Tidur Kurang dari 4 Jam, Apa Dampaknya bagi Kesehatan?
Tulisan dari LifeHack tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dilansir Bustle, para peneliti di University of Western Ontario merilis hasil awal dari studi terbaru mereka di SLEEP, sebuah jurnal internasional yang diterbitkan oleh Sleep Research Society, organisasi yang berusaha untuk memajukan pemahaman tentang tidur dan ritme sirkadian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui durasi waktu istirahat yang layak dan dosis istirahat yang sempurna bagi otak agar dapat berfungsi secara maksimal.
Sekitar 40.000 orang berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasilnya, ahli saraf dari Brain and Mind Institute menyimpulkan bahwa orang-orang yang memiliki rentang waktu tidur rata-rata antara tujuh hingga delapan jam per malam memiliki kinerja lebih baik secara kognitif dibandingkan mereka yang kurang tidur, atau yang melebihi durasi ini.
Penelitian ini dilakukan secara online kepada peserta melalui kuesioner mendalam dan serangkaian kegiatan kinerja kognitif yang menanyakan perihal usia, tempat tinggal, status sedang menjalani pengobatan, dan gambaran singkat tentang latar belakang peserta. Peneliti ingin memperoleh pandangan yang lebih luas terhadap kebiasaan tidur di "dunia nyata" dibandingkan dengan di laboratorium.
Hasilnya, diketahui bahwa separuh dari total peserta melaporkan kebiasaan tidur kurang dari 6,3 jam per malam, bahkan beberapa di antaranya hanya tidur selama empat jam atau kurang. Hal ini merupakan sebuah penemuan yang mengejutkan.
Studi ini juga menemukan bahwa tidur berlebihan sama berbahayanya dengan kurang tidur. Tidur berlebihan, istilah lainnya hypersomnia, merupakan sebuah kebalikan dari insomnia dan merupakan susunan gejala yang serupa, seperti pusing dan kesulitan berkonsentrasi.

Penalaran dan kemampuan verbal penderita adalah aspek yang paling terkena dampak dari kurang tidur, sedangkan kinerja memori jangka pendek penderita relatif tidak terpengaruh. Menurut The Sleep Doctor, kurang tidur juga dapat mengganggu hormon-hormon tertentu di otak, seperti serotonin, dopamin, dan kortisol yang memengaruhi pikiran, suasana hati, dan energi.
Para peneliti juga menyimpulkan, durasi waktu tidur yang berhubungan dengan perilaku kognitif yang sangat fungsional dapat terjadi pada semua orang, tanpa memandang usia. Menurut Healthline, studi ilmiah terbaru menunjukkan bahwa kurang tidur menyebabkan banyak perubahan signifikan terhadap tubuh, yang tak hanya memengaruhi fungsi otak, tetapi juga dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan serius, seperti obesitas, penyakit, dan bahkan kematian dini.

