman usaha restoran di Indonesia selama 20 tahun, Anisah, ibu dan suaminya mulai membuka rumah makan Nom Nom pada tahun 2014 di daerah Distrik Haidian (Tsinghua East Road) Beijing yang lokasinya dekat dengan area universitas.
Awalnya Anisah berpikir tak banyak orang yang mengenal makanan Indonesia, dan perbedaan rasanya yang cukup jauh dengan makanan Tiongkok, akan menyebabkan jarangnya orang Tiongkok yang mau makan makanan Indonesia di rumah makannya. Namun ternyata di samping banyaknya pelajar Indonesia di Beijing yang membeli makanannya, perlahan-lahan mulai banyak masyarakat Tiongkok yang bisa menerima dan menikmati makanan Indonesia dan suka dengan cita rasa Indonesia. Anisah mengatakan, makanan yang paling disambut oleh masyarakat Tiongkok adalah Rendang Sapi.
Bagi para pelajar Indonesia dan perantauan Indonesia di Beijing, Nom Nom sangat membantu mengobati kerinduan mereka terhadap makanan Indonesia. Sehingga kini, Nom Nom telah menjadi sebuah rumah makan Indonesia yang terkenal di antara pelajar-pelajar Indonesia di Beijing.
Namun seiring dengan merebaknya Covid-19, usaha makanan dan minuman di Tiongkok sempat menurun bahkan tutup sementara karena tidak diijinkan makan di tempat, begitu pula dengan usaha Nom Nom. Apalagi sekarang banyak pelajar Indonesia yang tidak dapat kembali ke Tiongkok karena pandemi, penghasilan pun ikut menurun.
Untuk tetap bertahan, Anisah tetap melanjutkan usahanya dengan menambah menu, menerima pesanan katering untuk event dan pengiriman ke luar daerah. Pada awal membuka rumah makan, menu yang disajikan Nom Nom hanya 4 macam, yaitu Ayam Kremes, Ayam Geprek, Rendang Sapi dan Ayam Sambel Padang, sekarang Anisah menambahkan menu-menu lainnya untuk mendongkrak usahanya seperti ayam sambal rujak, gulai, sambal hati kentang, sambal cumi, sate, siomay, pempek, kue lapis, bolu pandan, nastar, es dawet dan lain sebagainya yang juga dapat dikirim ke luar daerah. Kini menu Nom Nom semakin beraneka ragam.
Anisah bercerita, membuka bisnis di Tiongkok tidaklah mudah, banyak prosedur ketat yang harus dilakukan dan ditaati. Terlebih di masa-masa pandemi saat ini. Pihak Tiongkok yang bertugas setiap harinya akan memeriksa kebersihan lingkungan dan dapur. Pengkategorian wastafel dapur, pemilahan sampah, fire safety dan keamanan setiap rumah makan harus dijaga ketat sesuai peraturan. Jika tidak memenuhi prosedur akan dikenakan denda. Dan untuk produk bahan makanan impor akan diperiksa sertifikat tes Covidnya.
Selain itu, bagi para pengusaha dan karyawan UMKM, diwajibkan melakukan vaksinasi, setelah melakukan vaksinasi, keterangan yang menyatakan telah menyelesaikan vaksinasi akan ditempel di tempat usaha, sehingga pelanggan dapat melihatnya dan lebih merasa aman. Setiap bulan petugas pemeriksa akan datang untuk memeriksa ada tidaknya penambahan karyawan baru, lokasi tempat tinggal karyawan dan keadaan vaksinasi karyawan baru.
Di jaman yang serba berteknologi ini, kini berbagai aplikasi pemesanan makanan online Tiongkok seperti Meituan, Eleme yang sejenis dengan GoFood dan GrabFood Indonesia telah ramai digunakan, mempemudah para pembeli untuk memesan makanan secara online. Selain itu, pemesanan makanan dengan memindai kode QR yang tersedia di meja makan (e-menu) juga menjadi salah satu cara yang praktis untuk memesan makanan tanpa menunggu pelayan datang. Sedangkan pembayaran secara online dengan ponsel tetap menjadi pilihan utama para konsumen di Tiongkok.
Pewarta : Liliana
Sumber Foto : Liliana
