Konten dari Pengguna

Art Fest SMA Darma Yudha 2026 dan Tamparan Bagi Budaya Privilese

Likon Lubis

Likon Lubis

Guru Pendidikan Pancasila di SMA Darma Yudha Pekanbaru

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Likon Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah riuk-pikuk bangsa yang lelah melihat aturan kerap melunak bagi mereka yang memiliki jabatan dan pengaruh, ketegasan justru lahir dari tempat yang tak terduga. Pada ajang Art Fest SMA Darma Yudha 2026, puluhan kru murid berdiri tegap menolak segala bentuk privilese. Siapa pun yang melintas di pintu pemeriksaan, mulai dari sesama kawan hingga guru dan kru profesional, wajib tunduk pada aturan yang sama tanpa terkecuali.

Art Fest SMA Darma Yudha, Pekanbaru.(05/09/2026) Foto:Dokumentasi Sekolah Darma Yudha
zoom-in-whitePerbesar
Art Fest SMA Darma Yudha, Pekanbaru.(05/09/2026) Foto:Dokumentasi Sekolah Darma Yudha

Peristiwa ini terekam jelas dalam ajang Art Fest SMA Darma Yudha 2026 yang menghadirkan musisi papan atas Idgitaf. Sejak garis awal persiapan, tim pelaksana telah merancang dan memberlakukan prosedur keamanan yang ketat demi menjaga kelancaran serta kenyamanan bersama. Aturan dibuat secara rinci rokok tidak diperbolehkan masuk dan seluruh minuman dalam botol kemasan harus dituangkan ke wadah yang telah disediakan oleh panitia penyelenggara.

Pemandangan di zona pemeriksaan tiket menjadi sangat menarik ketika realitas di lapangan diuji. Saat beberapa guru, orang tua penonton, bahkan kru produksi artis kedapatan membawa barang yang tidak sesuai dengan regulasi, para kru murid tidak runtuh oleh rasa sungkan. Tanpa keraguan namun tetap dengan mengedepankan kesopanan dan bahasa tubuh yang santun, mereka mengarahkan semua orang tanpa terkecuali untuk mematuhi aturan yang sama. Tidak ada jalur khusus, tidak ada celah kompromi, dan tidak ada privilese status sosial.

Fenomena sederhana di pintu masuk Art Fest SMA Darma Yudha 2026 ini sejatinya menyentuh salah satu fondasi terpenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu prinsip kesetaraan di hadapan hukum.

Budaya Privilese dan Problem Bangsa

Di tingkat makro kehidupan bernegara, publik sering kali disuguhi ironi penegakan hukum yang kerap diilustrasikan dengan ungkapan tajam ke bawah tumpul ke atas. Budaya rasa sungkan berlebihan, relasi kuasa, serta penghormatan yang salah tempat terhadap status sosial sering kali menjadi alasan pembenar untuk melompati pagar aturan. Aturan yang seharusnya mengikat semua warga negara kerap melunak ketika berhadapan dengan figur berkuasa, pejabat, atau senior. Budaya memaklumi privilese inilah yang secara perlahan mengikis rasa keadilan sosial dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum.

Ketika masyarakat mulai terbiasa melihat aturan bisa ditawar oleh mereka yang memiliki pengaruh, maka nilai Pancasila khususnya Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia hanya akan berakhir menjadi jargon akademis di ruang kelas.

Sikap yang ditunjukkan oleh para panitia muda dalam Art Fest SMA Darma Yudha 2026 menghadirkan angin segar. Apa yang mereka lakukan di pintu masuk acara adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap budaya privilese tersebut. Ketika seorang remaja berani berdiri tegak menghadapi orang yang lebih tua, guru yang mengajarnya, atau figur otoritas lainnya demi mempertahankan prosedur yang telah disepakati bersama, ia sedang mempraktikkan esensi tertinggi dari pendidikan Pancasila. Mereka membuktikan bahwa aturan tidak diciptakan untuk menindas atau melayani kelompok tertentu melainkan untuk menjaga keselamatan, ketertiban, dan keadilan bersama.

Ekosistem Pendidikan yang Memerdekakan

Keberanian dan integritas para kader muda ini tentu tidak lahir begitu saja di ruang hampa. Kepatuhan pada prinsip tanpa pandang bulu ini menandakan adanya ekosistem sekolah dan sistem pendampingan OSIS yang sehat, matang, dan inklusif. SMA Darma Yudha berhasil membangun ruang belajar yang memberi kepercayaan penuh kepada para muridnya untuk memegang kendali kepemimpinan secara mandiri.

Pendidikan kewarganegaraan yang efektif tidak cukup hanya berfokus pada hafalan pasal dalam konstitusi atau sejarah perumusan dasar negara. Pendidikan yang berdampak adalah pendidikan yang memberikan ruang eksperimentasi sosial nyata bagi peserta didik. Melalui kepanitiaan acara seperti Art Fest SMA Darma Yudha 2026, murid diajarkan bagaimana mengelola konflik, mengambil keputusan di bawah tekanan, serta menguji keteguhan moral mereka saat dihadapkan pada situasi dilematis.

Ketika pihak sekolah dan para guru memberikan dukungan penuh pada ketegasan murid bahkan saat mereka sendiri yang menjadi subjek pemeriksaan, sekolah telah menunjukkan keteladanan yang otentik. Guru dan manajemen sekolah bersedia melepaskan jubah otoritasnya di pintu masuk demi menghormati sistem yang telah disepakati. Ini adalah contoh nyata sinergi antara kepemimpinan murid dan kerendahan hati orang dewasa.

Modal Sosial Masa Depan Indonesia

Art Fest SMA Darma Yudha 2026 mungkin telah usai, panggung telah dibongkar, dan riuh tepuk tangan penonton telah mereda. Namun implikasi dari pengalaman tersebut akan membekas panjang dalam sanubari para murid yang terlibat. Sikap mental integritas, konsistensi, dan keberanian menegakkan keadilan tanpa pandang bulu adalah modal sosial yang sangat mahal dan krusial bagi masa depan bangsa Indonesia.

Bangsa ini tidak pernah kekurangan orang pintar tetapi bangsa ini selalu merindukan individu yang memiliki integritas teguh dan keberanian untuk bertindak adil sejak dari pikiran hingga perbuatan. Jika sejak usia sekolah generasi muda sudah dibiasakan untuk menghargai aturan dan menolak segala bentuk privilese yang merusak keadilan, kita pantas menaruh harapan besar pada masa depan penegakan hukum dan demokrasi di negeri ini.

Dari pintu masuk sebuah konser sekolah, kita belajar bahwa penegakan Pancasila tidak selalu membutuhkan panggung mimbar yang megah. Kadang kala Pancasila hadir dan hidup dalam ketegasan seorang murid yang dengan sopan berkata "Maaf Pak, Bu, aturan ini berlaku untuk kita semua."