Mengapa Para Atlet Menggigit Medali Emas Mereka?

Membicarakan seputar trik dan tips kehidupan.
Tulisan dari LifeHack tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah gegap gempita suatu perlombaan pasti banyak foto yang tersebar. Foto-foto suasana pertandingan, penonton, bahkan foto para pemenang.
Berbicara mengenai foto para pemenang, apa kamu pernah memperhatikan jika kebanyakan para atlet berpose sambil menggigit medalinya? Pernahkah kamu bertanya apa alasan di balik para atlet berpose seperti itu?
Kegiatan menggigit medali biasa dilakukan oleh para atlet yang memenangi suatu pertandingan. Para jurnalis foto pun senang mengabadikan momen simbolik tersebut. Ibaratnya, euforia kemenangan para atlet kurang terasa lengkap jika tidak ada pose itu yang tertangkap kamera.
Seperti kata Wllechinsky, penulis The Complete Book of the Olympics, fotografer melihat momen menggigit medali merupakan sesuatu yang khas dan menjual. Jadi bisa saja kegiatan menggigit medali bukan semata-mata keinginan sang atlet, melainkan atas permintaan sang fotografer.
Walaupun para atlet tampaknya mengikuti permintaan fotografer untuk bergaya menggigit medali, tapi tak dapat dimungkiri seiring berjalannya waktu, menggigit medali sudah menjadi suatu hal yang banyak dilakukan oleh para atlet di podium. Terlepas dari adanya kamera yang menyorot mereka atau tidak. Itu sudah seperti refleks yang dilakukan mereka.
Refleks tersebut bisa sebagai perwujudan rasa haru dan syukur yang mereka rasakan. Pelampiasan kebahagiaan yang tercipta selain lewat senyum yang terpancar dan juga sebagai bukti bahwa medali itu bukanlah cokelat yang bisa dimakan.
Tapi, momen gigit medali bukan hanya sekadar untuk kebutuhan pose ciamik di foto dan momen simbolik penyalur rasa bahagia saja. Ada sejarah di balik kegiatan itu. Sejarah yang kemudian tetap dilakukan hingga menjadi sebuah tradisi dan kebiasaan.

Penyerahan Medali Emas kepada Lindswell Kwok, Senin (20/8/2018). (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Tidak ada yang tahu dengan pasti kapan kebiasaan itu berawal. Namun, dilansir The Washington Post, kegiatan itu awalnya merupakan sebuah ajang pembuktian, apakah medali yang mereka gigit emas asli atau bukan.
Emas asli dan emas palsu -- atau biasa kita sebut pirit -- dapat diketahui lewat gigitan. Begini penjelasannya.
Mengacu pada skala kekerasan mineral mohs, gigi manusia lebih keras dibandingkan emas asli, namun lebih lunak jika dibandingkan dengan pirit. Ketika kita menggigit medali dari emas asli, maka akan tersisa bekas gigitan pada medalinya. Sebaliknya, jika kita menggigit medali yang terbuat dari emas palsu atau pirit, tidak akan ada bekas gigitan yang tersisa. Bahkan, mengigit pirit terlalu keras dapat merusak gigi.
Namun, itu merupakan tujuan pembuktian yang dilakukan sebelum 1992. Karena sejak 1992, medali olimpiade tidak pernah dibuat dari emas murni lagi.
Saat ini, berapa banyak emas yang terkandung dalam medali tergantung pada masing-masing penyelenggara lomba. Contohnya pada Olimpiade Rio, medali emasnya hanya mengandung 1,2% emas dan sisanya merupakan campuran dari silver sebanyak 93% dan tembaga 6%.
Jadi tidak mengherankan jika sejak 1992 kegiatan menggigit medali hanya diperuntukkan untuk sesi dokumentasi saja. Karena tidak ada medali yang benar-benar mengandung emas 24 karat saat ini.
